
Di hotel yang sama tapi kamar yang berbeda, Jenna dengan senyum yang tak lepas dari bibir menuntun pria tua yang sejak tadi tidak mau lepas darinya.
"Sebaiknya, Om bersih-bersih dulu, biar fresh," ujar Jenna diikuti kerlingan manja di akhir kalimat.
Pria tua itu begitu terpesona pada wajah cantik Jenna. Pun dengan suara Jenna yang punya aksen seperti bule, menambah kesan seksi di pendengaran pria tua itu.
Sesaat setelah pria tua itu masuk ke kamar mandi. Jenna berasa muak harus bersikap manis pada hidung belang seperti pria bernama Hartanto ini.
Kalau bukan karena paksaan, ia tidak akan pernah mau melakukan pekerjaan hina dan kotor ini. Ya ... semua ia lakuan karena dipaksa.
Namun ia tidak bisa lari. Ia punya alasan kenapa ia tetap bertahan meski semua di luar keinginannya.
Ah ... sudahlah, sekarang yang harus ia lakukan adalah menaklukkan pria tua bernama Hartanto ini.
Jenna berjalan menghampiri minuman yang tersedia di atas meja. Ia menuangkannya pada dua gelas piala. Lalu menatapnya sebentar sebelum ia mengambil sesuatu dari dalam sepatu heelsnya.
Serbuk putih yang ia bawa sebelum ia bertemu dengan Hartanto. Serbuk yang ia harapkan bisa menyelamatkannya dari pria menjijikkan seperti tua bangka ini.
Tanpa ragu Jenna menuang serbuk itu lalu menggoyangkan gelasnya agar serbuk itu larut. Bahkan untuk membuat serbuk itu tak terlihat, Jenna mengaduknya dengan jari.
"Ih ...." Jenna merasa jijik sendiri setelah mengeluarkan jarinya dari dalam gelas. Ia mengambil tisu untuk mengelapnya.
"Aku sudah siap," ujar Hartanto yang keluar dari kamar mandi.
Buru-buru Jenna memasang kembali senyum di wajahnya. Ia angkat gelas itu dan bergumam, "Bekerjalah dengan baik."
Senyum di wajah Jenna langsung pudar melihat penampakan Hartanto yang hanya menggunakan handuk di pinggang. Alih-alih terkesan seksi nan menggoda, tapi justru membuat Jenna ingin muntah. Perut buncitnya membuat Jenna ilfeel.
"Kenapa?" tanya Hartanto yang menyadari perubahan senyum Jenna.
"Eh ... tidak, tidak ada apa-apa," elak Jenna.
__ADS_1
Terpaksa ia kembali memasang senyum manis di bibirnya sambil berjalan menghampiri Hartanto. Dua gelas sudah ada di tangannya. Satu ia ulurkan pada pria tua tidak tahu diri ini.
"Biar Om makin bertenaga," ujar Jenna menggoda.
Tanpa curiga, Hartanto menenggak habis air dalam gelas. Pria itu bahkan mengusap mulutnya kasar sebelum menyerahkan kembali gelas itu pada Jenna.
Sudah tidak sabar, Hartanto ingin segera menyerang Jenna tapi ditahan dengan halus oleh wanita itu. "Eits ... tunggu dulu, Om. Giliran aku bersih-bersih dulu. Aku kan baru aja perjalanan jauh, takutnya membawa virus dan kotoran. Bagaimanapun kita harus menjaga kebersihan, bukan?"
"Tidak apa-apa, aku yakin kamu bersih. Badan kamu aja masih tercium wanginya."
"Tapi aku ingin memberikan yang terbaik buat Om, jadi tunggu sebentar ya. Cuma lima belas menit," bujuk Jenna.
Awalnya terlihat Hartanto tidak ikhlas, tapi karena Jenna merayu dibiarkan juga wanita itu untuk masuk ke kamar mandi.
"Sebentar, ya, Om." Jenna meletakkan dua gelas yang tadi ia pegang lalu masuk ke kamar mandi.
Hartanto diminta Jenna untuk menunggu di atas ranjang.
Di dalam kamar mandi, Jenna hanya mondar-mandir menunggu waktu lima belas menitnya berakhir. Karena saat itu ia akan keluar dan memastikan semua rencananya berhasil.
