Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.67 Kembali, Akad Tak Terelak


__ADS_3

Langit di kota Solo begitu cerah. Berbanding terbalik dengan raut wajah Arsya yang nampak jelas tengah bermuram durja. Duduk di sebuah bangku tamu menghadap ke arah pelaminan, ia akan segera menjadi saksi Pernikahan Alisha dan Fatih.


Perasaannya saat ini tidak dapat ia deskripsikan. Ingin ikhlas melepaskan tapi serasa berat di hati. Namun, tak dapat juga berbuat apa pun karena ia bukan lagi siapa-siapa. Ia hanya mantan yang berharap bisa memupus rasa yang tumbuh setelah perpisahan.


Meski semua terasa sulit. Sebab, setiap kali ia menyebut nama Alisha dalam doa agar Tuhan menghapuskan semua rasa dan harap untuk kembali bersama, justru membuat Arsya semakin tak bisa melupakan. Masih terbesit rasa untuk bisa kembali merajut tali pernikahan dan memulai semua dari awal.


Dan, setelah hari ini saatnya ia benar-benar harus melupakan segala hal tentang Alisha. Sang mantan adalah wanita yang haram untuk ia pikirkan apalagi ia harapkan.


Kalau boleh menyebut karma, mungkin inilah karmanya terhadap Alisha. Tuhan hadirkan rasa setelah ia tidak mungkin lagi bisa memiliki.


Perpisahan dulu justru menyadarkan akan arti hadir seorang Alisha dalam hidupnya. Membuat Arsya menyesal telah berlaku buruk pada wanita yang telah tulus pada keluarganya.


"Sya ...," Panggil Jimmy. Memyadarkan Arsya dari semua rasa sesalnya. "Alisha bukan jodoh lo, tapi gue yakin suatu hari nanti lo pasti bertemu jodoh yang tepat buat lo," sambung Jimmy.


Arsya menoleh. Menatap tidak terima pada Jimmy, tapi sedetik kemudian ia sadar jika ucapan Jimmy benar adanya. Ia menarik napas untuk menetralkan emosi. Bersikap biasa sama seperti tamu undangan yang lain.


Suara riuh dari tamu undangan mendadak hening begitu mendengar pembawa acara menyebutkan jika pengantin pria sudah akan memasuki ruangan akad nikah. Semua mata tertuju pada pria berpostur tinggi tegap dan juga berparas tampan itu.


Lebih terpesona lagi saat Alisha menyusul. Ada mata yang sampai tak berkedip seolah terhipnotis. Saat akad nikahnya dulu ia tak pernah melihat betapa Alisha begitu menawan seperti saat ini. Kini saat menjadi pengantin orang lain ia baru menyadari jika mantan istrinya begitu menarik hati.


"Sadar lo, sya, sadar," sarkas Jimmy.


"Apaan sih, lo!"


"Kenapa, gue bener, kan? Tuh, liat iler lo hampir menetes gara-gara mantan. Inget, dia mantan yang harus dilupakan bukan di ingat-ingat."


"Berisik banget, lo!"


"Lah, iya gue harus berisik. Karena gue harus tetap menjaga kewarasan lo selama akad nikah ini berlangsung."


Suara pembawa acara kembali terdengar kala acara akad nikah akan mulai dilaksanakan. Semua mata tertuju pada pengantin yang duduk di bangku akad.


Sebelum penghulu memulai semua prosesi ijab qabul, Fatih lebih dulu meminta ijin. Ia berdiri dan memberi isyarat pada pembawa acara agar menyerahkan mikrofon yang dipegang.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. Sebelumnya ijinkan saya berbicara sedikit sebelum acara akad nikah ini dilaksanakan."


Semua tamu undangan fokus pada Fatih. Ingin tahu apa yang akan Fatih sampaikan.


"Saya ingin bercerita bagaimana saya bisa mengenal calon istri saya ini. Alisha, dia adalah calon istri saya, yang saya kenal lewat adik saya karena Salwa dan Alisha sudah lama berteman." Fatih menatap sekilas pada calon mempelainya.

__ADS_1


"Pertama kali saya berkenalan dengan Alisha, jujur saya langsung merasakan sesuatu yang berbeda dalam hati saya. Ada getaran aneh yang saya rasakan untuk dia. Hingga waktu berjalan, dan saya memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan dan niat saya untuk menghalalkan dia. Tidak mudah mendapat jawaban dari Alisha karena saya harus menunggu tiga hari sampai ia memutuskan untuk menerima saya. Tentu saya sangat bahagia karena akhirnya perasaan cinta saya di terima."


Dari bangkunya Arsya mendengarkan cerita Fatih tanpa terlewat sedikit pun. Muncul rasa cemburu dalam hati ketika mendengar pria lain jatuh cinta pada Alisha.


"Saya pikir semua adalah awal dari kebahagiaan saya, sampai akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang merupakan masa lalu Alisha. Di situlah saya sadar jika Alisha bukanlah untuk saya," sambung Fatih.


Alisha tercengang dengan ucapan Fatih. Bagaimana bisa Fatih mengatakan hal seperti itu tentang dirinya.


Mendengar ucapan Fatih, Wanda segera bangkit dari tempat duduknya. Mencoba menghentikan apa ingin Fatih katakan lagi. Mendadak perasaannya berubah was-was. "Fatih, apa yang kamu lakukan?"


Fatih mengabaikan Wanda. Ia kembali berbicara, "Karena itulah saya ingin membatalkan pernikahan ini."


Semua menjadi riuh. Melontar tanya kenapa Fatih melakukan semua ini. Tak terkecuali Arsya. Pria itu langsung berdiri dan menatap Fatih tidak suka. Bagaimana bisa ia mempermalukan Alisha sedemikian rupa. Arsya tidak terima!


