
Malam sudah sangat larut bahkan pagi hampir tiba. Jam dua dini hari, ketika Alisha terbangun dan mendapati suaminya belum pulang. Ia pun mengambil wudhu untuk menunaikan salat malam.
Di akhir sujudnya ia menyebut sang suami dalam doa. Pernikahan ini mungkin tak pernah diinginkan keduanya, tapi akad yang terucap kala itu bukanlah mainan. Semua terjadi dengan kesungguhan.
Meski tidak dekat tapi Alisha sadar akan kewajibannya sebagi istri. Mendoakan sang suami.
Selesai salat dan bermunajat. Terdengar pintu apartemen ada yang membuka. Segera Alisha keluar, masih dengan mukenanya.
"Astagfirullahaladzim," pekik Alisha melihat suaminya di papah oleh seorang pria.
Melihat sosok Alisha dalam apartemen Arsya, Jimmy sedikit tersentak. Ia lupa jika temannya ini sudah punya istri. Ia bahkan tak mengetuk pintu sebelumnya dan langsung saja masuk tanpa ijin.
Merasa tubuh Arsya begitu berat ia segera merebahkannya ke sofa. Napasnya masih ngos-ngosan setelah memapah pria mabuk itu dari bawah hingga lantai sepuluh.
"Maaf, aku lupa kalau kamu udah tinggal di sini, jadi tadi aku langsung masuk aja gitu," ujar Jimmy karena Alisha terus saja memperhatikannya.
"Anda ...."
"Jimmy, managernya Arsya," sahut Jimmy cepat.
Jimmy mengulurkan tangannya, tapi Alisha membalasnya justru bergeming dan menatap tangan Jimmy. Wanita itu kemudian menangkupkan tangan di depan dada untuk membalas uluran tangan Jimmy.
"Saya ingat, dulu Anda juga hadir di pernikahan kami," ujar Alisha.
Jimmy mengangguk. Ia yang mendapat sambutan tidak biasa dari Alisha menarik tangannya kembali. Untuk mengurangi rasa malu ia usapkan tangan itu untuk mengelus rambutnya sendiri sembari tersenyum.
"Kalau boleh tahu, Mas Arsya kenapa?" tanya Alisha.
"Dia mabuk, jadi aku antar pulang."
Alisha mengangguk paham. "Terima kasih sudah mau mengantar Mas Arsya pulang."
"Eh, iya." Jimmy bingung harus bersikap apa pada istri sahabatnya ini. Biasanya ia akan ikut menginap di apartemen Arsya setelah mengantar pria itu tapi sekarang rasanya tidak mungkin.
"Kalau begitu aku pamit dulu." Rasanya ini jalan yang tepat. Pergi dari rumah Arsya.
"Iya, terima kasih, Mas."
Setelah Jimmy pergi, Alisha berusaha membangunkan Arsya. "Mas, bangun, ayo pindah."
__ADS_1
Beberapa kali Alisha mencoba tapi Arsya tetap bergeming. Tidak tega meninggalkan Arsya tidur di ruang tamu, Alisha berusaha memapah suaminya untuk masuk ke dalam kamar. Susah payah Alisha berusaha sebab berat badan Arsya tak seringan yang ia pikirkan.
"Eh, Jim, kenapa sih lo ambil kerjaan itu. Males tau, gue harus kerja bareng cewek itu," racau Arsya ketika Alisha memapahnya.
"Heh, kenapa lo diem." Arsya menepuk pipi Alisha yang dianggapnya sebagai Jimmy.
Alisha berusaha mengabaikan setiap racauan Arsya, sebab ia sudah tidak kuat menahan beban tubuh pria itu. Begitu sampai di ranjang, Alisha melepaskan tangannya begitu saja hingga Arsya terjatuh. Hanya tubuhnya yang berada di kasur tapi kakinya menjuntai ke lantai. Pelan-pelan Alisha melepas sepatu suaminya dan mengangkat kakinya ke atas ranjang.
Ia juga membetulkan posisi kepala Arsya yang miring agar nyaman. Di saat itulah Arsya kembali meracau. Kali ini matanya sedikit terbuka.
"Jim, lo pakai apa, sih. Kenapa lo pakai penutup kepala kayak cewek murahan itu."
Alisha mendengar tapi tak mau menanggapi orang mabuk.
"Udah, lo lepas aja." Arsya menarik mukena yang Alisha kenakan tapi masih bisa Alisha pertahankan agar tidak lepas.
"Jangan, Mas!"
"Lo kenapa, lo itu cowok, nggak pantes pakai penutup kepala begini. Udah ayo lepas!" Kali ini Arsya sedikit memaksa. Pria itu bahkan bangun untuk menarik lebih kuat mukena yang Alisha pakai.
