Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 94 Melamar


__ADS_3

Bab. 93


"Diminum, Jim," ujar Fatih mempersilakan, setelah Salwa meletakkan cangkir berisi teh hangat.


Jimmy sengaja tidak langsung ikut ke hotel melainkan ke rumah Fatih dulu. Selain undangan dari Fatih juga karena ingin bersilaturahmi dengan ibunya Fatih.


"Nih camilannya, cocok buat teman ngeteh." Wanda muncul dengan membawa kue bolu buatannya.


"Tan ...." Kehadiran Wanda membuat Jimmy berdiri menyalami wanita itu.


"Apa kabar kamu?" tanya Wanda.


"Alhamdulillah, sehat, Tan."


"Alhamdulillah, ayo duduk." Wanda duduk lebih dulu, baru disusul Jimmy yang duduk di sebelah Fatih.


Sementara Salwa memilih duduk satu sofa dengan ibunya.


"Nah, kalau ke Solo sering-sering ke mari. Tante senang liat teman anak Tante mau main ke rumah. Nginep sini, ya?"


"Ehm ... Jimmy udah booking hotel Tante, bareng sama Arsya dan Alisha."


Mendengar nama Alisha disebut raut wajah Wanda langsung berubah. Rasa kecewa yang dulu pernah ada kembali menyeruak. Perubahan itu disadari benar oleh Jimmy.


"Maaf, Tante ... Jimmy nggak ada maksud ...."


"Udah, nggak apa-apa," potong Fatih cepat. Ia harus menyadarkan Ibunya jika semua yang terjadi dulu adalah keinginannya.


"Iya, nggak apa-apa." Wanda pun menyahut, lalu dengan cepat berusaha mengulas senyum.


Jimmy jadi merasa tak enak hati pada Wanda karena sudah menyebut-nyebut Arsya dan Alisha. Meskipun sudah lalu, Jimmy paham benar perasaan Wanda sebagai orang tua yang harus melihat pernikahan putranya gagal.

__ADS_1


"Nak Jimmy kapan menyusul?" tanya Wanda untuk kembali mencairkan suasana yang sempat kaku.


Ditanya seperti itu, Jimmy langsung salah tingkah. Ia mulai mengusap kepalanya yang sebenernya tidak gatal. "Ehm ... itu Tante ...."


Jimmy bingung harus memulai dari mana. Ia pun menatap Fatih yang tak tidak mengerti dengan sikap Jimmy. Kemudian beralih pada Salwa. Gadis itu justru melengos begitu saja. Tidak acuh pada apa yang ingin Jimmy katakan pada ibunya.


Jantung Jimmy semakin berdegup kencang. Merasa tidak ada yang paham akan apa yang ia rasakan sekarang. Meskipun begitu, Jimmy tetap berusaha untuk berbicara.


"Ehm ... begini Tante, jadi niat Jimmy ke sini bukan hanya sekadar main dan bersilaturahmi. Jimmy berniat melamar Salwa, Tante." Bibir Jimmy bergetar saat mengucapkannya. Namun, ada rasa lega karena sudah mengungkapkan.


Bukan hanya Wanda, tapi Fatih dan Salwa sama-sama melotot. Tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Bahkan untuk beberapa saat ruang tamu di rumah Fatih itu sunyi senyap. Mereka semua masih dalam mode freeze.


"Saya serius, Tante," ujar Jimmy selanjutnya. Tentu untuk meyakinkan jika ia tidak sedang bercanda apa lagi melawak.


Wanda langsung menatap Fatih. Dari sorot matanya seakan ingin bilang; Teman kamu ini lagi kesambet apa?


"Saya sadar, Tante, nggak lagi kasambet."


"Saya ...."


Fatih langsung memotong ucapan Jimmy sebelum temannya itu kembali berbicara. "Jim ... Jim ... bentar, deh."


"Gue serius, Fatih. Gue pengen ngelamar adik lo. Gue jatuh cinta sama adik lo dan pengen menikahi adik lo," terang Jimmy cepat.


Kali ini pandangan Wanda beralih pada Salwa. Apa Salwa menyembunyikan sesuatu. Atau jangan-jangan mereka memang sudah merencanakan semua ini untuk membuatnya syok.


Salwa gelagapan mendapatkan tatapan penuh tanya dari ibunya. Ia pun segera memberi kode dengan menggerakkan tangannya di depan dada. Menyanggah semua tuduhan ibunya. "Buk ... aku ndak tahu apa-apa, bener ... sumpah."


Wanda jadi bingung sendiri. Anak-anaknya tidak ada yang bercerita sama sekali tentang hubungan Salwa dan Jimmy sebelumnya tapi hari ini mendadak ia mendapatkan lamaran untuk Salwa. Lalu bagaimana ia akan memutuskan.


Melihat kebingungan Wanda, Jimmy kembali bicara. "Sebelumnya Jimmy memang belum mengutarakan niat Jimmy ini pada Salwa ataupun Fatih, Jimmy bahkan belum mengungkapkan perasaan Jimmy ke Salwa. Tapi Jimmy serius dengan ucapan Jimmy tadi Tante."

__ADS_1


Bukannya makin terang, pikiran Wanda semakin ruwet. Jimmy dan Salwa belum ada hubungan sebelumnya, bahkan Salwa tidak tahu kalau Jimmy menyimpan perasaan pada anaknya itu dan tiba-tiba Jimmy melamar?


"Hari ini juga Jimmy akan mengungkapkan perasaan Jimmy pada Salwa." Jimmy menatap Fatih seolah minta ijin.


Fatih tidak bicara. Untuk mengiyakan atau menolak.


"Salwa, selama ini aku menyukaimu. Alasan kenapa aku tidak mengatakannya pada siapa pun karena untuk hari ini. Aku sengaja ingin langsung melamarmu pada Tante Wanda. Ingin meminta ijin sekaligus restu."


Semua orang di ruang tamu terdiam. Tidak ada yang menjawab ucapan Jimmy. Mereka benar-benar syok mendengar lamaran Jimmy yang mendadak ini.


*****


Di kamar president suit yang sudah dipesan Jimmy, Alisha baru saja menyelesaikan ritual bersih diri. Ia keluar dengan bathrobe yang membalut tubuh.


Dilihatnya Arsya sedang ada di balkon, entah apa yang pria itu lakukan.


"Mas ...," panggil Alisha.


Tidak ada sahutan dari Arsya. Pria itu masih sibuk memikirkan wanita berambut blonde yang tadi ia lihat. Ia yakin tidak salah lihat jika wanita itu adalah wanita yang sama yang ada di pagelaran busana Ivan Bridal.


Yang jadi pertanyaannya, sedang apa wanita itu di sini dan dengan siapa?


Pria yang merangkul wanita berambut blonde itu terlihat jauh lebih tua. Sebenarnya tidak masalah juga jika pria itu lebih tua, seumuran atau lebih muda. Toh, di dunia model yang ia kenal, hal-hal seperti itu sudah sangat familiar. Bukan hal baru lagi.


Banyak yang memang punya pekerjaan di luar profesi model mereka. Namun, entah kenapa wanita berambut blonde ini begitu mencuri perhatiannya hingga ia ingin tahu siapa wanita itu, dan apakah pekerjaannya juga sama seperti beberapa model yang ia kenal.


"Mas ...," panggil Alisha yang mendekat.


"Ya ...." Arsya menoleh.


"Katanya mau mandi."

__ADS_1


"Sebentar." Arsya mematikan rokok di tangan. Mencoba memupus rasa penasaran akan wanita berambut blonde.


__ADS_2