Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.40 Gue Bisa Apa?


__ADS_3

Sejak malam itu Alisha mutuskan untuk menyembuhkan dirinya dari trauma. Ia pun mendatangi seorang psikiater untuk berkonsultasi.


Ia tidak bisa selamanya menghindari suaminya. Bagaimanapun sebagai seorang istri ia punya kewajiban melayani suami dan memenuhi kebutuhan pria itu.


"Coba, Mbak Alisha berusaha untuk mengalihkan fokus ketika akan intim dengan suami. Misalnya saat bersentuhan dengan suami dan Mbak Alisha mulai mengingat akan kejadian dulu, Mbak Alisha harus bisa mendistrak. Dengan berpikir kalau sekarang hubungan kalian berdua adalah suami istri, dan intim antara suami dan istri itu sangatlah wajar. Mencoba untuk menghapus ketakutan yang membayang dengan sugesti lain yang lebih positif. Apa yang akan Mbak Alisha sekarang lakukan adalah sebuah ibadah bukan lagi dosa."


Kata-kata itu yang berusaha Alisha ingat dan tanamkan dalam pikirannya. Meski semua tak langsung hilang begitu saja, tapi Alisha mulai merasakan perubahan.


Ia mulai terbiasa ketika Arsya mengecup pipinya ketika akan pergi bekerja. Atau pun ketika Arsya memeluknya, ia tak lagi menolak.


Sikap Arsya semakin hari semakin berubah. Mungkin hal itu juga berpengaruh pada respon tubuh Alisha. Kehamilannya juga ikut membantu, karena sejak ia hamil, ia suka dengan wangi tubuh Arsya. Didekati pria itu dan menghirup wangi tubuhnya adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi Alisha.


Sayangnya, ia belum siap mengatakan pada suaminya jika dirinya tengah berbadan dua. Ada perasaan takut akan penolakan jika Alisha mendadak bicara sebab Arsya tak pernah sekali pun menyinggung soal anak. Untunglah, Sarah dan Surya yang mengetahui tentang kehamilannya ikut membantu dengan tak bicara pada Arsya. Alisha akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semua.


*****


"Kenapa, apa ada yang salah?" Alisha menilik penampilannya. Ia takut ada sesuatu yang salah dan akan membuat Arsya malu di acara malam ini. Ia mencari-cari di mana kesalahan itu terletak.


Menanggapi sikap bingung Alisha, Arsya jadi tersenyum sendiri. Ia mendekatkan diri dan berbisik, "Tidak ada salah, kecuali kamu terlalu cantik malam ini."


"Ish ... apaan, sih." Alisha menarik diri dan senyum Arsya masih tersungging manis di bibir pria itu.


"Ayo," ajaknya mengulurkan tangan.


Alisha berjalan dengan menggamit lengan suaminya. Ini kali pertama ia menghadiri sebuah acara bersama dengan Arsya. Gala dinner diselenggarakan oleh produsen parfum yang menggunakan jasanya juga sang suami sebagai model iklan. Tak disangka jika produk tersebut bisa booming di masyarakat dan berdampak keuntungan yang besar bagi perusahaan pembuat.


"Mas ...."


"Hmmm."


"Aku gugup."


"Tidak apa, aku tidak akan meninggalkanmu." Arsya menoleh meyakinkan. Membuat Alisha sedikit tenang.


Mereka disambut dengan hormat oleh setiap orang yang menyapa. Arsya menyalami mereka dengan bangga, sementara Alisha selalu mengukir senyum di samping suaminya.


Malam ini Alisha memang nampak berbeda. Memukau setiap mata yang memandang. Anggun nan memesona. Gaun merah maroon yang senada dengan jas yang Arsya kenakan begitu pas untuk Alisha.

__ADS_1


Karena tak begitu mengenal sosok-sosok yang hadir di acara malam ini, Alisha lebih memilih untuk mengekor saja dengan suaminya. Di sana mereka juga bertemu dengan Jimmy—sang manajer.


Tatapan mata Jimmy dibuat tak percaya dengan sikap Arsya yang begitu manis pada istrinya. Di depan semua tamu undangan Arsya terlihat bangga memperkenalkan Alisha. Hal itulah yang membuatnya tak sabar untuk menyapa.


"Hai ... Al." Jimmy mengarahkan pandangan pada istri dari temannya. Ia juga mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


"Hai," jawab Alisha dengan menatap tangan Jimmy yang terulur.


Dengan cepat Arsya menyambut tangan itu. Membuat Jimmy bersungut-sungut.


"Lagian, ngapain pake salaman juga. Orang lo udah kenal istri gue."


"Dasar pelit!" sungut Jimmy.


Arsya menoleh ke kanan dan kiri. "Sendiri, lo?"


Jimmy semakin berang dengar pertanyaan Arsya. "Nggak usah nanya, lo!"


"Berarti nganggur dong, lo?"


