Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 44 Calon Lainnya


__ADS_3

Begitu bangun Alisha tak mendapati lagi Arsya ada di kamar. Padahal semalam mereka tidur bersama. Karena sudah menjadi hal yang biasa, Alisha tak terlalu memikirkan. Ia segera bangun untuk menunaikan salat subuh. Setelahnya ia harus melihat Sarah di kamar mertuanya itu.


Usai membantu Sarah membersihkan diri dan menyiapkan sarapan, Alisha kembali ke kamar. Ia harus menghubungi psikiater untuk menunda sesi terapi karena harus menjaga ibu mertua.


Juga menghubungi Mbak Ratih untuk kembali ijin kerja. Meskipun tak enak hati karena sering ijin, Alisha tak bisa keluar kerja begitu saja seperti apa yang dulu Sarah inginkan. Ia masih memerlukan pekerjaannya untuk bisa memberikan uang bulanan pada Imran.


Teringat akan Imran, Alisha jadi ingin tahu bagaimana kabar pakdhenya itu sekarang. Sejak operasi saat itu, Alisha belum sempat lagi menjenguk. Hanya bertanya kabar melalui pesan singkat atau telepon.


Baru juga Alisha berniat menghubungi Imran, padhenya itu justru lebih dulu meneleponnya.


"Assalamualaikum." Alisha menyapa lebih dulu.


[Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu, Al.]


"Alhamdulillah, Alisha sehat, Pakdhe."


[Syukurlah.]


"Pakdhe sendiri bagaimana kabarnya?"


[Alhamdulillah sehat juga.]


"Alhamdulillah."

__ADS_1


[Al, Pakdhe mau tanya.]


"Ya, Pakdhe."


[Pakdhe lihat berita di televisi tentang pak Surya, apa itu benar?"


"Ehm ...." Bukannya Alisha tak mau menjawab, tapi Alisha ragu. Papa mertuanya memang ditangkap tapi berita yang beredar Alisha tidak tahu kebenarannya. Sampai sekarang pun keluarga sedang menunggu kabar kebenaran dari alasan penangkapan Surya Bagaspati.


[Ya sudah, Pakdhe mengerti. Semoga semua akan baik-baik saja.] Imran paham betul kenapa keponakannya itu tidak menjawab keingintahuannya. Imran justru bangga pada Alisha karena bisa menjaga aib keluarganya. Setelahnya Imran mengakhiri percakapan dan menutup panggilan.


******


"Jadi gimana, Bang, langkah apa yang harus kita ambil?"


Arsya, Jimmy dan pengacara bernama Ferdy sedang meeting di kantor Jimmy. Sengaja Arsya menggelar pertemuan tersebut. Ia butuh Jimmy dan pengacara untuk mengatasi masalah yang mendera.


Arsya menatap Jimmy yang duduk tepat di sampingnya. Seolah enggan jika pria itu mendengar.


Mendapat tatapan demikian dari Arsya, perlahan Jimmy memalingkan wajah malas. Ia bahkan sudah tahu semua cerita terburuk dari seorang Arsyanendra.


Arsya pun mulai bercerita tentang kejadian yang di solo juga vidio viral tentang dirinya yang diduga melakukan kekerasan terhadap Cinta.


Ferdy hanya manggut-manggut menanggapi. Tentu ia juga mulai berpikir tentang apa yang harus ia lakukan sebagai seorang pengacara berdasarkan cerita yang ia dengar.

__ADS_1


"Sya ... Sya, emang lo tu nggak bisa ditinggal barang bentar aja. Selalu bikin ulah. Dulu gue tinggal bentar, nggak ikut lo ke acara Ratih, lo perkosa Alisha. Kemaren gue tinggal ketemu sama temen gue, lo tidur ama Cinta. Bener-bener suka bikin masalah lo!"


"Diem lo, nggak usah banyak ngebacot. Lo pikirin aja gimana jalan keluarnya kalau sampai benar ada laporan polisi buat gue!"


Jimmy semakin memasang wajah malas mendengar perintah Arsya. "Kalau bukan karena kita temenan udah lama, berhenti gue jadi manajer lo. Gaji nggak seberapa tapi pusing nggak sembuh-sembuh!"


Tak menganggap ucapan Jimmy serius, Arsya justru tersenyum tanpa dosa. "Dah, gue masih ada urusan lain. Lo pikirin tuh jalan keluarnya!"


Seenaknya saja Arsya langsung pamit pada Ferdy dan meninggalkan Jimmy yang langsung mengomel dengan berbagai sumpah serapah. Sedangkan Ferdy tertawa melihat tingkah dua pemuda yang sudah cukup lama ia kenal itu.


*****


Dari tempat Jimmy, Arsya pergi ke sebuah tempat di mana Hotman dan Anton sudah menunggunya. Sebuah pertemuan partai di mana papanya bernaung.


Mereka akan membahas tentang penangkapan salah satu kader partainya yaitu Surya Bagaspati. Bagaimanapun, Surya adalah calon terkuat dari partai tersebut untuk maju ke pemilihan tahun ini. Dan kejadian penangkapan Surya ini tentulah pukulan buruk bagi partai yang mengusungnya.


Arsya diajak oleh Hotman agar tahu apa yang nanti akan partai tentukan dengan nasib papanya ke depan di ranah politik. Arsya uang sebenarnya tak tertarik bahkan membenci dunia politik, terpaksa ikut demi mengetahui perkembangan soal papanya.


Di sana sedikit banyak Arsya tahu siapa-siapa teman satu partai papanya. Apalagi yang sering datang ke rumah. Ia tak canggung untuk menyapa orang-orang di sana. Bahkan bisa membaur dengan mereka sebelum acara di mulai.


Semua mata tertuju pada pintu masuk ketika seseorang datang. Termasuk Arsya.


"Dia siapa?" Arsya berbisik. Sorot mata Arsya tak lepas dari pria yang baru datang dan disambut hangat oleh rekan-rekannya.

__ADS_1


"Joko Permana," jawab Anton. "Dia adalah calon lainnya yang akan maju pada pemilihan selain Bapak."


Arsya langsung menoleh. Dia menangkap maksud dari ajudan papanya.


__ADS_2