Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.80 Adegan Dewasa


__ADS_3

Setelah semalam dibuat melting sama sikap Arsya yang masih berlanjut hingga ke kamar, pagi ini Alisha masih dikejutkan sama perilaku nakal Arsya di dapur.


"Mas, lepasin, malu tau!" Alisha mencoba beringsut agar terlepas dari jerat rengkuhan tangan Arsya yang sejak tadi melingkar di pinggangnya. Pria itu betah sekali berdiri di belakang tubuhnya menopang kepalanya dengan pundak Alisha.


"Nggak ada yang lihat," jawab Arsya yang tak mau beralih tempat.


"Bi Sumi!"


"Dia nyapu di depan."


"Ish ...!" Kesal, tapi tak mampu menolak.


"Minggir dulu, aku mau ambil garam." Alisha mencoba beralasan agar acara memasaknya bisa bebas. Sejak tadi suaminya itu setia menempel padanya yang sedang memasak semur daging.


Tapi dasar Arsya benar-benar sudah tak punya malu di depan Alisha, ia tak mau melepaskan. Hanya memberi ruang Alisha untuk bergerak sedikit ke arah kabinet di mana garam tersimpan.


"Mas Arsya, ih ...!"


Tidak peduli dengan rasa risih Alisha. Arsya justru semakin tertarik menggoda istrinya itu. Dibaliknya tubuh Alisha yang akan mengambil garam, lalu dipandangnya tanpa kedip.


Tatapan Arsya selalu berhasil membuat Alisha salah tingkah dan memilih untuk menghindar. "Udah, Mas Arsya sebaiknya bersiap. Nanti kesiangan, lho, ke kantornya Mas Jimmy."


Baru juga Alisha hendak kembali memutar tubuh lanjut mengambil garam. Tetapi tubuhnya tertahan oleh tangan Arsya yang memintanya untuk tetap menatap sang suami.


"Mas ...," ujar Alisha lirih.


Arsya tak menanggapi. Pria itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Memindahkan tangan yang tadi merengkuh pinggang Alisha untuk beralih menangkup kedua pipi wanita cantik di depannya.


Perasaan Alisha sudah tidak enak. Ia bisa menebak ke mana gerakan Arsya selanjutnya. "Mas, ini di dapur!"


Arsya seakan tak peduli. Persis seperti tebakan Alisha sebelumnya, dengan cepat sang suami menyambar bibirnya tiba-tiba. Ingin menolak, tapi Arsya menahannya kuat.


Semakin meronta, semakin tangan Arsya menahan, dan semakin dalam pula ciuman pria itu. Arsya tak memberi Alisha kesempatan untuk sedikit saja mengutarakan penolakan. Pria itu hanya memberinya waktu tak lebih dari sepuluh detik untuk Alisha mengambil napas.

__ADS_1


"Ma ...." Alisha baru membuka mulut untuk bicara tapi lagi-lagi dibungkam oleh Arsya.


Dan kejadian itu berakhir ketika Bi Sumi kembali dari depan dan masuk tanpa permisi. Bi Sumi yang kaget melihat dua majikannya sedang berasyik masyuk, tak sengaja menjatuhkan sapu yang ia bawa dari depan. Sontak hal itu membuat adegan dua puluh satu plus itu terhenti seketika.


"Ma ... maaf, Mas, Mbak. Bibi nggak lihat kok." Tentu saja Bi Sumi berbohong. Ia sudah sempat menyaksikan adegan panas tadi walau singkat.


Melihat Bi Sumi, sorot tajam Arsya langsung mengintimidasi. Membuat Bi Sumi paham dan segera balik badan dan pergi.


Melihat Bi Sumi yang sudah balik badan, tanpa pemberitahuan sebelumnya Arsya kembali memagut bibir Alisha. Dalam posisi tidak siap Alisha hanya mampu menerima permainan Arsya.


Baru juga sebentar, ternyata Bi Sumi kembali. Segera Alisha mendorong tubuh Arsya. Keduanya kembali menatap ke arah di mana Bi Sumi berdiri.


"Maaf, Mas, sapunya ketinggalan." Meski salah tingkah karena kembali menyaksikan adegan dewasa, secepat mungkin Bi Sumi mengambil sapu yang tadi tak sengaja ia jatuhkan, lalu buru-buru lari dari dapur.


Arsya nampaknya belum puas menikmati bibir sang istri semalam. Meskipun sudah terpergok oleh Bi Sumi tak membuatnya berhenti untuk kembali mencecap manis bibir sang istri.


Alisha yang sudah berusaha menahan tubuh Arsya agar tak mendekat masih kalah kekuatan dibandingkan pria itu. Tubuh Alisha justru terdorong mundur.


