
Gagal menyantap semur daging untuk sarapan akhirnya Alisha kembali ikut ke pasar bersama Bi Sumi. Masih di pasar yang sama dengan tempo dulu, Alisha dan Bi Sumi memilih naik kendaraan umum.
Alisha kembali membeli daging untuk menu semur yang ia inginkan, juga membeli ikan untuk masak pepes patin yang dulu tertunda. Tak lupa sayur juga buah.
"Bi Sumi mau beli apa, sekalian aja?"
"Enggak, Mbak. Semua sudah cukup."
"Yakin?"
"Mbak Alisha ini, yakinlah, Mbak."
Merasa semua sudah cukup, Alisha memutuskan untuk segera pulang. Kali ini ia sangat berhati-hati. Tidak mau kejadian kecopetan terulang lagi. Masih di tempat yang sama kemarin, Alisha menunggu angkot datang.
"Alisha!" Seorang pria melambaikan tangan dan berlari ke arah Alisha dan Bi Sumi.
"Riski?"
Pria yang disebut namanya tersenyum lebar begitu sampai di depan Alisha.
"Hai ...," sapa Riski malu-malu.
"Hai ...."
Riski celingukan, seakan mencari sesuatu. "Kamu, sendiri?"
Alisha menatap bingung ke arah Bi Sumi. Ada Bi Sumi di sampingnya tapi Riski bertanya apakah ia sendirian?
"Tidak, ini aku sama Bi Sumi." Alisha memegang bahu Bi Sumi.
Riski langsung memegang kepalanya yang baik-baik saja. "Maksudku, nggak diantar suami kamu?"
"Dia kerja, nggak bisa antar aku ke pasar."
Riski manggut-manggut.
"Kamu sendiri ngapain di sini?"
Seketika Riski nyengir. Mengingat alasan kenapa ia ada di tempat ini. "Aku nungguin kamu?"
__ADS_1
Alisha tersentak. Ucapan Riski terasa ambigu.
"Iya, sejak kita ketemu saat itu aku terus nunggu kamu ngubungin aku, tapi aku tunggu-tunggu nggak ada sama sekali chat dari kamu. Aku jadi ragu apa dulu aku lupa ngasih kartu nama ke kamu, ya?" Riski meraih dompet di saku celana jeans belel miliknya, mencoba mengambil sebuah kartu yang sama yang pernah ia berikan pada Alisha.
"Ini kartu namaku."
"Nggak usah, Ris. Dulu udah kamu kasih, kok."
"Benarkah? tapi kok nggak ada chat kamu yang masuk ya, padahal paket data selalu full."
Riski mulai berpikir apa ada yang salah dengan ponselnya. Sebab sejak ia bertemu dan memberikan kartu namanya kala itu ia sama sekali belum mendapat pesan dari nomor yang mengatasnamakan Alisha. Oleh karena itu hampir setiap hari Riski datang ke pasar, berharap bisa bertemu lagi dengan Alisha.
Untunglah nasib baik masih bersamanya. Tuhan mempertemukan lagi dirinya dengan cinta masa SMA-nya. Semua ia lakukan demi nomor ponsel Alisha.
"Aku memang belum menghubungi kamu sama sekali."
"Oh ...." Nampak raut kecewa di wajah Riski.
"Mbak, itu angkotnya sudah datang," sela Bi Sumi.
Alisha menoleh ke arah yang ditunjuk asisten rumah tangga itu.
"Ris, aku pulang dulu ya. Itu angkotnya sudah datang."
"Aku duluan ya, Ris." Alisha pamit.
"Al ... tunggu, kamu belum memberikan nomor kamu ke aku." Karena menunggu itu melelahkan, Riski memberanikan diri kembali meminta nomor Alisha. Biarlah ia nanti yang menghubungi wanita itu lebih dulu dari pada ia menunggu tanpa kepastian.
Alisha menoleh pada Bi Sumi sekejap seakan meminta waktu pada orang yang menemaninya itu. Lalu mengulurkan tangan pada Riski.
Riski dengan cepat hampir menyambar tangan Alisha tapi buru-buru Alisha menarik tangannya.
"Handphone kamu." Alisha menjelaskan maksud ia mengulurkan tangan.
