
Hari pembukaan usaha kuliner yang dibangun berkat kerjasama antara Jimmy dan Fatih akhirnya tiba. Konsep cafe library yang mereka pilih dirasa tepat karena lokasi yang berada di lingkungan kampus. Di mana target mereka adalah para mahasiswa. Design cafe dibuat sedemikian menarik agar banyak pengunjung yang datang.
Hari pertama grand opening Jimmy dan Fatih sengaja memberi diskon sampai dua puluh persen untuk perkenalan. Jimmy optimis usahanya dengan Fatih ini akan berkembang dengan baik.
Sesuai ekpektasi, hari pertama grand opening cafe penuh dengan pengunjung. Salwa dan Alisha bahkan ikut membantu melayani pelanggan. Sedangkan toko busana muslim yang berada tepat di samping cafe ia serahkan pada dua pegawainya—Niken dan Lina.
"Alhamdulillah, di hari pertama responnya bagus," ujar Alisha pada Fatih dan Jimmy, ada Salwa juga di sana.
"Benar, semoga usaha ini berjalan lancar. Nanti kalau sudah stabil kamu yang kelola, ya?" Fatih mengerling. Menggoda Alisha.
Alisha yang malu langsung menunduk.
"Calon-calon budak cinta ini," sindir Jimmy.
"Jim, kalau sudah menikah suami memang harus jadi budak cinta istrinya. Makanya kamu juga buruan nikah biar tahu rasanya bucin," balas Fatih.
"Nanti kalau gue sudah ketemu wanita seperti Alisha," jawab Jimmy asal, tapi serius berharap.
"Nih, adik aku. Dia sebelas dua belas sama Alisha, cuma bedanya adikku ini lebih banyak bicara dan lebih banyak belanja." Fatih menarik Salwa yang berdiri di sampingnya dan membawanya mendekat pada Jimmy yang ada di depannya.
"Ish ... Mas Fatih, apaan sih! Salwa bukan dagangan ya, nggak perlu disodor-sodorin juga!" Salwa merajuk, tapi Fatih justru tertawa.
"Memang adik lo belum ada yang punya?" Jimmy justru menanggapi bercandaan Fatih.
"Sudah!" jawab Salwa ketus. Ia mendelik menatap Jimmy.
"Ciyeee, ngambek!" goda Fatih.
"Udah sana, Mas Fatih buruan pergi nanti keburu tokonya tutup!" Salwa mendorong Fatih keluar. Diikuti Jimmy dan Alisha.
"Aku tinggal bentar ya, Jim," pamit Fatih.
Jimmy mengangguk. Sebelumnya Fatih sudah memberitahunya jika Fatih akan keluar setelah pembukaan cafe. Ia ada janji untuk memesan cincin pernikahan.
__ADS_1
"Nitip adikku tolong jagain, kalau dia nakal kawinin aja."
"Ish ... pergi sana ... pergi!" Salwa terus mendorong Fatih menjauh.
"Permisi, Mas," pamit Alisha pada Jimmy.
Alisha dan Fatih pun pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di mana ada toko perhiasan langganan keluarga Fatih. Wanda—sang ibu—sudah berpesan agar Fatih membeli cincin pernikahan di sana.
Dan benar saja, sampai di toko yang dimaksud Wanda, Fatih langsung disambut oleh manajer toko yang sudah tahu siapa Fatih.
"Selamat sore Mas Fatih, ada yang bisa kami bantu," sapa manajer toko.
"Selamat sore, kami ingin melihat koleksi cincin pernikahan."
"Tentu Mas Fatih, kami akan siapkan yang terbaik, mari ... silakan kemari." Manajer toko tersebut membawa Fatih dan Alisha ke sebuah ruangan untuk menerima pelanggan spesial.
"Siapa nama calonnya Mas Fatih?" tanya manajer toko untuk membuat suasana akrab.
"Alisha."