Begitu jam menunjuk angka lima belas menit yang ia tunggu, Jenna bergegas keluar. Ia langsung memastikan jika si tua bangka Hartanto sudah benar-benar tak sadarkan diri. Jenna mengguncang tubuh pria itu dan tidak ada pergerakan sama sekali.
Yakin jika Hartanto sudah hilang kesadaran, Jenna segera angkat kaki dari kamar hotel. Di tempat parkir sudah ada seseorang yang menunggunya.
"Terima kasih sudah membantuku," ujar Jenna pada pria yang kemarin menolak dirinya.
Devon segera melajukan mobilnya, menjauh dari hotel. "Mau ke mana kita?"
"Terserah, aku hanya ingin pergi." Jenna terlihat tersenyum bahagia. Kenapa baru sekarang semua ini dilakukannya.
Sepanjang jalan, Devon selalu mencuri pandang. Melihat senyum Jenna yang tak pernah ia lihat sejak mengenal gadis itu.
__ADS_1
Ia menepikan mobilnya di sebuah alun-alun. "Mau turun?" tanya Devon.
"Tidak, aku mau di sini saja," jawab Jenna.
Awalnya mereka berdua hanya saling diam. Sesekali salah satu di antara mereka mencuri-curi pandang.
"Terima kasih," ujar Jenna lagi.
Devon menoleh menatap Jenna. "Aku yakin setelah pak Presdir tahu aku akan dipecat atau mungkin dibunuh."
"Aku akan membelamu nanti."
"Memang siapa kamu?" cibir Devon.
Jenna tersenyum licik. "Aku bukan siapa-siapa, tapi kalau kamu mau membantuku aku juga bisa membantumu."
Devon belum paham maksud Jenna. "Sebenarnya siapa kamu?"
Jenna menatap mata Devon. Melihat keingintahuan yang besar dari sorot mata pria itu. "Kalau aku bercerita apa kamu mau membantuku?"
Devon tak menjawab karena ia tidak tahu apakah akan bisa menepati janji atau tidak. Membantu Jenna dengan memberikannya obat tidur saja membuat Devon takut jika ketahuan. Apa lagi bantuan lain yang Jenna inginkan.
Meski tak menjawab, Jenna tetap bercerita. "Aku dulu tinggal di London. Aku hidup bersama ayah dan ibuku. Kami sangat bahagia sampai akhirnya ayahku mengalami kebangkrutan. Ibuku mulai sakit-sakitan dan akhirnya dia meninggal. Sebelum akhir hayatnya, ibuku mengatakan kebenaran yang sulit aku terima. Ternyata selama ini aku hanyalah anak angkat. Mereka mengadopsi aku ketika aku masih bayi."
Jenna berhenti bicara. Terlihat gurat kesedihan tergambar jelas di wajah gadis itu. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali melanjutkan untuk bicara.
"Ibuku tidak sempat menjelaskan asal usulku sebelumnya tapi dia sudah menuliskan semua dalam sebuah dokumen yang ia tinggalkan. Sialnya dokumen itu disimpan oleh bosmu. Dia adalah kawan baik ibuku. Dulu, sebelum dia membawaku kembali ke Indonesia, dia pernah berjanji akan merawatku dan menjadikan aku model seperti cita-citaku."
Kesedihan di raut wajah Jenna berganti senyum getir tak terartikan. "Aku yang tidak tahu Indonesia sebelumnya hanya patuh sesuai pesan ibuku. Katanya lewat temannya itu, aku akan menemukan keluarga kandungku. Nyatanya, sampai di sini pria tua itu hanya memanfaatkan aku demi keuntungannya. Dokumen yang berisi semua data asal usulku dia simpan dan tidak memberinya padaku. Semua agar aku terikat padanya."
Miris. Itulah perasan yang Devon rasa mendengar cerita Jenna. Ternyata gadis itu sungguh malang. Dan selama ini ia justru membantu pria tua itu untuk semakin menyulitkan hidup Jenna.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kau sudah berubah pikiran dan mau membantuku?"
Devon tak menjawab. Ia justru menatap Jenna lekat. Memperhatikan Jenna untuk membuat penilaian akan cerita yang gadis itu utarakan.