Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.52 Takdir Tuhan


__ADS_3

Kabut duka sepertinya enggan meninggalkan Arsya saat ini. Sehari setelah ia resmi menjadi tersangka dan harus ditahan, kabar kematian mamanya membuatnya semakin hancur.


Arsya berdiri di atas pusara Sarah yang masih basah. Baru kemarin ia menggali liang lahat untuk calon anaknya, dan kini lantunan adzan dari bibirnya mengantar mamanya pergi menghadap Yang Kuasa.


Arsya tertunduk lesu. Wajahnya muram menatap nisan bertuliskan nama wanita yang telah melahirkannya. Kehilangan dua orang sekaligus adalah pukulan telak dalam hidup Arsya.


Tuhan seolah sedang menunjukkan kuasa-Nya.


Mencabut kebahagiaan yang dulu membuat Arsya terlena hingga lupa pada siapa yang memberinya rasa bahagia. Bak ingin memperkenalkan Arsya akan rasa getir kehidupan.


Kini hanya air mata sesal yang terus mengalir. Mengiring bayang-bayang dosa yang ia buat di masa silam. Kesenangan yang dulu mati-matian ia kejar, hirap dalam sesaat ketika Tuhan tak lagi memperkenankan.


Pun dengan ajal. Hal yang dulu tak pernah terlintas di benak, sekonyong-konyong menjadi berita paling menyakitkan. Di sinilah ia dibuat tak berdaya. Jika Tuhan sudah memanggil, siapa pun tak bisa menghalangi.


Kematian mama dan calon anaknya mengingatkan Arsya dengan Sang Pemilik Kehidupan.


"Mas Arsya ...." Suara Anton yang berdiri di samping Arsya tetap membuat pria itu bergeming.


"Maafkan kami karena lalai menjaga Ibu." Ajudan papanya itu terdengar menyesal.


Arsya tetap membisu. Sedikit banyak ia sudah tahu dari cerita Asep yang ikut mengiring jenasah mamanya ke Jakarta.


Saat itu, setelah kabar ditangkapnya Arsya, Anton menghubungi Asep untuk menanyakan kabar Sarah. Di telepon itulah, Anton bercerita tentang kondisi Alisha yang kecelakaan hingga keguguran. Juga tentang Arsya yang sudah menjadi tersangka dan harus ditahan.

__ADS_1


Tujuannya agar Asep mengantisipasi jika Sarah bertanya tentang anak dan menantunya. Orang yang dipercaya untuk menjaga vila itu harus bisa menyembunyikan berita yang tengah ramai agar tak diketahui Sarah. Semua dilakukan untuk menjaga kesehatan dari majikannya itu.


Namun nahas, tanpa sengaja Sarah mendengar percakapan Anton dan Asep. Seketika itu juga, hati Sarah bagai dihantam godam. Hancur tak bersisa.


Bukan hanya itu, nyeri kepala hebat langsung menyerang kala pikirannya dipaksa keras untuk bekerja.


Asep tak mampu lagi menyembunyikan berita itu selain mengungkap apa yang tadi Anton ceritakan. Sarah pun memaksa Asep untuk mencari berita tersebut melalui telepon pintar.


Berita tentang putranya sudah memenuhi laman media online. Suaminya pun tak luput disinggung dalam artikel tersebut.


Membaca semua berita itu membuat kepala Sarah semakin sakit, tapi enggan dipanggilkan dokter. Bahkan Sarah menyuruh semua pelayan meninggalkan ia sendiri di kamar dengan dalih ingin menenangkan diri.


Hingga di pagi hari, Sarah ditemukan tewas di kamar mandi. Pecah pembuluh darah otak dan terjatuh membuat Sarah tak mampu lagi bertahan hidup.


"Bapak Arsya, sudah saatnya kita kembali ke rutan," ujar polisi yang mengantarkan Arsya ke pemakaman.


******


Alisha terus saja menangis ketika ia sadar dan tahu kabar tentang kegugurannya juga berita kematian Sarah. Ia tak menyangka jika semua ini akan terjadi dalam satu waktu di hidupnya.


Ia menyalahkan Arsya atas semua yang terjadi. Kenapa dia harus bertemu dan berjodoh dengan manusia macam Arsya. Pria tak bermoral itu menghancurkan hidupnya dengan mengambil kehormatannya. Sekarang ia kehilangan calon bayinya juga karena Arsya.


Imran yang sejak kemarin menemani Alisha, hanya diam membiarkan keponakannya itu meluapkan emosinya dengan tangis. Ia tahu benar jika Alisha sangat terpukul dengan musibah ini.

__ADS_1


"Kenapa harus Alisha, kenapa bukan orang lain, Pakdhe?" ujar Alisha di tengah tangis.


"Kalau memang janji Allah benar, bahwa laki-laki baik untuk wanita baik dan laki-laki keji untuk wanita keji. Lalu kenapa Arsya yang menjadi jodoh Alisha.


Selama ini Alisha sudah berusaha taat, Alisha memenuhi kewajiban Alisha sebagai wanita muslimah, lalu kenapa harus pria seperti Arsya yang menjadi jodoh Alisha!" Alisha seakan tak terima dengan takdirnya. Ia ingin protes.


Imran masih bersikap tenang. Ia menatap Alisha yang berderai air mata. Lalu perlahan berkata, "Jangan merasa dirimu lebih baik dari manusia lain. Sebab di saat kamu merasa dirimu lebih baik dari orang lain, di saat itulah kamu sedang sombong. Sedangkan sombong itu adalah ketidakbaikan. Dan jangan pernah meragukan janji Allah. Jika jodoh yang tertakdir untukmu sekarang menurutmu tidak baik, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah. Sesungguhnya Allah maha tahu mana yang terbaik bagi hambanya."


Alisha terdiam. Memikirkan ucapan Imran. Air mata yang tadinya hampir surut kembali menetes bahkan semakin menderas. Ketika ucapan pakdhenya menyentil nurani dan akalnya.


Merasa lebih baik dari Arsya adalah sebuah keburukan. Di situlah Alisha mengucap istighfar berkali-kali karena telah merasa sombong.


Memangnya siapa dirinya berani mempertanyakan takdir Tuhan. Terlebih meragukan.


"Tidak ada yang salah dengan takdir Allah, Alisha. Semua adalah yang terbaik. Hanya saja sebagai manusia apakah kamu bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang terjadi." Pandangan Imran masih tertuju pada keponakannya.


"Semua orang punya masalah, tapi tidak semua orang bisa mengambil pelajaran dari masalah yang mereka hadapi," imbuh Imran. "Dan pesan pakdhe untukmu, ambillah hikmah dari kejadian ini."


Alisha merenung. Benar apa yang pakdhenya katakan. Karena berjodoh dengan Arsya, ia bisa mengenal Sarah dan mendapatkan kasih sayang serta perhatian dari wanita itu. Hal yang tak bisa ia rasakan karena ibunya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Sarah adalah sosok ibu impiannya.


Soal calon bayinya, mungkin inilah yang terbaik untuk anaknya. Bayi itu ada karena nafsu yang tak bisa dikendalikan sebelum terjadinya akad. Sedangkan bayi yang hadir di luar pernikahan tidak bernasab pada ayahnya.


Yah, itulah hikmah yang harus Alisha petik. Allah takdirkan semua yang terbaik untuknya.

__ADS_1


Alisha menyusut air mata. Ia berusaha menguatkan hati. Menatanya kembali untuk melanjut hidup.


"Alisha ingin bercerai."


__ADS_2