
Fatih membawa mereka makan di sebuah rumah makan dengan menu khas solo. Sepanjang perjalanan tadi Arsya, Jimmy, dan Alisha sama-sama bungkam. Rasa canggung seolah mengisi kekosongan di antara mereka bertiga.
"Silakan duduk, dan pesan apa pun yang kalian mau," ujar Fatih pada semua.
"Siap, Bos," jawab Salwa antusias. Adik Fatih itu tak lupa diajak saat tadi Fatih membawa teman-temannya makan.
Arsya dan Jimmy langsung menarik bangku dan duduk berjejer. Diikuti Salwa yang mengambil duduk berseberangan dengan dua tamu Fatih dari Jakarta.
Sebagai calon suami, Fatih menunjukkan sikap perhatian dengan menarik sebuah bangku untuk Alisha. Tepat di depan Arsya.
"Terima kasih," ujar Alisha. Wanita itu langsung tertunduk, tak berani menatap wajah di depannya.
"Pesan apa pun yang kamu suka. Aku nggak mau kamu kurus pas nanti kita menikah," goda Fatih dengan menyentuh pundak Alisha.
Sontak Alisha menepis tangan Fatih. Kaget dengan sentuhan pria itu.
"Maaf ... maaf," ujar Fatih canggung.
Jantung Alisha berdetak cepat. Dua kali lipat dari detak jantung normal. Ketakutan langsung tergambar jelas di wajah cantiknya.
"Alisha ...." Salwa yang menyadari perubahan mimik wajah Alisha berusaha menenangkan. "Tidak apa-apa." Adik Fatih itu menggelengkan kepala.
Alisha mengangguk. Menarik napas dalam dan mencoba menenangkan diri. Inilah dirinya, masih sama seperti dulu. Takut dengan sentuhan laki-laki.
__ADS_1
Ia berhenti terapi sejak meninggalkan Jakarta. Ia pikir traumanya akan sembuh dengan sendirinya, tapi hari ini Fatih membuktikan jika Alisha masih menyimpan ketakutan dari luka masa lalu.
"Maaf," ujar Fatih sekali lagi sebelum ia duduk dengan mengambil bangku di ujung meja.
Meski tak bersuara, sedari tadi Arsya terus memperhatikan Alisha. Bahkan pandangannya tak sedetik pun beralih sejak bayangan Alisha tertangkap indera penglihatannya.
Jimmy yang menyadari sikap Arsya berusaha mendistrak pikiran pria itu dengan bertanya, "Sya, lo pesen apa?"
"Samain aja kayak lo," jawab Arsya. Masih terus memaku pandangan pada Alisha yang tertunduk. Terlihat bulir keringat di dahi mantan istrinya itu.
"Gue pesen selat Solo, lo mau?" lanjut Jimmy.
"Ya," jawab Arsya sekadarnya.
Jimmy hanya bisa pasrah. Ia tidak mungkin menegur Arsya di depan Fatih. Ia belum mencari tahu apakah Fatih tahu hubungan antara Arsya dan Alisha. Ia pun memilih untuk sibuk berbicara pada Fatih dengan bertanya tentang perkembangan bisnis showroom pria itu.
Sebelumnya Salwa sudah bercerita pada Fatih tentang kondisi Alisha yang tidak mudah akrab dengan pria karena trauma dengan mantan suami. Salwa juga sudah mewanti-wanti Fatih agar sabar menghadapi sikap Alisha itu jika ingin memperistrinya. Namun kali ini karena kelalaian ia lupa menjaga semua, Fatih pikir itu hanya sentuhan di bahu.
"Aku akan mengantarmu lebih dulu, baru aku akan mengantar Jimmy ke hotel," ujar Fatih saat di dalam mobil.
"Tidak usah, antarkan Mas Jimmy lebih dulu," jawab Alisha.
"Tidak ... antarkan dia lebih dulu. Biarkan dia beristirahat," sela Arsya.
__ADS_1
Tentu saja Fatih langsung melirik pria yang baru ia kenal tadi.
"Iya, antarkan calon istrimu lebih dulu. Aku dan Arsya masih akan jalan-jalan. Belum ingin kembali ke hotel." Jimmy menimpali. Tentu ia ingin menyelamatkan Arsya dari sikap curiga Fatih.
"Benar, Mas, antar kami dulu ke rumah Alisha. Biar nanti Niken sama Lina yang ngurusin toko." Salwa menambahi.
"Antar ke toko saja," sahut Alisha.
"Kamu harus istirahat, lebih baik pulang. Sudah, Mas, ke rumah saja." Salwa bersikeras.
Mobil pun melaju sesuai keinginan Salwa. Menuju rumah Alisha. Wanita itu langsung pamit begitu turun dari mobil.
Tatapan Arsya masih setia mengiringi Alisha sampai mantan istrinya itu menghilang di balik pintu diikuti Salwa di belakang.
"Antar kami ke Solo Grand Mall saja, aku ada janji dengan seseorang," pinta Jimmy. Tentu saja ia berbohong pada Fatih.
Mengikuti apa yang Jimmy inginkan, Fatih kembali menjalankan mobilnya. Meninggalkan Jimmy dan Arsya di pusat perbelanjaan.
Di rumah yang ia sewa, Alisha terus saja gelisah. Semakin larut pikirannya semakin tak karuan dengan kehadiran Arsya yang nyata.
Kesendirian membuat angan semakin jauh mengelana. Membayangkan tentang Arsya dan dirinya. Juga tentang Fatih. Bagaimana ia akan berterus terang soal mantan suaminya itu.
Belum juga menemukan jawaban, Alisha seakan ditarik dari lamunan. Suara tamu mengetuk pintu mewajibkannya bangkit untuk tahu siapa yang datang.
__ADS_1
"Mas Arsya?" Bak dihempas pada kenyataan. Mata Alisha membola melihat mantan suaminya berdiri di depan pintu rumah.
"Boleh aku masuk?"