
Dengan napas yang ngos-ngosan, seorang pemuda berlari kehadapan Alisha sembari membawa dompet milik wanita itu.
"Alisha?" Tampak wajah kaget ketika tahu siapa pemilik dompet yang ia bawa.
"Riski?" Sama halnya dengan pemuda yang berhasil membawa kembali dompetnya, Alisha pun nampak terkejut. Sudah sekian lama tak pernah bertemu teman SMA-nya itu, kini takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang tak terduga.
"Syukurlah kalau kamu masih ingat aku," ujar pria bernama Riski dengan cengengesan. "Ini punya kamu?" Riski mengulurkan dompet yang ia ambil dari pencopet.
"Iya." Alisha mengambil dompet di tangan Riski seraya mengucapkan terima kasih.
"Coba cek dulu, ada yang hilang, nggak?"
Menuruti kata Riski, dompet pun dibuka. Dicek satu persatu apakah masih utuh isinya atau tidak. "Alhamdulillah, semua masih lengkap."
"Lain kali hati-hati, di pasar sini banyak copet."
Hanya senyum yang Alisha tunjukkan untuk menanggapi nasehat Riski.
"Ngomong-ngomong sudah selesai belanja, belum?" Riski melihat kantong kresek di tangan Alisha juga Bi Sumi.
"Sudah, ini sudah mau pulang."
"Ehm ... mau aku antar?" Sedikit malu, tapi Riski berharap tawarannya diterima Alisha. Jujur saja, sejak melihat Alisha lagi, kenangan masa lalu kembali mencuat dalam hati.
Alisha menoleh pada Bi Sumi. "Tidak usah, terima kasih. Aku dan Bi Sumi bisa naik angkot kok."
Riski melihat Bi Sumi, sedikit bertanya-tanya dalam hati tentang siapa wanita paruh baya ini. Seingatnya nama istri Pakdhenya Alisha bukan Sumi. Lalu Sumi ini siapa?
"Terima kasih sudah membantuku mendapatkan dompetku kembali, aku pulang dulu, itu angkotnya sudah datang," ujar Alisha. Menyadarkan Riski dari tanya di otaknya.
"Alisha, tunggu!" sergah Riski sebelum Alisha naik angkot. "Aku minta nomor HP-mu, nanti aku hubungi."
Alisha langsung menoleh pada Bi Sumi. Membuat Riski juga Bi Sumi sendiri bingung.
"Maaf, aku tidak bisa memberikanmu sekarang, nanti saja aku tanyakan dulu pada suamiku apakah boleh aku berikan atau tidak."
"Kamu sudah menikah?"
Alisha mengangguk.
Terlihat wajah Riski yang kontan lesu. Kecewa mendengar kenyataan jika Alisha sudah ada yang punya.
"Aku pulang dulu," pamit Alisha. Angkot sudah berjalan mendekat dan Alisha sudah melambaikan tangan untuk menyetop angkot tersebut.
"Al ...," panggil Riski sebelum Alisha benar-benar naik ke angkot. Ia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kartu. "Ini kartu namaku, jika sudah dapat ijin dari suamimu hubungi aku, ya."
Tak ingin menyinggung perasaan Riski, dengan senyum datar Alisha menerima kartu nama milik teman semasa SMA dulu. Lalu segera naik angkot untuk pulang. Di dalam angkot, Alisha sama sekali tidak membicarakan tentang siapa Riski kepada Bi Sumi. Ia hanya membicarakan soal harga sayur mayur atau pun barang yang ada di pasar tadi. Sumi sendiri tidak menyinggung atau pun bertanya soal pria yang kenal dengan Alisha. Ia merasa tidak berhak tahu apa pun urusan pribadi majikannya itu.
Hari sudah beranjak siang saat ia dan Bi Sumi sampai di rumah. Rasanya hari ini memang penuh kejutan, baru juga tiba di depan pintu rumah, mendadak muncul Anton dari dalam.
"Selamat siang, Mbak Alisha. Apa kabar?" sapa Anton begitu melihat Alisha.
"Selamat siang, Pak Anton?"
"Iya, Mbak, saya Anton, ajudan almarhum Pak Surya. Masih ingat, kan?"
Alisha mengangguk. "Mas Arsya sedang tidak ada di rumah, dan tidak tahu jam berapa dia akan pulang." Pikir Alisha pasti Anton datang untuk bertemu suaminya.
"Saya tahu, Mbak. Saya datang ke sini juga atas perintah Mas Arsya."
"Perintah Mas Arsya?" Dahi Alisha mengernyit penuh tanya.
"Mas Arsya memerintahkan saya untuk menjemput Mbak Alisha. Coba Mbak Alisha cek ponsel Mbak Alisha, ada pesan dari Mas Arsya yang mungkin belum Mbak buka."