Kembali adegan dewasa itu terjadi di dapur. Awalnya aman hingga Arsya melepaskan dirinya untuk mengambil napas. Di saat pria itu hendak kembali menyatukan bibir mereka, Alisha menahan sekuat tenaga tubuh Arsya.


Arsya berhenti.


"Mas cium ada bau sesuatu, nggak?" Hidung Alisha mencoba mengendus sesuatu yang tak wajar seperti bau sate.


Arsya yang ditanya justru mengeryit bingung. Fokus pria itu hanya pada adegan dewasa yang belum ia selesaikan jadi tidak mau tahu maksud Alisha.


Semakin diendus, semakin tajam bau itu menyengat hidung. Dan ketika Alisha membalik tubuh ke arah panci di atas kompor, Alisha berteriak seketika.


"Arrgh ...."


Asap sudah mengepul dari panci tempat ia memasak daging. Segera ia matikan api kompor. Dilihatnya daging yang mulanya cantik berwarna kecokelatan karena kecap, berubah jadi hitam karena gosong.


"Mas Arysa, ini semua gara-gara Mas!" Alisha menunjuk daging hitam di panci.

__ADS_1


Arsya hanya sedikit melongok melihat hasil masakan istrinya. Tanpa ekspresi apa pun, dan tentu tak ingin dianggap sebagai biang kerok, Arsya berkata, "Aku berangkat dulu. Jimmy pasti sudah menunggu."


Tanpa rasa bersalah, pria itu pergi begitu saja meninggalkan Alisha yang menampakkan raut marah. Kini semur daging yang seharusnya bisa ia nikmati untuk sarapan tinggal cerita. Sebab harus masuk tong sampah. Padahal sudah sejak semalam ia ingin menikmati masakan itu, tapi gagal karena ulah suaminya. Sumpah, rasanya begitu sesak di dada, lebih sakit dari pada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.


"Arrgh ... Mas Arsya!" Alisha menghentakkan kaki ke lantai menahan kesal.


Arsya, sang pelaku daging gosong melenggang pergi begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Sampai di kantor Jimmy, ia langsung menemui pemilik kantor. Tidak ada basa-basi, Arsya pun marah-marah perihal pekerjaan yang kemarin pada sang manajer.


"Gila, lo, Jim. Kenapa nggak kasih tahu gue dulu kalau pemotretannya harus selesai hari itu juga. Lo pikir gue robot sampe harus kerja rodi gitu!"


Jimmy hanya nyengir menanggapi. Sudah biasa dan sudah kebal dengan suara protes Arsya.


"Untung gue profesionalitas, kalau enggak, nggak selesai semua kerjaan itu. Pokoknya ini pertama dan terakhir lo kasih gue kerjaan yang kayak gitu!"


Jimmy meletakkan ponsel yang sejak tadi ia mainkan. "Harusnya lo berterima kasih sama gue. Masih untung kerjaan itu nggak lolos. Semua karena honeymoon dadakan lo kemarin. Nggak nyadar, lo!"


"Ya ... harusnya lo tetep ngomong dulu ke gue." Arsya berkilah.


"Kalau gue ngomong dulu, yakin, lo mau?" ujar Jimmy sarkas.


Kalau harus menjawab, pasti Arsya jawab tidak mau.


"Nah ... kan, pasti nggak mau, kan?" Jimmy tabu arti diamnya Arsya.


Pembicaraan mereka terhenti beberapa saat. Hingga Jimmy kembali membuka suara.


"Nih, alasan gue kenapa lo harua kerja rodi semalam." Jimmy sedikit melempar kartu undangan ke depan Arsya.


Diraihnya kartu tersebut dan dibacanya undangan bertuliskan sebuah perusahaan yang memakai jasanya sebagai model. "Kok cepet banget?"


"Itulah alasannya kenapa kerjaan lo kemarin dipercepat. Bukan hanya lo yang kerja rodi, kalau lo mau tau. Semua tim kerja rodi supaya bisa memenuhi permintaan klien. Sebab dateline launching sudah memburu. Kemarin gue masih bisa nego soal jadwal pengambilan gambar yang tertunda karena honeymoon dadakan lo itu. Semua karena gue tau kualitas lo dalam bekerja."


Arsya sedikit memikirkan ucapan Jimmy. Permintaannya waktu itu memang tidak bisa dicegah atau ditunda. Dan Jimmy lah yang selalu dipusingkan dengan segala permintaan Arsya.

__ADS_1


"Harus datang tepat waktu, dan ingat, jangan bawa Alisha!"


Mata Arsya seketika membeliak.


__ADS_2