
Hari demi hari Arsya lalui dengan penuh kebahagiaan sekaligus rasa penasaran. Bagaimana tidak, usia kandungan Alisha sudah sembilan bulan. Namun, sampai pemeriksaan terakhir kemarin jenis kelamin anaknya belum terlihat.
Nampaknya bayi dalam rahim Alisha ingin memberi kejutan untuk orang tuanya hingga dokter tidak bisa melihat jenis kelaminnya.
"Dedek bayinya malu, makanya membelakangi kamera terus kalau diperiksa," ujar dokter kandungan dengan candaan pas terakhir kali periksa.
Kendati tidak bisa melihat jenis kelamin anaknya, ada rasa tenang juga karena lewat pemeriksaan kemarin baik ibu maupun janinnya dinyatakan sehat. Berat badan janin sudah cukup dan siap untuk dilahirkan.
Bersyukur juga karena selama kehamilan Alisha menjadi wanita yang kuat. Tidak banyak permintaan dan tidak juga banyak mengeluh. Hanya akhir-akhir ini saja istrinya itu mengatakan mudah lelah sebab tubuhnya yang semakin berat untuk berjalan.
Soal ngidam, sudah diwakilkan oleh Arsya. Mulai dari mual hingga keinginan akan makan-makanan yang di luar kebiasaan Arsya.
Akan tetapi malam ini tiba-tiba Alisha menginginkan sesuatu. "Mas, aku pengen banget makan cuanki yang ada di dekat SMA Negeri 2," ujar Alisha.
"Di mana itu?"
"Itu ... di dekat rumahnya Pakdhe, di sana kan ada SMA Negeri 2. Di depan sekolah itu ada yang jual cuanki rame banget. Besok ke sana, ya?"
Arsya mengangguk. Apa pun yang Alisha minta selama ia bisa, pasti akan Arsya turuti. "Ya udah, sekarang tidur." Arsya mengusap kepala Alisha.
Menuruti kata suaminya, Alisha dibantu oleh Arsya segera merebahkan diri. Tidak sabar akan hari esok.
Sudah lama Alisha penasaran dan ingin mencoba kuliner khas kota Bandung tersebut. Beberapa kali, waktu ke rumah Pakdhe Imran, ia melihat kedai cuanki yang begitu ramai.
Entah karena sedang hamil jadi mudah kepengen atau bagaimana, yang pasti Alisha sangat ingin makan cuanki di kedai tersebut.
*****
Seperti permintaan istrinya, Arsya mengantar Alisha ke kedai cuanki yang berada di depan SMA Negeri 2.
"Di mana?" tanya Arsya yang celingukan mencari warung cuanki.
"Itu Mas di depan sana, tapi kita parkirnya di sini aja biar nggak bikin macet."
Menuruti kata istrinya Arsya segera menepi untuk parkir. Dari tempatnya memarkir mobil mereka berjalan ke kedai cuanki.
"Di mana, Sayang?" Arsya masih belum melihat."
"Itu, Mas, yang rame itu." Alisha menunjuk sebuah warung tenda yang tengah ramai.
Arsya memandang ke depan, tepat ke arah jari Alisha menunjuk. Ada warung tenda dengan gerobak kecil tapi begitu ramai pengunjung.
__ADS_1
Baik Alisha maupun Arsya berjalan kaki menuju keramaian tersebut. Meskipun hanya gerobakan tapi pengunjungnya ngalahin restoran.
"Kamu yakin mau makan di sini?" bisik Arsya. Rasanya tidak meyakinkan sekali jika makan di tempat ini. Terlebih kondisi Alisha yang hamil.
"Yakin, Mas."
Melihat kedai cuanki yang berada di pinggir jalan, Arsya ragu. Tetapi jika melihat banyaknya pengunjung, Arsya jadi ingin tahu kenapa bisa seramai itu.
Mau heran tapi ini nyata. Senyata keinginan istrinya yang lagi ngidam.
"Ya udah, kamu tunggu di sana aja biar aku yang pesan," ujar Arsya menunjuk meja yang kosong.
Baru juga Arsya mau mendekat pada penjual yang berdiri di belakang gerobak, tapi Bapak penjual cuanki lebih dulu berseru, "Maaf, Mas, sudah habis."
Seketika terlihat raut kecewa di wajah Alisha, dan Arsya menyadari itu.
"Sedikit aja nggak ada, Pak. Ini istri saya lagi hamil pengen banget makan cuanki di sini." Arsya masih berharap ada cuanki untuk Alisha.