Segera Alisha membuka dompetnya yang tadi sempat kecopetan. Ia tadi hanya mengecek isinya tapi tidak sempat membuka ponsel. Benar saja apa kata Anton, ada pesan dari Arsya agar dirinya ikut dengan ajudan almarhum mertuanya.
"Mari, Mbak," ajak Anton.
__ADS_1
"Berdua?" Alisha menunjuk dirinya dan Anton.
"Bi Sumi boleh ikut," jawab Anton cepat.
"Ke mana?" sela Bi Sumi.
"Sudah Bi, tidak usah banyak tanya. Ini perintah Mas Arsya. Lagi pula Bi Sumi cuma antar Mbak Alisha sampai depan pintu saja nanti."
"Depan pintu?" Bi Sumi masih bingung dan bertanya-tanya.
"Bi, nggak usah banyak mikir. Sudah, ayo ikut!"
"Eh ... tunggu dulu, belanjaanku bagaimana?" Bi Sumi mengangkat kantong kresek di tangan.
"Pak Tarjo!" teriak Anton lantang.
Dari dalam Tarjo berlari. "Kenapa, Ton?"
"Itu, tolong belanjaan Bi Sumi dibawa masuk. Kita mau pergi dulu."
"Pergi ke mana? kok aku ndak diajak?" protes Tarjo.
"Pokoknya kita mau pergi sebentar, Pak Tarjo jangan banyak tanya, di rumah saja. Ini perintah!"
Tarjo terdiam, tapi bibirnya manyun karena kesal.
"Pak, jangan lupa masukin ke kulkas ya semua belanjaannya. Jangan sampai busuk," pesan Bi Sumi.
"Lha, memang mau pergi berapa lama?" Tarjo masih ingin tahu.
"Berapa lama, Ton?" Bi Sumi meminta penjelasan.
"Nggak lama, cuma antar Mbak Alisha saja. Udah buruan!"
"Iya, tapi ke mana?"
"Wes Bi, nggak usah banyak tanya. Ikut aja!"
"Kalau begitu aku ganti baju dulu," ujar Alisha. Dia habis dari pasar, sudah dipastikan aroma tubuhnya sangatlah segar dengan berbagai bebauan termasuk bau amis.
"Tidak usah, Mbak, kita langsung saja. Pesan Mas Arsya begitu. Jangan lama-lama."
"Tapi, Pak ...."
"Silakan, Mbak ...." Alisha belum menyelesaikan kalimatnya tapi dipotong cepat oleh Anton yang langsung mempersilakan Alisha menuju mobil.
Diikuti saja apa yang Anton katakan. Alisha segera masuk ke mobil disusul Bi Sumi di belakang. Anton pun melajukan mobil menuju ke sebuah tempat perawatan kecantikan.
"Kenapa kita ke sini?" Alisha terlihat bingung menatap papan nama yang ada di depan bangunan.
"Silakan masuk, Mbak." Bukannya menjawab apa yang Alisha tanyakan, Anton kembali memintanya masuk tanpa penjelasan.
"Ini tempat apa, Ton?" seloroh Bi Sumi yang baru pertama kali melihat tempat seperti ini.
"Ini namanya bengkel kecantikan," jawab Anton asal.
"Bengkel kecantikan?" Bi Sumi melongo. "Maksudnya apa?"
"Ditempat ini, semua orang bisa jadi cantik."
"Yang bener, Ton. Aku juga bisa, Ton?"
Anton geleng-gelang kepala mendengar pertanyaan Bi Sumi. "Bisa, tapi akan lebih baik kalau Bi Sumi mempercantik amal buat bekal di akhirat. Kan, sudah nunggu antrian, to?"
"Dasar bocah kurang ajar!" Bi Sumi mendelik kesal.
Anton justru terkekeh melihat kekesalan Bi Sumi. Alisha hanya tersenyum melihat tingkah konyol dua orang yang bekerja pada almarhum mertuanya.
__ADS_1
"Woy, ngapain lo di situ!" Jimmy berteriak begitu keluar dari tempat perawatan kecantikan dan mendapati Anton tidak segera membawa Alisha masuk tapi malah bercanda tidak jelas di depan.
"Mas Jimmy ... ini, Mas. Kami baru akan masuk," Anton berkilah.
"Ya udah, tugas lo udah kelar. Sekarang urusan gue!" Jimmy menatap Alisha.yang terlihat masih belum mengerti rencana Arsya.
"Baik, Mas. Ayo, Bi." Anton pamit.
"Ke mana lagi?" tanya Bi Sumi.
"Pulang," jawab Anton singkat.
"Lho, kok ...."
