
Sejak Gunawan ditangkap dan ditahan atas perbuatannya, hidup Naima berangsur-angsur kembali normal. Ia memutuskan untuk pindah kewarganegaraan agar tetap bisa bersama kakaknya. Model bukan lagi menjadi passionnya. Ia ingin kuliah lagi. Belajar lagi untuk bisa menjadi seorang pengajar.
Kehidupan sesaat yang dulu ia jalani bersama Devon di panti asuhan membuatnya ingin berguna bagi orang lain. Mengajar anak-anak di panti rupanya mampu membuat kebahagiaan yang sempat hilang kembali muncul. Ada harapan dalam hidupnya untuk kembali menjadi manusia yang lebih baik.
Sebagai kakak, Arsya mendukung penuh apa pun yang Naima inginkan selama itu positif. Dan sangat mendukung ketika Naima mengatakan ingin menjadi mualaf.
Selama menjadi anak dari Rossita yang bersuamikan pria asing, selama itu juga Naima mengikuti agama orang tua angkatnya.
Di sebuah masjid Naima yang dibimbing oleh seorang ustaz dan disaksikan oleh Arsya juga Alisha mengucapkan dua kalimat syahadat. Suasana begitu haru ketika Naima melafalkan kalimat agung yang menjadi bukti bahwa kini ia adalah seorang muslim.
Naima memeluk Alisha dan Arsya bergantian. Di masjid itu juga ada Imran dan Laras. Sengaja Arsya mengundang keluarga istrinya tersebut untuk ikut menjadi saksi, pun untuk memperkenalkannya pada Naima.
"Selamat datang, Naima. Selamat datang adikku," ujar Alisha ketika Naima memeluknya.
Dan tidak hanya sekadar mengucap dua kalimat syahadat, Naima juga punya tekad yang bulat untuk mengenakan hijab. Ia ingin benar-benar memulai kehidupan barunya.
"Bantu aku, Kak. Bantu aku untuk bisa istiqomah."
Alisha mengangguk. "Insya Allah."
__ADS_1
Tidak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang terjadi hari ini bagi Naima. Ia kembali berkumpul dengan kakaknya, ia juga punya kakak ipar yang begitu menyayangi dan menerima dia dengan segala kekurangan yang ia miliki.
Rasanya tidak ada lagi nikmat yang bisa ia dustakan. Bahkan beribu kali syukur tak akan sebanding dengan segala nikmat yang sudah Allah berikan.
Pada akhirnya, Naima sampai pada kebahagiaan yang selama ini ia rindukan. Meski jalannya terjal, tapi penuh hikmah.
Usai dari masjid, Arsya mengajak Naima untuk berziarah ke makam kedua orang tua mereka. Setelahnya baru mengajak Pakdhe dan Budhe untuk makan bersama agar keluarga ini semakin dekat.
Di sebuah restoran Jimmy sudah menunggu mereka sekaligus memesankan tempat untuk Arsya dan keluarganya.
"Silakan, Pakdhe, Budhe, pesan apa pun yang Pakdhe dan Budhe inginkan. Bebas pokoknya," ujar Jimmy ramah.
"Iya, Budhe, pesan saja apa yang Budhe mau," jawab Arsya.
"Wah, berarti boleh pilih yang mahal ya," cetus Laras.
Sontak lengannya disenggol oleh Imran yang duduk di sebelahnya.
"Pesan yang wajar-wajar saja. Yang ibu suka, bukan yang mahal," ujar Imran pelan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Pakdhe. Kalau Budhe mau pesan yang mahal pun tidak masalah," ujar Arsya.
"Benar, Pakdhe. Biarkan saja Budhe pesan yang mana pun yang Budhe mau," imbuh Alisha.
"Bukan begitu, takutnya Budhe kalian ini tidak cocok dengan makanan yang mahal. Jadi kalau sudah pesan tapi nggak dimakan kan justru mubazir."
"Ya, sudah, aku juga nggak mau pesan yang mahal-mahal kok. Aku pesan makanan yang aku tahu saja," sahut Laras.
"Nah, gitu. Itu baru benar, Bu." Imran mengacungkan jempolnya.
Mereka pun makan diiringi canda tawa yang tak lepas dari bibir semuanya. Arsya juga makan dengan lahap. Sejak ketahuan kalau Alisha tengah mengandung, Arsya tak lagi merasakan mual yang berlebihan. Malahan sudah hampir tidak mual.
Aktifitasnya sudah kembali normal. Ia bahkan sudah mulai mengatur rencana untuk mengosongkan jadwal ketika nanti mendekati Alisha melahirkan. Ia ingin fokus menemani Alisha nantinya.
Di tengah canda tawa dan obrolan yang begitu menarik soal membujangnya Jimmy. Terdengar suara panggilan untuk Arsya.
"Arsya ...."
Kontan semua menoleh ke arah Cinta Maurisa.
__ADS_1