
Tiba saatnya pagelaran akbar digelar. Sebuah acara fashion besar yang melibatkan beberapa designer dari negara Asia. Arsya termasuk salah satu yang ditunjuk untuk memamerkan karya designer Indonesia.
Meskipun kondisinya kadang masih mual tapi sejak dari dokter dan meminum obat anti mual kondisinya jauh lebih baik. Ia sudah sangat siap dengan penampilannya malam ini. Terlebih ada Alisha yang menemani.
Di back stage Arsya terus menempel pada Alisha. Ia tidak mau ditinggal sedetik pun oleh sang istri. Alisha harus selalu berada dalam tangkapan indra penglihatannya.
"Mas Arsya mau minum?" Alisha mengambil jus mangga yang ia bawa dari rumah.
"Hmm ...." Arsya yang bersandar di bahu Alisha mengangguk.
Sejak sakit, hobi Arsya adalah menempel pada Alisha di mana pun berada. Posisi yang paling disukai pria itu adalah menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. Pada posisi itu Arsya bisa menikmati aroma khas tubuh Alisha. Arsya suka itu.
Alisha membuka botol dan memasukkan sedotan ke dalamnya. Lalu memberikannya pada Arsya. Usai minum Arsya kembali menyerahkan botol itu pada istrinya.
Pemandangan itu membuat Jimmy gerah. Ia heran dengan Arsya yang seolah kekanak-kanakan. Seperti hari ini ketika Jimmy melarangnya mengajak Alisha karena publik belum tahu tentang hubungan mereka yang rujuk kembali. Namun, Arsya mengancam tidak mau datang ke acara. Padahal sebelumnya Arsya adalah seorang yang menjunjung tinggi profesionalitas.
Karena tak mau ribut dan berdebat, Jimmy pun mengijinkan. Dengan syarat Alisha harus tetap di dalam ruangan agar tak terlihat media.
"Bersiap lo, Sya." Jimmy memperingatkan.
"Hmm ...." Meski menjawab tapi Arsya tak sedikit pun bergerak.
"Mas, sudah sana bersiap. Itu MUA-nya udah siap juga," ujar Alisha. "Mas ...," pinta Alisha lagi karena Arsya tetap bergeming.
"Jangan kecewakan orang yang sudah percaya sama Mas Arsya," Alisha mengingatkan.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya dengan gerakan yang ogah-ogahan Arsya mulai bangkit. Rasanya tidak mau meninggalkan Alisha walau sekejap.
Alisha memberikan support dengan gerakan tangan. "Semangat!"
Sungguh, tingkah mereka berdua begitu kekanak-kanakan di mata Jimmy. "Ayo, Sya!"
Sebelum pergi untuk di make up Arsya menyempatkan diri untuk mengecup singkat bibir istrinya. Hal yang membuat Jimmy ingin sekali mengemplang kepala Arsya. Gerah banget lihatnya!
Jimmy memang manajer sekaligus teman yang sudah teruji kesabarannya menghadapi Arsya. Dari jaman dulu ketika sifat pria itu arogan dan tempramental, kemudian berubah menjadi pria yang seolah tak dikenalnya karena sikapnya yang sopan. Hingga kini Arsya berubah menjadi seperti anak kecil. Jimmy sudah tahan banting soal kesabaran menghadapi Arsya.
Meskipun harus punya banyak stok sabar untuk menghadapi modelnya tersebut, tapi Jimmy tak pernah kecewa dengan penampilan Arsya. Seperti sekarang ini, Arsya sungguh membanggakan.
Di atas catwalk penampilan Arsya mampu menyihir para penikmat dan pengamat fashion. Rancangan yang ia kenakan begitu apik menempel di badan dan dengan sangat baik Arsya peragakan.
Termasuk juga mencuri perhatian dari seorang Anggi. Wanita itu bahkan tak sedetik pun melewatkan kesempatan untuk bisa menatap Arsya di atas catwalk. Raut kagum dan terpesona tergambar jelas di wajahnya.
Anggi sendiri sampai dibuat tak sadar jika ia tengah diperhatikan oleh sang ayah yang berada di sampingnya. Pria paruh baya itu tidak bisa tidak melihat betapa putrinya saat ini telah jatuh cinta. Sikap Anggi tak bisa menutupi semua kekaguman gadis itu terhadap Arsya.
Gunawan menepuk bahu putrinya dan berkata, "Sayang, Papa mau keluar dulu. Ada telepon." Gunawan menunjukkan ponsel pada Anggi.
Sepertinya takdir baik berpihak pada Gunawan saat ini. Di saat ia sedang memikirkan rencana bagaimana agar putrinya bisa bahagia, di saat itu juga ia mendapatkan kabar baik sekaligus ide yang cemerlang. Ia pun segera mengirim pesan pada Anggi jika ia pergi lebih dulu karena ada urusan penting.
Anggi yang sejak tadi terpesona pada Arsya tidak mampu menahan diri untuk tidak datang ke back stage. Ia ingin sekali memberi ucapan selamat atas penampilan Arsya yang begitu menakjubkan. Sebuah buket bunga sudah ia persiapkan sebelum berangkat menyaksikan acara ini.
"Mas Arsya ...," panggil Anggi begitu Arsya keluar dari ruang ganti.
__ADS_1
Gadis itu mendekat dan tanpa malu-malu memberikan buket bunga yang ia bawa. "Selamat ya, Mas. Penampilan Mas Arsya begitu memukau."
"Terima kasih," jawab Arsya sekadarnya.
Dalam hati Anggi begitu bahagia bisa sedekat ini dengan Arsya. Bahkan bunga yang ia bawa diterima Arsya.
"Habis ini ada acara nggak ...."
Panggilan Alisha memotong ucapan Anggi. "Mas ...."
Dengan gerakan otomatis, Arsya langsung mencari sumber suara. Mendatangi dan mengabaikan Anggi. Bahkan buket bunga yang tadi ia terima langsung ia berikan begitu saja pada Jimmy yang berdiri di belakangnya.
Tidak lagi menghiraukan keberadaan Anggi, Arsya justru memeluk erat Alisha dan mengecup bibir istrinya sebelum menggandeng mesra wanita itu.
Di belakangnya Anggi melihat semua itu dengan hati yang hancur. Ia bahkan baru menikmati kebahagiaannya sendiri ketika buket bunga yang ia bawa diterima oleh Arsya. Namun kini ia harus kecewa karena melihat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Maaf, ya, Nggi, aku harus segera menyusul Arsya," pamit Jimmy.
Anggi terdiam dalam kesendiriannya. Ia tidak peduli dengan ucapan Jimmy sama sekali. Seperti ada luka yang tak bisa ia lihat tapi bisa ia rasakan perihnya.
"Sya, tungguin!" teriak Jimmy. Berlari mengejar Arsya.
"Mas tadi itu bukannya Mbak Anggi?" tanya Alisha. Ia bahkan ingin menoleh untuk memastikan tapi dihalangi Arsya dengan memegang bahunya erat agar istrinya tidak berpaling.
"Benar, kan, Mas?" tanya Alisha lagi.
__ADS_1
Bukannya menjawab pria itu justru melanjutkan langkah dan sesekali mengecup kepala Alisha.
Seperti rencana sebelumnya, usai pagelaran Arsya langsung membawa Alisha ke cottage yang sudah Jimmy siapkan.