Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.42 Vidio Kekerasan


__ADS_3

Bab.42


Belum juga hilang rasa canggung semalam ketika Arsya menatapnya dan mengucapkan terima kasih. Pagi ini Arsya kembali membuat Alisha berdiri kaku karena pelukan dan kecupan di pipi sebelum pria itu meninggalkan rumah.


"Titip Mama, ya," pesan Arsya sebelum pria itu pergi.


"Y ... ya." Alisha menjadi gagap sekaligus bingung sendiri.


Ada rasa yang berbeda dalam pelukan Arsya pagi ini. Entah apa, tapi Alisha merasakan sesuatu yang menghangat di hatinya ketika pria itu memeluk dirinya.


Tak ingin terlalu lama larut dalam kebingungan yang ia rasa, Alisha lebih memilih untuk kembali ke kamar Sarah agar tahu apa yang dibutuhkan oleh ibu mertuanya itu.


Sementara Arsya langsung pergi ke kantor pengacara. Di mana ia sudah membuat janji dengan Hotman.


Meskipun hubungan dengan papanya tidak sebaik hubungan ayah dan anak pada umumnya, tetapi rasa peduli Arsya tak bisa hilang begitu saja. Terlebih kalau harus mengingat kondisi mamanya saat ini. Sebagai anak, ia merasa punya kewajiban berbakti pada kedua orang tua.


Setelah semalam mendapatkan informasi dari Anton, kini Arsya berusaha menemui pengacara papanya. Dari cerita yang Hotman katakan, tidak jauh berbeda dengan apa yang semalam ajudan papanya ceritakan.


Arsya memilih menurut saja, toh ia tidak ingin terlalu ikut campur di dunia yang sangat ia benci. Ia serahkan semua pada Hotman dan juga Anton. Ia hanya harus fokus pada kesehatan mamanya saja dan juga Alisha.


"Aku sudah mengabarkan berita tentang Ibu Sarah pada Pak Surya setelah mendengar berita dari Anton semalam. Hari ini aku akan menemui beliau lagi, apa kamu ada pesan untuk Pak Surya?"


Arsya menggeleng. "Aku akan membawa mama juga Alisha ke vila. Mungkin di sana mama akan lebih tenang dan akan membaik kondisinya."


Sebagai pengacara yang sudah lama mengenal Arsya, Hotman mengangguk. Tanpa mengatakan apa maksud Arsya berbicara seperti itu, Hotman tahu jika ucapan pemuda itu adalah untuk diteruskan pada kliennya.


Arsya pun segera pamit untuk mempersiapkan kepergiannya ke vila bersama mama dan juga Alisha. Ia menelepon dokter Wicak lebih dulu untuk bertanya apakah aman membawa mamanya pergi sekarang ini. Mendapat jawaban memuaskan yang berarti ijin, Arsya langsung menghubungi Alisha agar mempersiapkan pakaian mamanya untuk dibawa ke vila.


Tak lupa ia memberitahu Anton agar membawa Alisha juga mamanya untuk berangkat lebih dulu. Arsya masih punya banyak urusan untuk ia selesaikan hari ini. Ia akan menyusul nanti.

__ADS_1


Setelahnya ia harus ke kantor Jimmy untuk mengabari manajer tersebut jika dirinya ingin cuti dan mengurus mamanya lebih dulu. Juga meminta bantuan agar Jimmy mengatur semua kontrak kerja yang sudah ia tanda tangani. Jika ada yang bisa ditunda ia ingin menundanya dulu. Setidaknya sampai kondisi mamanya membaik.


"Ke mana kita, Mas Arsya?" tanya supir bernama Tardi. Hari ini Arsya memang memilih menggunakan supir karena banyak urusan yang harus ia selesaikan dalam sehari.


"Ke kantor Jimmy, Pak."


Tardi mengangguk mengerti. Ia sudah hapal di mana alamat yang Arsya maksud.


Tardi baru saja menyalakan mesin mobil ketika Arsya menerima telepon dari Jimmy.


"Buka pesan dari gue!" teriak Jimmy di sana saat Arsya baru mengangkat panggilan pria itu.