"Mas Fatih." Alisha yang sejak awal mencoba tenang dan berpikir positif bahkan ikut juga berdiri. Tentu ia harus tahu kenapa Fatih memutuskan semua secara sepihak di depan tamu undangan. Tidakkah Fatih berpikir panjang akan nasibnya kelak.


Imran sebagai wali nikah Alisha juga sama terkejutnya. Lelaki tua itu pun sontak berdiri, hendak mencari penjelasan dari calon menantunya itu.


"Ada apa, Mas. Kenapa Mas Fatih melakukan semua ini. Kalau memang ingin membatalkan pernikahan, saya akan coba menerima, tapi bukan dengan mempermalukan saya." Alisha yang biasanya tak banyak bicara terpaksa bicara panjang lebar demi jawaban Fatih.


"Aku tidak bisa bersama dengan orang yang hatinya bukan milikku. Aku akan melepaskanmu dan kembali pada hati yang mengikatmu." Setelah kalimat itu Fatih pergi begitu saja dari akad nikah.


Hanya Wanda yang tidak mengerti. Ia berlari, berusaha mengejar putranya. "Fatih, tunggu ... ada apa semua ini, Fatih?"


Fatih abaikan pertanyaan Wanda. Ia terus berjalan meninggalkan gedung yang akan menjadi tempat akad nikahnya yang kini gagal.


"Fatih, tunggu!" teriak Wanda lagi.


Fatih berusaha mengeraskan hati agar dirinya tidak terlalu hancur menjadi keping-keping. Ia juga menulikan telinga dengan seruan Wanda yang terus mengejarnya.


Ia hanya ingin segera pergi. Menjauh agar tak semakin terluka.


Kepergian Fatih menimbulkan banyak tanya di antara para tamu undangan. Termasuk Jimmy. Manajer Arsya itu tak percaya jika pertemuannya dengan Fatih beberapa hari lalu berdampak besar pada keputusan pria itu hari ini.


Pertanyaan-pertanyaan Fatih tentang masa lalu Alisha dan Arsya tak mungkin bisa Jimmy elak. Sebagai teman ia dituntut oleh Fatih untuk jujur tanpa ada sedikit pun kebohongan yang harus ditutupi. Dan kejujurannya berbuah gagalnya pernikahan Fatih dan Alisha.


Alisha yang masih berdiri menatap kepergian Fatih tak mampu berkata-kata, apalagi mencegah. Ia pasrah dengan semua yang Fatih putuskan. Meski ada air mata yang menetes, Alisha tetap berusaha tegar. Ia abaikan gunjingan yang terdengar di antara tamu undangan.


Ini bukan pertama kalinya ia digunjing. Ia sudah kebal. Kalaupun harus sakit, pasti hanya sebentar. Begitu kalimat yang Alisha suarakan dalam hatinya.

__ADS_1


"Kita pulang, Pakdhe," ujar Alisha lirih.


Imran pun menurut dengan keponakannya itu. Mau bagaimana lagi jika pengantin pria sudah pergi.


"Tunggu!" sergah Arsya.


Suara Arsya mampu menghentikan langkah Alisha dan Imran.


"Aku yang akan menikahimu," ujar Arsya. Berjalan menghampiri Alisha. "Mungkin aku tidak sebaik Fatih, tapi aku akan berusaha untuk membahagiakanmu."


Alisha bergeming. Menatap Arsya dengan gamang.


"Alisha," panggil Imran. "Berilah jawabanmu, Nak."


Laras yang tadi juga mengikuti Alisha ikut berbisik, "Terimalah, Nak Arsya sudah banyak berubah. Ini juga akan menyelamatkanmu dari tuduhan banyak orang karena ditinggal pengantin pria."


"Bagaimana Alisha?" tanya Imran lagi.


Setelah berpikir singkat, Alisha pun menganggukkan kepala. Sebuah jawaban yang menjadi jalan untuk Arsya kembali menjadi suami Alisha.


Kini ia duduk di depan penghulu. Menjabat tangan Imran sebagai wali nikah. Dengan lantang dan tegas Arsya membuka suara, "Saya terima nikah dan kawinnya Alisha Ramadhani binti Yusuf dengan mas kawin uang sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai!"


Seruan sah dari saksi yang hadir, menjadikan pernikahan Alisha dan Arsya pun sah di mata hukum dan agama. Kembali, akad tak terelak.


Air mata Alisha mengalir deras kala ia mencium tangan Arsya yang kini kembali sah menjadi suaminya. Jodoh memang tidak bisa ditebak. Alisha sudah berusaha lari tapi Tuhan masih menautkannya dengan pria yang sama.


Jika sudah jodoh, dengan cara apa pun Tuhan pasti menyatukan. Termasuk dengan cara yang menyakitkan dan tak masuk akal.


🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊


Hola ... semua readers terZeyeng. Pertama-tama aku mau ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga dilancarkan puasanya, diterima amal ibadahnya ... Aamiin.


Akhirnya sampai juga di bab ini, sesuai alur yang aku rencanakan. Kalau ada yang tanya kenapa gak sama Fatih aja(Fatih kan baik), karena Fatih baik jadi aku mau bikin kisahnya aja nanti(insyaallah setelah lebaran) biar dia dapat jodoh yang pas buat dia😁.


Dan kalau ada yang tanya kenapa up nya lama, karena aku ada bayi. Tiga hari ini nggak bisa up sebab bayiku abis imunisasi. Pasti tahu lah yak, gimana ngeREOGnya anak abis imunisasi.


Pokoknya terima kasih banyak buat yang masih bersedia nunggu lanjutan kisah Arsya dan Alisha ini. πŸ™πŸ₯°


Tengkyuβ™₯️β™₯️β™₯️Sayang Hee

__ADS_1


__ADS_2