Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 91 Budak!


__ADS_3

Pulang dari rumah baru mereka, kaki Alisha langsung dipijit oleh Bi Sumi. Rasa nyeri yang ia rasakan di angkle kakinya disebabkan karena terkilir.


"Apa aku tunda dulu kepergianku ke Solo, ya, Mas. Masak iya harus jalan pakai tongkat," ujar Alisha setelah Bi Sumi meninggalkan kamar.


"Memang berapa lama kamu mau di sana?"


"Ya nggak lama sih, Mas, paling dua hari. Aku kan cuma mau ngecek aja."


Arsya turun dari ranjang. Ia mengambil ponsel dan pergi ke balkon. Alisha hanya menatap suaminya tanpa tanya.


"Ok, besok aku antar," ujar Arsya sekembalinya dari menelepon.


"Maksud Mas Arsya? Mas Arsya mau nemenin aku ke Solo?"


Arsya mengangguk. "Hmmm."


"Memang Mas Arsya lagi free?"


"Aku udah minta Jimmy atur semua, dia juga udah pesenin tiket buat besok."


Alisha merasa tenang karena kepergiannya ke Solo tak akan ditunda. Ada Arsya yang akan menemaninya nanti. Sebenarnya bukan keperluan urgent tapi Alisha ingin datang ke kota itu.

__ADS_1


Tidak terasa sudah satu bulan lebih ia menjadi istri Arsya dan tinggal di Ibu Kota. Selama itu juga Alisha hanya menerima laporan perihal toko miliknya dari Salwa. Sebab itulah ia ingin mengecek toko sekaligus melihat perkembangannya.


*****


"Nona sudah sadar?" tanya Devon begitu melihat Jenna terbangun dari tidurnya.


Jenna menatap bingung ke sekeliling. Seingatnya, ia bersama dengan ibunya. Berada dalam dekapan sang ibu yang menenangkan. Namun, nyatanya ia masih berada di dunia. Bukan berada satu alam dengan ibunya.


Ketika akan menyibak selimut yang menutupi tubuh, Jenna melihat pergelangan tangan kiri yang berbalut perban. Ada rasa nyeri yang menyerang ketika tangan itu digerakkan. Ia pun menatap Devon yang berdiri di dekat pintu penuh tanya.


"Aku yang membalutnya," ujar Devon. Menjawab tanya dalam benak Jenna.


"Aku menemukanmu sudah tergeletak dengan tangan berlumur darah, karena itu aku mencoba melakukan pertolongan pertama," sambung Devon memberi penjelasan.


"Tenang saja, aku tidak melaporkannya pada Pak Direktur." Devon melengkapi tanya yang tak terungkap.


Jenna melihat Devon lebih intens, seakan mencari tahu tentang pria yang selama hampir dua puluh empat jam bersamanya. Bodyguard ini memang khusus untuk menjaga dirinya sejak ia menginjakkan kaki di Indonesia.


Awalnya Jenna tidak tahu tujuan dari pria yang telah membawanya dari luar negeri memberinya seorang bodyguard. Ia pikir karena kebaikan hati pria itu agar Jenna ada yang mengawasi. Namun akhirnya ia tahu, jika Devon bertugas menjaganya agar tidak kabur.


Dia seperti tawanan yang tidak bisa menentukan hidupnya sendiri. Bahkan menjadi model pun semua sudah direncanakan oleh pria tua yang dipercaya oleh ibunya. Sebagai bentuk memenuhi janji pada sang ibu.

__ADS_1


"Apa kamu mau membantuku?" ujar Jenna dari atas ranjang. Ia tidak tahu Devon orang yang seperti apa, tapi perhatian Devon hari ini membuat Jenna berpikir jika Devon adalah orang baik.


Mata Devon membeliak. Pertanyaan Jenna membuat ia tidak percaya.


"Aku yakin kamu melihat semua penderitaanku selama ini, dan aku juga yakin kamu adalah orang baik," ujar Jenna melanjutkan.


"Tolong bantu aku lepas dari dia." Sorot mata Jenna terlihat mengiba.


Membuat Devon yang sebelumnya begitu tegas dan tidak peduli dengan perasaan orang lain, mendadak timbul rasa kasihan.


Jenna tak melewatkan kesempatan itu untuk memanipulasi perasaan Devon. "Apa kamu punya saudara perempuan? kalau punya, coba bayangkan jika semua ini menimpa saudarimu. Ataupun kalau tidak, kamu juga punya seorang ibu bukan. Dia juga perempuan, yang tidak pantas diperlakukan seperti pria tua itu memperlakukan aku."


Devon memutar kembali kenangan masa lalu. Bagaimana ia harus dibuang ke panti asuhan karena tidak ada yang mau merawat dirinya. Ada kesedihan dan kekecewaan yang telah lama ia pendam. Dari semua rasa, kebencianlah yang paling besar ia rasa untuk orang tuanya. Terutama ibunya.


"Bagaimana, kamu mau membantuku, kan?"


Suara Jenna kembali membuat Devon tersadar. Menariknya pada kenyataan bahwa semua hanya masa lalu.


"Aku bukan pengkhianat!" Usai mengatakan itu, Devon keluar dari kamar Jenna dan membanting pintu keras-keras.


Jenna sempat terjingkat, tapi kemudian ia tersenyum getir menatap pintu tertutup yang dibanting Devon. Bagaimana mungkin ia bisa meminta tolong pada makhluk seperti Devon.

__ADS_1


Dia seperti budak yang hanya patuh pada majikannya. Tidak akan punya keberanian bersuara apa lagi bertindak.


Jenna menertawakan dirinya sendiri. Sepertinya ia memang ditakdirkan untuk menjadi seperti Devon. Budak!


__ADS_2