"Jangan, Mas, hentikan!" Alisha berusaha mempertahankan mukenanya tapi sayang tarikan Arsya lebih kuat dan mukena itu pun terlepas dari kepala Alisha.
"Nah, gitu dong. Laki-laki nggak pantes pakai penutup kepala." Arsya tertawa dengan sorot mata tak lepas dari Alisha.
Tangisnya pecah dengan tubuh bersandar pada pintu kamar mandi. Ia mendekap erat mukena di dadanya. Ingatan akan malam di mana Arsya memaksa membuka hijabnya kembali terlintas dalam benak.
Kejadian mengerikan itu membuatnya ketakutan hingga tak bisa menahan air mata. Mukena di dadanya ia gunakan untuk menutup mulutnya agar tak berteriak meski air mata tak henti menderas.
Kaki Alisha lemas, ia terduduk di lantai dengan tangis yang tak kunjung usai.
Kenapa sulit sekali melupakan kejadian nahas itu. Trauma paska pemerkosaan hanya bisa ia tanggung sendiri tanpa bisa dibagi.
Sedikit saja sikap Arsya yang agresif pasti memicu kenangan buruk itu. Sampai kapan harus seperti ini. Bahkan sekarang Arsya adalah suaminya, bukan lagi pria yang menjamahnya dengan kebrutalan.
Namun Alisha tak mudah melupkannya begitu saja. Itu juga yang membuat Alisha tak bisa berperan sebagai istri yang seharusnya. Kontak fisik membuat traumanya kembali muncul dalam ingatan.
Alisha terus saja memikirkan hal-hal buruk dalam dirinya. Bahkan ia masih sering menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian malam itu. Hal itu membuatnya terus menangis dalam penyesalan dan tertidur tanpa sadar.
Gedoran pintu membuat Alisha tersentak. Suara Arsya yang menuntut memaksanya untuk segera bangkit.
__ADS_1
"Hei, lo di dalem, ya. Buka pintunya, gue mau buang air!" teriak Arsya.
Buru-buru Alisha mengenakan mukena yang sejak semalam ia dekap, lalu membuka pintu kamar mandi yang ia kunci.
Tatapan Arsya membuat Alisha segera lari dari pria itu.
Rupanya subuh sudah terlewat dan Alisha baru terbangun. Beberapa kali ia mengucap istighfar dalam hati. Begitu Arsya keluar, Alisha segera kembali masuk ke kamar mandi. Ia melepas mukena yang ia kenakan dan memasukkannya ke keranjang cucian.
Mengambil wudhu dan bergegas salat. Setelahnya, Alisha yang melihat Arsya kembali tidur tak mengusik pria itu. Ia memilih untuk mengerjakan tugasnya bersih-bersih rumah dan memasak.
Karena sudah membeli bahan makanan kemarin sore, Alisha bisa memasak nasi goreng dengan sosis dan telur dadar. Saat Alisha sibuk menata hasil masakannya ke dalam piring saji mendadak suara Arsya mengagetkannya.
"Udah mateng?"
Alisha berjingkat. Ia menoleh melihat ke sumber suara. Di sana, di dekat lemari pendingin pria itu sedang berdiri sembari meminum minuman kaleng dari dalam kulkas.
Rasa takut yang semalam masih bersisa membuat Alisha tergagap menjawab pertanyaan Arsya. "Su-sudah, Mas."
Pria itu langsung duduk di bar stool membawa minuman dingin di tangannya.
"Mas Arsya mau sarapan?"
Suaminya itu memijit pelipisnya sebelum menjawab, "Bawa sini!"
Segera Alisha membawa piring nasi goreng yang sudah ia siapkan dan langsung berniat pergi meninggalkan dapur.
"Lo mau ke mana?" tanya Arsya.
"I-itu, mau mandi. Siap-siap mau kerja, Mas."
"Terus, nasi goreng lo siapa yang makan." Arsya menunjuk satu piring nasi goreng yang masih utuh.
"Nanti saja, Mas." Alisha langsung berlari ke kamar.
Arsya hanya bisa mengangkat bahunya melihat sikap sang istri yang aneh.
Di dalam kamar, Alisha berusaha menenangkan diri. Ia mengatur napasnya agar lebih rileks.
"Tenang Alisha. Mas Arsya bukanlah monster yang harus ditakuti. Sekarang ia adalah suamimu," ucap Alisha dalam hati.
__ADS_1
Ternyata kejadian buruk itu tak mudah hilang dari ingatan.
"Ya Allah, sampai kapan aku akan seperti ini. Apa aku harus pergi ke psikolog?"