Tak lama setelah manager toko meminta Fatih duduk, ia dan salah satu pegawai datang dengan membawa bermacam contoh cincin pernikahan. "Silakan dilihat dulu Mas Fatih, kalau dari semua yang kami miliki di sini tidak ada yang cocok kami juga menyediakan jasa design cincin pernikahan. Mas Fatih boleh mendesign sendiri cincin yang Mas Fatih dan Mbak Alisha inginkan."
"Kami lihat-lihat dulu saja."
Fatih pun melihat beberapa contoh yang ada. Memperhatikan model yang menarik hatinya. Hingga pilihannya jatuh pada satu cincin bertahta berlian. "Bagaimana dengan ini?" Fatih menunjukkannya pada Alisha.
"Bagus, tapi terlalu mewah, Mas, yang lebih simple saja biar dipakai sehari-hari juga nyaman," jawab Alisha.
Fatih manggut-manggut, setuju dengan pemikiran Alisha. Ia pun memilih kembali, hingga mengambil satu dan menunjukkannya pada Alisha. "Kalau yang ini bagaimana?"
Alisha menatap hampa pada deretan cincin yang ada di atas meja. Namun, hati dan pikirannya tak berada di sana.
"Alisha," panggil Fatih dengan sedikit meninggikan suara.
__ADS_1
"I ... iya, Mas." Alisha tersentak. "Ada apa?"
Fatih sedikit kecewa mengetahui Alisha tidak fokus pada tujuan mereka kali ini. "Lihat ini, apa kamu suka. Modelnya sederhana dan akan nyaman dipakai sehari-hari," ujarnya menyembunyikan rasa kecewa.
Alisha melihat cincin itu sesaat dan berkata, "Iya bagus."
Meskipun Alisha menampilkan senyum ketika menyetujui pilihannya tapi Fatih seakan tidak puas karena hanya dirinya yang aktif dan terlihat antusias dengan pernikahan ini. Sangat berbeda dengan Alisha yang selalu pasrah dan tidak memperlihatkan keinginan yang kuat akan pernikahan seperti calon pengantin pada umumnya.
"Baiklah, kita ambil yang ini," ujar Fatih pada manajer toko yang sejak tadi menemani mereka dalam memilih cincin pernikahan.
"Kita sesuaikan ukurannya dulu ya, Mas Fatih."
Manager tersebut mencatat ukuran cincin yang sesuai untuk jari Fatih dan Alisha. Juga nama yang ingin mereka ukir di cincin pernikahan mereka.
"Nanti akan kami kabari jika sudah siap."
"Baik, terima kasih." Setelah berpamitan Alisha dan Fatih keluar dari toko.
"Kamu mau mampir makan atau sekadar minum es dulu, nggak?"
"Nggak usah, Mas. Kita langsung kembali aja. Aku juga masih banyak kerjaan di toko. Hari ini ada barang yang datang aku harus ngecek."
"Oh ...." Kembali Fatih dibuat kecewa dengan sikap Alisha. "Kalau begitu aku ke toilet dulu, kamu tunggu di sini, ya."
Alisha mengangguk tapi setelah Fatih pergi, Alisha yang seharusnya menunggu calon suaminya justru melangkah pergi. Ia melihat-lihat deretan toko yang ada di pusat perbelanjaan.
Hingga langkahnya terhenti pada sebuah poster berukuran besar. Ia mematung menatap pria yang menjadi model pakaian formal di dalam poster.
Alisha terus menatap tanpa tahu apa yang membuatnya tak mampu beralih dari potret di depannya. Ia hanya menuruti gerak tubuh yang membawanya.
Fatih yang baru datang dari kamar mandi, menatap tidak suka pada Alisha. Terutama pada poster besar yang sedang dilihat Alisha.
"Ayo kita pulang," ajak Fatih yang otomatis membuat Alisha terkesiap. Mendadak ia gugup menghadapi Fatih yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Langkahnya terasa berat saat mengikuti Fatih keluar dari gedung perbelanjaan. Alisha bahkan menoleh pada poster yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
Mungkin ia selalu menepis semua tentang Arsya, tapi perasaan tak mampu berbohong.