Jimmy mengerutkan dahi.


Baru sadar akan maksud Arsya, pria itu langsung pergi tanpa pamit. Mulutnya juga mengomel, memaki sang model. Pria itu tak pernah bisa merubah sikap padanya, selalu saja membuatnya jengkel.


"Kamu di sini dulu, ya. Aku ambil minum sekalian nyusul orang itu."


Alisha mengangguk patuh.


"Heleh, gitu aja ngambek." Arsya langsung berdiri di samping Jimmy yang berada di bar station. Ia juga memesan minuman untuk dirinya dan juga minuman non alkohol untuk Alisha sebelum mendudukkan bokongnya di sebuah bar stool menemani Jimmy.


Manajer yang sedang jengkel itu hanya terdiam tak menanggapi apa pun yang Arsya ucapakan. Ia lebih memilih menikmati segelas koktail yang baru saja tersaji di meja.


Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Sibuk dengan gelas masing-masing. Jimmy bahkan kembali memesan minuman yang sama pada bartender. Sekilas ia melirik Arsya yang masih setia di sampingnya.


"Balik sono, lo, dan perankan suami yang baik untuk Alisha." Dari dulu Jimmy paling paham dengan sifat modelnya itu. Pria yang tak pernah serius mendadak jadi suami yang alim. Itu sangat mencurigakan.


Arsya tertawa mendengar pengusiran Jimmy. "Cemburu, lo!"

__ADS_1


Jimmy meneguk koktail di gelasnya dalam sekali tenggak. "Gue cemburu pun bukan urusan lo!"


"Jelas dong urusan gue, yang sedang lo incer itu istri gue. Lo pikir gue bodoh nggak tahu apa yang ada di otak lo!"


Jimmy memutar bola matanya malas. Memilih kembali menekuri gelas yang sudah berisi lagi.


"Tapi Jim, meski gue tahu lo menyimpan rasa buat istri gue. Cuma lo yang bisa gue percaya. Kalau ada apa-apa dengan gue, gue bakalan titipin dia ke lo."


Sontak Jimmy menoleh heran.


"Gue nggak tahu apa yang gue rasakan sekarang. Gue benar-benar buta melihat arah ke dalam hati gue sendiri." Arsya meneguk minuman berwarna kuning itu.


"Lo, mabok?" sindir Jimmy.


Arsya tak menanggapi sindiran Jimmy, ia justru lanjut berbicara. "Awalnya gue cuma mau reputasi gue, karir gue, semua kembali seperti semula sebelum gue kenal Alisha, karena itu gue baik-baikin Alisha. Gue bikin dia nyaman agar gue bisa manfaatin dia buat jadi tangga gue kembali ke puncak karir gue. Tapi semakin ke sini, gue mulai ragu dengan tujuan gue."


Arsya menoleh. Menatap Jimmy yang sedang memperhatikannya dengan heran.


"Jangan bilang lo jatuh cinta sama Alisha. Jujur gue nggak rela!"


Arsya kembali menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Gue juga nggak mau kayak gini, tapi gue bisa apa? Gue nggak bisa jadi tuan untuk hati gue sendiri."


Jimmy menatap berang pada teman sekaligus rekan kerjanya itu. Bukan lagi soal cemburu tapi Jimmy takut Arsya akan lebih menyakiti Alisha.


"Dah, lah, gue mau nemuin istri gue. Lo jangan cuma diem aja, di sini banyak wanita cantik seenggaknya pilih salah satu dari mereka biar lo nggak mikirin istri gue terus." Arsya menyambar segelas minuman yang tadi ia pesan untuk Alisha dan menepuk pundak Jimmy sebelum meninggalkan pria itu.


"Lama, ya?" Arsya kembali pada Alisha yang tengah duduk menunggunya. Ia memberikan minuman berwarna hijau pada istrinya tersebut.


"Terima kasih." Setelah meneguk minuman yang dibawakan suaminya, Alisha pamit untuk ke toilet. Ketika ia berdiri dan akan mulai melangkah, heelsnya tersangkut pada gaun yang ia kenakan. Hampir saja ia jatuh kalau Arsya tak langsung menangkapnya.


"Kamu, tidak apa-apa?" Arsya masih memegang tangan Alisha.


"Enggak, Mas." Meski kaget dan jantungnya masih berdetak cepat, Alisha berusaha tetap tersenyum meyakinkan. "Terima kasih," ujarnya untuk pertolongan Arsya.


"Hati-hati." Arsya melepaskan tangan istrinya dan membiarkan Alisha pergi.


Menunggu Alisha yang sedang ke toilet, waktunya ia gunakan untuk beramah tamah dengan tamu undangan lainnya. Sampai saat dering telfon membuatnya harus menepi. Ia mencari tempat yang agak sepi setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

__ADS_1


"Halo ...."


Mimik mika Arsya seketika berubah setelah mendengar penuturan orang di seberang sana.


__ADS_2