"Ada apa?" Tentu saja Arsya bingung dengan ucapan Jimmy yang penuh perintah.


"Nggak usah banyak tanya, lo buka aja pesen dari gue!" Lalu buru-buru Jimmy mematikan sambungan teleponnya.


Gegas, Arsya menuruti kata Jimmy. Ia membuka pesan dari manajer itu, juga membuka link yang dikirimkannya.


Geram!


Arsya mengepalkan tangannya, raut wajah berubah merah padam. "Nggak jadi ke kantor Jimmy, Pak. Kita putar arah!" ujar Arsya memerintah. Ia pun menyebutkan alamat salah satu apartemen elite.


"Bisa lebih cepet nggak, Pak!" Arsya seakan tak sabar ingin segera sampai dan menuntaskan masalahnya. Cara mengemudi Tardi yang sebelumnya baik-baik saja kini menjadi salah ketika Arsya dirundung marah.


"Cepetan dikit dong, Pak!"


"I ... iya, Mas Arsya," jawab Tardi takut. Apalagi setelah melihat raut wajah Arsya dari spion tengah. Tetapi jujur, ia pun tak berani menambah kecepatan mengingat padatnya jalanan saat ini. Tardi hanya mengiyakan tapi tetap mengemudi di batas aman.


Walaupun Arsya terus marah sepanjang jalan karena tak kunjung sampai, Tardi tetap diam. Hingga akhirnya sedan hitam itu tiba juga di depan gedung apartemen yang Arsya maksud.

__ADS_1


Tak sabar, Arsya berlari turun dari mobil dan berlari menuju sebuah flat yang tak asing baginya. Dengan tak sabar pula ia menekan bel secara terus menerus agar segera di bukakan pintu.


Ia yakin orang yang ia cari ada di apartemennya. Mengingat vidio yang beredar, orang tersebut pasti sedang mengurung diri di kamarnya. Menghindar dari para pencari berita yang kini memburunya.


Arsya bak orang kesetanan dalam menekan bel. Ia juga menggedor pintu saking tidak sabarnya untuk segera melihat wanita yang ada dalam vidio bersamanya.


Begitu pintu terbuka dan menampilkan wajah cantik seorang model, tanpa basa basi Arsya langsung menyerang wanita itu. Mencengkeram leher dan mendorong wanita itu masuk ke ruangan.


"Ars ...." Cinta hendak menyapa tapi tak bisa meneruskan ucapannya karena lehernya tercekik.


"Ja lang sialan! Berani main-main sama gue!" teriak Arsya di depan wajah Cinta.


"A ... a ... a." Cinta ingin menjawab tapi suaranya tak mampu keluar.


Semakin kuat Arsya mencengkeram, semakin kesulitan Cinta bernapas.


"Gue udah bilang, kan, jangan cari masalah sama gue atau gue habisin lo!"


"To ... to ...." Tangan Cinta melambai pada pria yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Hei ... apa yang kamu lakukan!" teriak seorang pria yang baru keluar dari kamar sang model. Berlari, ia menarik keras tubuh Arsya dan menjauhkannya dari Cinta.


Arsya terbanting dan belum sempat ia berdiri pria itu langsung menghajarnya tanpa ampun. Cinta sendiri terus memegangi lehernya yang begitu sakit. Begitu sadar akan apa yang dilakukan oleh teman prianya, ia segera bangkit dan mencegah pria itu terus memukuli Arsya.


"Pak, sudah, Pak!" ujar Cinta panik.


Pria itu berhenti memukul Arsya. Sebelum Cinta menariknya menjauh dari Arsya, pria itu menghadiahi Arsya tatapan tajam.


"Keluar lo, sekarang. Jangan bikin masalah yang lebih besar dari kemarin! Gue bisa penjarain lo sekarang juga kalau gue mau!" usir Cinta setelah meminta pria yang menolongnya kembali masuk ke kamar.

__ADS_1


Kendati kesal, Arsya tetap berdiri dan meninggalkan apartemen Cinta. Ia semakin marah ketika tidak bisa meluapkan emosinya pada wanita itu.


__ADS_2