Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.29 Jangan Pernah Bermimpi Untuk Bercerai!


__ADS_3

Masih dengan tawa yang membuat Alisha bingung. Arsya meletakkan kotak obat yang tadi ia bawa ke atas nakas. Ia memperhatikan istrinya yang menunggu jawaban darinya. Ia usap wajah hingga rahangnya.


"Apa menurutmu perceraian semudah itu?"


Alisha terdiam.


"Dulu aku tidak pernah ingin menikahimu, tapi kamu justru menerima tawaran dari orang tuaku. Sekarang baru dua bulan pernikahan ini berjalan dan kamu mau meminta cerai. Apa kamu sengaja ingin menghancurkan hidupku, hah!" Arsya sedikit emosi mendengar permintaan istrinya.


"Kamu tahu, gara-gara laporanmu ke polisi, karirku perlahan hancur. Sekarang saat aku sedang merintisnya kembali kamu ingin membuat semuanya luluh lantak. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"


Alisha menggeleng. Kenapa jadi ia yang seakan bersalah sekarang. Ia hanya ingin bebas dari tekanan ini. Tidak ada niatan lain selain itu.


"Aku ...."


"Apa! Kau ingin membalas semua yang kulakukan padamu malam itu, begitu, 'kan?"


"Tidak, aku tidak punya maksud seperti itu, aku hanya tidak ingin lagi berada dalam pernikahan ini. Aku ...."


"Ok ...," sela Aksa. "Kalau aku menceraikanmu, kira-kira ke mana kamu akan pergi? Apa kamu akan pulang ke rumah Pakdhemu dan membuatnya menangis karena pernikahan keponakan yang ia besarkan selama ini hanya mampu bertahan dua bulan saja. Lalu bagaimana dengan gunjingan dan cibiran orang. Apa kamu sudah memikirkannya?"


Alisha menjadi gamang. Arsya benar-benar pintar mempermainkan pikirannya. Rupanya sulit sekali lepas dari pria ini.


"Begini saja, aku tidak akan menceraikanmu dan kamu boleh minta apa pun yang kamu inginkan. Anggap saja kita membuat kesepakatan," usul Arsya.


"Maksudnya?"


"Ya, aku tidak akan menceraikanmu karena saat ini aku tidak ingin karirku hancur, jadi kita buat kesepakatan agar kamu tetap bertahan menjadi istriku. Katakan apa yang kamu inginkan dan akau akan memenuhi itu."


Alisha bingung dengan tawaran Arsya ini.


"Kamu boleh memikirkannya, tapi satu yang harus kamu ingat! Jangan pernah bermimpi untuk bercerai jika bukan aku yang menginginkannya." Arsya lalu pergi meninggalkan kamar.


Kini Alisha dalam kebimbangan. Bagaimana ia harus mengambil sikap. Arsya sudah mengatakan ia tak akan pernah menceraikannya.

__ADS_1


Kalau tidak bercerai bagaimana ia akan pergi dari hidup pria itu. Kalau terus dijalani, Alisha yakin ia bisa jadi gila. Lalu apa yang harus ia lakukan.


Banyak hal yang harus Alisha pikirkan dan pertimbangkan. Bukan hanya soal dirinya, tapi juga orang-orang yang menyayanginya. Ia tidak bisa egois dengan memikirkan dirinya sendiri.


Saking banyaknya pikiran, ia merasakan mual di perutnya. Ia ingat jika ia belum makan sejak kemarin karena ia tak jadi pergi ke acara makan-makan yang diadakan Mbak Ratih. Kepalanya juga mendadak sedikit pusing. Akhirnya ia memilih untuk merebahkan dirinya dulu, berharap rasa mual dan pusingnya menghilang. Lagi pula ini sudah masuk dini hari.


Rasanya baru beberapa jam Alisha terpejam, adzan subuh membangunkannya. Ia masih merasakan pusing di kepalanya, juga rasa mual yang kembali menyerang ketika ia bangun tidur. Tubuhnya pun lemas. Ia melihat ke arah sofa tapi tak ada Arsya di sana. Dengan tertatih ia menjangkau kamar mandi. Di sana Alisha ingin muntah tapi tak ada yang bisa ia keluarkan dari perutnya. Hanya saja perutnya terasa diaduk dan diremas.


Ia sampai duduk di atas closet untuk beberapa saat. Berusaha mengumpulkan kembali tenaganya yang terkuras karena mual yang ia rasakan.


Alisha menepuk pipinya sendiri, untuk menguatkan diri. Tidak ada yang bisa ia mintai tolong, sebab tak ada orang di kamar itu.


Alisha kembali berjalan dari kamar mandi setelah mengambil wudhu. Ia menjagkau ranjang untuk duduk sebentar dan meminum air yang kemarin Arsya sediakan di atas nakas. Di sana ia juga melihat kotak obat yang digunakan Arsya untuk mengobati kakinya.


