Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.55 Solo


__ADS_3

"Lo serius pengen nganggur?" tanya Jimmy di dalam pesawat.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju kota Solo. Sejak Arsya di tahan, Jimmy mulai mencoba bisnis kuliner. Dua tahun berjalan, usaha Jimmy terlihat kemajuannya sehingga ada sebuah tawaran untuk mengembangkan usahanya tersebut di kota Solo.


"Hmm."


"Kemarin ada tawaran jadi bintang tamu di salah satu talk show. Ada juga beberapa podcast yang ingin ngundang lo."


"Gue nggak mau."


"Sampai kapan sih, lo mau kayak gini. Ini udah dua hari lo bebas tapi lo kayak mayat hidup aja. Gak ada spirit. Cuma makan, tidur, salat, makan lagi ... gitu aja terus," protes Jimmy.


Sejak bebas Arsya memang memilih tinggal di apartemen Jimmy. Ia pulang ke apartemennya sebentar setelah dari rumah Imran. Begitu masuk, kenangan bersama Alisha tiba-tiba berkelebat dalam ingatan. Membuat Arsya tak mampu jika harus tinggal di sana sendirian.


Kepergian Arsya ke Solo ini juga dipaksa oleh Jimmy. Agar pikiran temannya itu bisa di-refresh, dan tidak fokus pada masa lalu.


Arsya hanya diam tak menanggapi. Fokusnya masih pada buku bernuansa religi yang ada di pangkuan.


"Sya, lo udah lepasin Alisha dulu. Biarkan dia bahagia dengan hidupnya sekarang, dan lo juga harus move on. Lo nggak bisa kalau kayak gini terus."


Arsya menutup buku yang sejak tadi menjadi kesibukannya sejak ia duduk di bangku kabin. "Gue akan benar-benar ikhlas kalau gue sudah bisa memastikan jika Alisha benar-benar bahagia dengan hidupnya saat ini. Dan gue nggak akan menyerah sebelum gue melihat semua itu."


"Serah lo deh. Mau muterin bumi buat nemuin Alisha juga bukan urusan gue!" Menyerah, Jimmy memilih untuk menutup wajah dengan jaket dan berpura-pura tidur. Percuma bicara dengan orang keras kepala seperti Arsya.


Arsya yang berada di samping Jimmy hanya bisa tersenyum, membetulkan topi lalu melanjutkan kembali aktivitas membacanya sampai pesawat mereka mendarat di bandara Adi Soemarmo.


Sebelum ke hotel dan bertemu dengan temannya, Jimmy mengajak Arsya untuk makan siang terlebih dulu di sebuah pusat perbelanjaan terkenal di kota Solo.

__ADS_1


"Lo tahu nggak kenapa gue ngajak lo makan di sini, bukan di restoran hotel," seloroh Jimmy.


Arsya hanya menggedikkan bahu.


"Biar lo bisa cuci mata. Gue yakin selama di dalam tahanan yang lo liat cuma tembok ama jeruji. Kalau di sini lo bisa liat banyak cewek cantik, noh." Jimmy asal menunjuk wanita yang berlalu lalang di depan dan sampingnya.


"Kali aja, lo bisa ketemu Alisha juga. Biar stres lo ilang," sindir Jimmy.


"Gue aamiin-kan aja deh apa yang lo bilang."


Jimmy seketika berhenti. Aneh dengan sikap Arsya yang kalem. Bukankah seharusnya pria itu mengumpat atau memakinya jika omongan Jimmy melantur. Jimmy sampai geleng-geleng kepala melihat perubahan sikap Arsya. Apakah penjara begitu hebatnya sampai bisa merubah sifat seseorang.


Arsya yang dulu tempramental dan arogan sekarang bisa setenang ini. Bahkan ucapannya begitu berbeda dari apa yang dulu sering keluar dari mulutnya. Umpatan!


"Woi, tunggu gue!" Jimmy berlari mengejar Arsya yang sudah naik eskalator meninggalkannya.


Sebuah restoran seafood yang berada di dalam pusat perbelanjaan menjadi pilihan Jimmy dan Arsya. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Jimmy memilih untuk membuka ponselnya. Mengecek pesan juga media sosialnya.


Ia memakai kembali topi yang sebelumnya ia lepas. Arsya berjalan sedikit menunduk. Menghindari orang yang mungkin bisa mengenalinya. Ia masih belum percaya diri untuk kembali dikenal banyak orang. Dua tahun di dalam tahanan, membuatnya jadi pribadi yang lebih tertutup.


Bruk


Dari arah berlawanan seseorang menabrak Arsya tanpa sengaja. Wanita yang tadi sedang sibuk dengan ponselnya berulang kali minta maaf karena merasa bersalah.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Anda tidak apa-apa, kan?"


Merasa tidak asing dengan suara yang ia dengar, Arsya mendongak. Menatap wanita berhijab di depannya. Pandangan mereka saling beradu. Sama-sama kaget dan sama-sama tidak percaya.

__ADS_1


Terlebih Arsya. Niat hati ingin menyapa, tapi apalah daya, lidah kelu tak bersuara. Hingga satu kesempatan ia lewatkan ketika wanita itu berlalu dari hadapannya begitu saja.


"Alisha, ayo!" Salwa yang sebelumnya berjalan lebih dulu kembali pada Alisha dan menarik wanita itu pergi.


"Ngapain sih berdiri di tengah jalan. Ganggu orang tau," omel Salwa. Masih terus menarik tangan Alisha dan membawanya ke supermarket yang ada di lantai bawah pusat perbelanjaan.


Salwa baru melepaskan tangan Alisha ketika ia akan mengambil troli belanja. Lalu mendorongnya.


Kesadaran Alisha masih belum terkumpul. Ia berjalan seperti robot mengikuti Salwa di belakang wanita muda calon adik iparnya itu. Alisha bahkan tak peduli dan tidak mendengar dengan apa pun yang Salwa bicarakan.


Pikiran Alisha sekarang masih di tempat sebelumnya. Di mana ia bertemu dengan mantan suaminya. Ia masih bingung membedakan anatar mimpi atau nyata.


"Alisha!" sentak Salwa ketika omongannya tak digubris.


"Eh ... iya, kenapa?" Alisha kaget.


"Ish ... bener, kan, kamu dari tadi nggak dengerin aku ngomong." Salwa berdecak kesal. Lalu kembali mendorong troli. "Jahat!"


"Eh ... tunggu!" Alisha mempercepat langkah menyusul.


Meskipun bisa menyamakan langkah dan berjalan beriringan, tapi pikiran Alisha belum bisa beralih. Masih memikirkan tentang Arsya.


Pria itu ada di tempat ini?


Di kota ini, kota yang sama dengan dirinya sekarang.


Apakah ia sudah bebas?

__ADS_1


"Ya Allah, benarkah tadi itu Mas Arsya?" batin Alisha.


Dari semua kota di Indonesia bagaimana bisa Arsya datang ke kota ini dan bertemu dengannya. Ini kah takdir?


__ADS_2