"Astaga ...." Riski menepuk jidatnya sendiri karena tidak paham. Ia pikir Alisha mengulurkan tangan untuk bersalaman dengannya makanya dengan senang hati ia menyambutnya, nyatanya ia salah.
Merogoh saku jaket, Riski mengulurkan sebuah benda pipih berwarna biru dengan stiker doraemon. "Ini."
Alisha menerimanya tapi bibirnya menahan senyum begitu melihat gambar di ponsel teman SMA-nya itu. Sebelum senyum itu terlihat oleh Riski, ia dengan cepat membuka ponsel dan mengetikkan sebuah nomor di sana. Lalu mengembalikan ponsel tersebut pada Riski.
__ADS_1
"Terima kasih, nanti aku yang akan menghubungimu," ujar Riski sebelum akhirnya Alisha benar-benar pergi.
____________________________
Kantor Jimmy
Walaupun sedikit kaget, tapi Arsya tahu alasan kenapa Jimmy tak mengijinkan Arsya untuk membawa Alisha. Sebab kasus yang menjeratnya dulu, media sudah tahu kalau Arsya dan Alisha sudah bercerai. Kalau mendadak mereka muncul bersama pasti akan mengundang tanya para awak media.
"Tapi kalau lo mau bikin berita buat naikin nama lo lagi, boleh aja lo bawa Alisha. Gue rasa ini momen yang pas juga karena di sana pasti akan banyak media yang meliput."
Arsya menggeleng tak setuju. "Gue butuh privasi, gue juga nggak mau privasi Alisha ikut-ikutan diusik."
Jimmy mengacungkan jempol pada temannya itu. "Skandal bukan jalan yang baik untuk sampai ke puncak karir. Mungkin itu juga alasan gue masih bertahan jadi manajer lo, karena gue yakin akan talenta yang lo punya."
Itu prinsip yang selalu Jimmy tekankan pada setiap talent di manajemen asuhannya.
Jimmy melirik jam di tangannya. "Siap-siap lo, kita ada meeting siang ini dengan Ivan Bridal."
Jimmy mulai berkemas menata tasnya. Memasukkan ponsel juga notebook ke dalam tas yang akan ia bawa. Meski pernah hiatus dari dunia permodelan karena harus menjalani hukuman, nyatanya masih banyak yang percaya akan bakat Arsya di dunia modeling. Tentu semua tak lepas dari peran Jimmy sebagai manajer.
Banyak brand yang masih menggunakan Arsya sebagai ikon mereka. Juga para designer, mereka masih yakin pada kemampuan Arsya dalam peragaan busana yang akan mereka tampilkan.
"Oh ... ya, Jim, tolong lo atur jadwal buat gue sama Alisha dengan agen properti, ya. Gue mau lihat-lihat rumahnya dulu," ujar Arsya yang berjalan bersama keluar dari kantor management milik Jimmy.
"Gue udah atur, setelah launching produk milik Pak Gunawan, lo ada libur. Dan gue udah jadwalkan buat lo ketemu agen properti."
Arsya tersenyum. Temannya selalu mengatur yang terbaik untuk dirinya.
"Lo yang nyetir!" Arsya melempar kunci mobil pada Jimmy, yang ditangkap pria itu dengan gelagapan.
"Nggak tau diri, lo!" omel Jimmy, tapi dituruti juga mau Arsya.
Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk mereka sampai ke sebuah kantor milik Ivan Bridal. Perancang busana pengantin itu akan mengadakan pagelaran busana, dan sebelum itu mereka mengumpulkan semua tim termasuk para model untuk membicarakan persiapan sebelum acara digelar.
Bertemu dengan orang-orang yang sudah tak asing bagi Arsya membuat ia teringat akan karirnya dulu. Banyak yang menyapanya dengan ramah, tapi ada seseorang yang memperhatikan dia dengan raut tidak suka.
"Abaikan saja, dia nggak ikut dalam tim kali ini," bisik Jimmy. Tahu ke mana mata Arsya tertuju.
Menuruti kata Jimmy, diabaikan saja pria yang sejak tadi menatapnya. Ia lewati begitu saja teman lamanya ketika akan masuk ke ruang meeting.
__ADS_1
"Hai, bro ...."
Arsya ingin berhenti tapi Jimmy mendorong tubuhnya pelan agar terus masuk dan mengabaikan pria yang menyapa Arsya.