Pedagang itu ragu karena cuanki dagangannya sudah dipesan dan akan di ambil sebentar lagi. Tetapi kalau melihat kondisi Alisha yang hamil, tidak tega juga.
"Kalau begitu tunggu sebentar ya, Mas. Saya bungkus pesanan dulu," ujar Bapak penjual cuanki akhirnya.
"Iya, Pak, kami tunggu."
"Sabar, ya," gumam Arsya pada perut besar Alisha.
Beberapa saat kemudian penjual cuanki memanggil Arsya. "Mas, ini masih ada tapi sudah nggak komplit hanya tinggal bakso acinya saja, bagaimana?"
Arsya menatap istrinya meminta persetujuan. Sebab yang kepengen sekali Alisha.
"Ya, Mas, nggak apa. Dari pada nggak makan sama sekali. Soalnya aku pengen banget," ujar Alisha. Sudah membayangkan segarnya kuah cuanki dengan racikan pedas.
Arsya pun mendekat ke gerobak cuanki. "Iya, Pak, buatin ya."
Setelah diracik, Arsya sendiri yang membawa semangkuk cuanki berisi tiga buah bakso aci dan kuah itu. Hanya tiga, karena memang tinggal itu saja yang tersisa.
Demi memuaskan rasa ngidamnya, Alisha tetap menyantap tiga bakso aci beserta kuahnya yang masih panas mengepul. Melihat Alisha makan, Arsya terus saja mengelus perut istrinya.
Pemandangan itu sampai membuat pengunjung lain memperhatikan sikap Arsya. Mungkin karena paras Arsya yang rupawan, atau mungkin juga karena mereka tahu siapa Arsya.
Bahkan ada yang diam-diam merekam perhatian Arsya kepada istrinya itu. Entah untuk tujuan apa.
__ADS_1
"Seger banget, Mas." Alisha mengusap mulutnya dengan tisu setelah menghabiskan kuah cuanki. Benar-benar bersih tanpa sisa. Arsya sampai heran melihatnya.
"Kamu tunggu di sini, ya. Aku bayar dulu."
Alisha mengangguk patuh.
"Berapa, Pak?" tanya Arsya pada pedagang.
"Nggak usah, Mas. Gratis buat Mbaknya yang lagi hamil."
"Jangan gitu dong, Pak. Ambil ini." Arsya menyerahkan selembar uang kertas berwarna merah.
"Beneran, Mas, nggak usah. Saya tahu istri Mas ngidam. Minta doanya saja semoga dagangan saya makin laris tiap harinya," ujar pedagang menolak uang dari Arsya.
"Kalau begitu terima kasih, Pak. Semoga lancar terus jualannya," jawab Arsya mendoakan.
Ia pun menghampiri Alisha. "Udah, kan? Ayo!"
"Udah, Mas. Meski hanya bakso aci dan kuahnya saja sudah bikin aku seneng. Udah keturutan keinginanku, Mas. Jadi kalaupun hari ini aku melahirkan rasanya udah siap," gurau Alisha.
Tidak menyangka, hanya karena semangkok cuanki yang tak komplit sudah membuat istrinya begitu bahagia. Arsya pun dengan hati-hati menuntun Alisha kembali ke mobil.
Sebelum pulang mereka mampir ke rumah baru yang akan mereka tempati nanti. Semua sudah siap sesuai apa yang mereka inginkan untuk rumah baru mereka. Selain menyewa jasa interior design, Naima juga sangat membantu menata rumah baru mereka. Adik Arsya itu punya selera yang bagus dalam hal tata ruang.
"Semua barang-barang kita sebagian besar sudah di bawa ke sini, 'kan, Mas?" tanya Alisha begitu sampai ke rumah baru mereka.
"Sudah, nanti habis kamu lahiran kita bisa langsung pulang ke sini."
"Keponakannya Bi Sumi jadi ikut kerja sama kita?"
"Iya, katanya nanti malam dia sudah berangkat dari kampungnya."
"Alhamdulillah."
Begitu memasuki rumah baru itu kumandang adzan ashar terdengar. Arsya pun mengajak Alisha untuk salat di sana sekalian sebelum pulang.
Arsya mengambil wudhu lebih dulu baru Alisha. Sebab wanita itu ingin ke kamar mandi.
Belum lima menit Alisha masuk ke kamar mandi, teriakan wanita itu membuat kaget Arsya.
"Mas!" teriak Alisha dari kamar mandi.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Arsya langsung berlari. Takut terjadi sesuatu dengan istrinya.