"Sudah, ayo pulang." Anton menarik tangan Bi Sumi dan membawanya kembali masuk ke mobil.
"Mas Jimmy kok ada di sini?" tanya Alisha begitu Anton dan Bi Sumi pergi.
"Ya memang tugasku itu direpotkan sama Arsya," Jimmy menjawab sekadarnya.
"Mas Arsya? Di mana dia?"
"Orangnya nggak ada di sini makanya aku yang akan repot ngurus semuanya. Dia langi enak-enakan mancing ikan lele." Terdengar nada kesal dari Jimmy.
"Mancing? Di mana?"
"Sudah, kamu nggak usah mikirin dia mancing di mana. Sekarang kamu masuk biar aku bisa cepat menyelesaikan semuanya." Jimmy membuka tangannya seolah menunjukkan jalan ke mana Alisha harus melangkah.
Baru saja memasuki tempat perawatan kecantikan itu, Alisha mendengar Jimmy memberi pengarahan pada tim di sana agar membuat Alisha secantik mungkin.
Alisha sendiri tahu ini tempat apa, yang ia tidak tahu adalah untuk apa ia dibawa ke sini dan kenapa harus melakukan perawatan seperti yang ia lakukan sekarang ini. Jimmy tak mau memberikan penjelasan. Manajer Arsya itu hanya meminta Alisha patuh untuk hari ini saja agar semua pekerjaannya beres.
Rupanya tak hanya sampai perawatan saja. Jimmy juga sudah mempersiapkan segalanya, dari make up sampai gaun apa yang harus Alisha kenakan hari ini. Semua sudah berada dalam konsep yang Jimmy atur.
Semua treatment berakhir ketika Alisha sudah siap dengan dandanan yang tak biasa. Dan kejutan masih belum berakhir. Jimmy yang diikuti oleh seorang MUA mengantarkan Alisha ke sebuah hotel berbintang di Ibu Kota.
"Apa akan ada konferensi pers lagi, Mas?" tanya Alisha begitu turun dari mobil. Konferensi pers adalah hal yang terbesit di pikirannya. Sebab dulu ketika ia diminta dandan secantik mungkin adalah demi konferensi pers yang Arsya lakukan.
"Aku tidak bisa memberitahumu, tapi aku akan mengantarmu ke dalam." Seperti ucapannya, Jimmy mengantar masuk ke dalam hotel. Sampai di sana, tugasnya selesai karena selanjutnya Alisha diantar oleh pegawai hotel menuju sebuah kamar president suite.
"Silakan masuk, Nona," ujar pegawai hotel sebelum akhirnya meninggalkan Alisha sendiri.
Takut-takut, Alisha perlahan melangkah masuk. Lampu temaram yang menyambutnya membuat jantungnya berdegup kencang. "Mas ...," panggil Alisha.
"Mas Arsya ...." Alisha terus berjalan masuk.
Mendadak lampu menyala berbarengan dengan bisikan Arsya yang terdengar di telinga. "Apa kamu suka?"
"Mas Arsya?" Alisha sempat terjingkat karena kaget dengan keberadaan Arsya di belakangnya. Tidak tahu muncul dari mana, tapi pria itu tiba-tiba hadir mengagetkan.
"Maaf jika telah membuatmu kaget. Aku hanya ingin memberimu kejutan kecil."
"Semua ini?" Alisha mengedarkan pandangan. Terlihat ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa hingga nampak romantis.
"Hmmm." Arsya mengangguk.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Mas, kalau hanya sekadar untuk makan malam. Kita bisa melakukannya di restoran tidak perlu juga menyewa kamar seperti ini." Alisha masih mengedarkan pandangan. "Pasti sangat mahal bukan untuk menyewa kamar seperti ini."
"Atau kita bisa makan malam di rumah saja, tadi aku dan Bi Sumi juga sudah belanja," ujar Alisha tanpa henti.
"Mas ... Mas Arsya," panggil Alisha karena tak ditanggapi.
"Mas." Alisha menepuk bahu Arsya yang terus sibuk mengagumi kecantikan Alisha.
"Mas, dengar, kan, apa yang aku bilang?"
Sebuah senyum terukir di bibir Arsya. Ia dengar semuanya tapi tak menghiraukan karena kecantikan Alisha telah mengalihkan segalanya.
__ADS_1
Arsya meraih tangan sang istri, mengecupnya lembut di punggung tangan. Bergantian kanan dan kiri, lalu berkata, "Ini bukan sekadar makan malam, Sayang. Malam ini adalah malam yang akan menjadi awal dari hubungan kita sebagai suami istri."
Wajah Alisha merona seketika. Tidak terlintas sedikit pun di otaknya akan malam yang di maksud Arsya ini.