Setelah meminum beberapa teguk air putih untuk memberikannya tenaga, Alisha pun mendirikan salat. Belum sempat Alisha menyelesaikan doanya kala mual di perutnya begitu terasa. Segara ia melepas mukena dan berlari ke kamar mandi. Kembali ia berusaha memuntahkan isi perutnya yang kosong.


Kali ini Alisha sudah tidak tahan, tubuhnya sangat lemas dan perutnya sangat sakit. Ia tidak tahu di mana suaminya kini berada. Ia juga tidak kuat berdiri saking lemasnya, karena itu Alisha berusaha meraih benda apa pun. Di atas wastafel dan menjatuhkannya.


Dari suara berisik itu, Arsya bisa mendengar. Pria itu pun segera bangun dan beranjak menuju kamar. Ia tak mendapati Alisha di tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Benar saja, Alisha sudah tergeletak tak sadarkan diri di sana.


Ia menepuk-nepuk pelan pipi Alisha, berusaha membangunkan wanita itu. Beberapa kali mencoba akhirnya Alisha tersadar.


"Alisha, kamu tidak apa-apa, kan?"


Meski berat, alisha berusaha untuk membuka matanya.


"Kita ke rumah sakit," ujar Arsya. Namun ketika pria itu hendak menggendong tubuhnya, Alisha menolak dengan menahan tangan suaminya. Alisha menggelengkan kepala.


"Alisha, kondisimu sangat lemah. Aku tidak akan macam-macam denganmu jadi jangan berpikir hal lain." Arsya pikir Alisha menahannya karena sentuhannya.


"Aku baik-baik saja, aku hanya belum makan," ujar Alisha jujur. Memang itu yang Alisha rasakan. Ia lemah karena tidak ada energi dalam tubuhnya. Dan rasa mualnya pasti dipicu asam lambung yang naik akibat perut kosong ditambah dengan banyaknya pikiran. Ia tidak perlu dibawa ke rumah sakit. Cukup makan dan istirahat pasti ia akan membaik dengan sendirinya. Begitu pikirnya.


"Apa?" tanya Arsya bingung.

__ADS_1


Dengan lemah Alisha berkata, "Aku hanya butuh makan, Mas. Aku lapar."


"Ok, aku belikan makanan untukmu. Sementara itu, kamu minum dulu agar tidak semakin lemas." Arsya mengambilkan air minum lagi ke dapur karena air di gelas sudah habis. Setelah membantu Alisha minum, ia pamit untuk membeli makanan.


Setelah dua puluh menit, Arsya kembali dengan membawakan bubur untuk istrinya. Ia membangunkan Alisha yang ternyata kembali tertidur.


"Bangunlah, aku bawa bubur," ujar Arsya.


Alisha pun bangun. Ketika Arsya menyentuh bahunya untuk membantu, Alisha menatap tangan suaminya itu.


"Aku hanya ingin membantu," ujar Arsya menjelaskan. Istrinya ini terlalu curiga padanya. Akhirnya Alisha pasrah ketika Arsya membantunya untuk duduk.


Pria itu menyiapkan bubur yang ia beli ke dalam mangkok dan memberikannya pada Alisha. Perlahan Alisha menyendok bubur itu sendiri. Arsya yang duduk di tepi ranjang terus mengamati setiap sendok yang Alisha suapkan ke mulutnya. Hingga rambut panjang istrinya itu mendadak jatuh menjuntai menutupi wajah.


Dari situlah Alisha tersadar jika ia tak mengenakan hijab. Rasa panik langsung menyerang. Tapi Arsya lebih dulu mengambil rambutnya dan menyelipkannya ke belakang telinga. Membuat Alisha berhenti menyuap.


Ia pun menatap Arsya gugup.


"Aku suamimu, tidak ada dosa jika aku melihat rambutmu," ujar Arsya.


Membuat Alisha tak bisa memabantah.


"Habiskan makanmu."


Alisha lebih memilih menurut sebab ia masih butuh bubur itu untuk mengembalikan tenaganya. Tapi, lagi-lagi rambut panjangnya menjuntai menghalangi pandangan dan menutup mulutnya. Sangat mengganggu.


Tahu akan ketidaknyamanan itu Arsya langsung mengambil penjepit rambut dan meraih rambut alisha.


"Tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri," tolak Alisha saat Arsya akan mengikat rambutnya.


"Sudah lanjutkan saja makanmu." Tak menghiraukan penolakan Alisha, Arsya tetap mengumpulkan semua rambut Alisha yang menjuntai dan menjepitnya dengan jepitan rambut supaya tak lagi mengganggu.


"Terima kasih," hanya itu yang keluar dari bibir Alisha.

__ADS_1


Sedangkan Arsya terus saja memandangi wajah istrinya yang nampak pucat tanpa mau beralih.


__ADS_2