Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 79 Aku Suka ....


__ADS_3

Alisha masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil Arsya keluar dari gerbang. Hari ini rencananya ia akan berkunjung ke tempat kerjanya dulu, yakni butik milik Mbak Ratih.


Usai bersiap, segera Alisha berangkat dengan diantar oleh Anton. Meskipun sudah tidak menjabat sebagai ajudan, tapi Arsya memanggilnya kembali untuk menjadi supir pribadi Alisha. Di luar dugaan, Anton yang punya pengalaman menjadi ajudan papanya bertahun-tahun setuju dengan permintaan Arsya. Padahal kalau dipikir-pikir, bisa saja Anton mencari pekerjaan lain untuk mejadi ajudan para pejabat. Namun pria itu justru menerima permintaan Arsya.


Pun ada alasan kenapa Arsya tidak mencari supir baru dan memilih untuk kembali memperkerjakan Anton. Semua karena pria itu sudah lama bekerja untuk orang tuanya, dan memiliki dedikasi yang tinggi pada keluarganya. Anton adalah orang terpercaya sejak masih bekerja dengan papanya.


Kali ini Alisha hanya berdua dengan Anton karena Arsya sudah memberitahu tentang tugas Anton sekarang.


"Pak, nanti berhentinya agak jauhan ya dari butik," pinta Alisha.


"Kenapa, Mbak?"


"Hmm ... tidak apa-apa. Hanya ingin saja." Alisha beralasan.


Anton mengangguk. "Baik, Mbak."


Sampai di empat ruko sebelum ruko milik Mbak Ratih, mobil sudah Anton tepikan. Di sanalah, Alisha turun dan berjalan kaki menuju butik tempat kerjanya dulu.


"Selamat datang di butik kami," sapa seorang pegawai yang tidak Alisha kenali. Mungkin orang baru.


Alisha tersenyum ramah mendapat sambutan itu. Matanya mengedar ke seluruh ruangan. Dua tahun lebih tidak pernah melihat butik milik Mbak Ratih ini, suasana butik sudah banyak yang berubah.


"Ada yang bisa kami bantu, kira-kira apa yang Mbak cari?" Pegawai itu dengan ramah mencoba melayani.


"Saya mau bertemu dengan Mbak Ratih, bisa?"


"Sudah ada janji sebelumnya?"


Alisha menggeleng. "Belum."


"Kalau begitu saya tanyakan dulu, ya, Mbak. Dengan Mbak siapa ini?"


"Alisha."


"Baiklah, silakan tunggu dulu Mbak Alisha."


Dengan sabar Alisha menunggu pegawai itu menghubungi Mbak Ratih. Sambil menunggu, Alisha kembali melihat-lihat butik ini. Tidak ada satu pun pegawai yang Alisha kenal.


"Mari, Mbak Alisha, saya antar ke ruangan Bu Ratih," ujar pegawai tadi setelah menghubungi mbak Ratih.


Alisha mengikuti pegawai itu menuju ruang Mbak Ratih. Bahkan ruangan Mbak Ratih pun pindah. Pegawai itu mengetuk pintu ruang kerja Mbak Ratih.


"Masuk, San," sahut Mbak Ratih dari dalam. Begitu pintu terbuka, dan Mbak Ratih melihat Alisha, wanita yang dulu begitu baik pada Alisha itu langsung berdiri menyambut.

__ADS_1


"Alisha?" Mbak Ratih mendatangi Alisha dan langsung memeluknya.


"Gimana kabar Mbak Ratih?"


"Aku sehat, kamu sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah sehat, Mbak."


"Ayo, duduk," ajak Mbak Ratih. "Santi, tolong buatkan minum untuk tamu saya, ya."


"Baik Mbak," jawab pegawai yang ternyata bernama Santi.


Menunggu Santi membuatkan minum, Alisha dan Mbak Ratih mulai berbincang. Melepaskan kerinduan selama dua tahun lebih tidak bertemu.


*****


Di lokasi pengambilan gambar, di sela-sela break. Arsya menyempatkan diri untuk mengirimkan gambar rumah yang tadi ia janjikan pada Alisha. Ada beberapa gambar yang sengaja ia tidak kirim karena menurutnya tidak masuk kriteria yang ia inginkan sebagai rumah idaman. Hanya yang menurutnya bagus saja yang ia kirim ke Alisha.


"Pak, habis ini kita pindah lokasi ya. Kata Pak Jimmy harus diselesaikan hari ini juga," ujar Koko, menyela kesibukan Arsya mengirimkan pesan pada Alisha. Koko adalah salah seorang pegawai di kantor Jimmy, yang hari ini diberikan tugas untuk menjadi asisten Arsya.


Arsya berseru kaget. "Apa, selesai hari ini?"


"Kata Pak Jimmy begitu."


Rasanya Arsya ingin mengumpat mendengar kabar yang tidak diberitahukan Jimmy sebelumnya, tapi ia ingat jika mengumpat tidak akan merubah apa pun selain menambah kekesalannya. Sebab itu ia tahan keinginan buruknya itu. Arsya berusaha menarik napas perlahan. Kemudian menatap ponselnya yang tadi sudah mengirim pesan gambar untuk Alisha. Dengan aplikasi yang sama, Arsya berusaha menghubungi Jimmy.


Semua membuat Arsya semakin kesal saja. Tidak hanya sekali tapi sudah beberapa kali Arsya mencoba menghubungi. Hasilnya nihil. Tidak dijawab pesan maupun penggilannya.


Pada akhirnya, mau tidak mau, Arsya harus segera ikut semua jadwal yang sudah Jimmy atur untuknya. Menyelesaikan pekerjaan ini dalam sehari.


Benar saja, larut malam ia baru bisa pulang. Tubuhnya sudah sangat lelah dan seolah tak lagi bertenaga. Rasanya ingin segera bertemu kasur untuk langsung tidur.


Tetapi ketika melihat Alisha yang membuka pintu untuknya, dan senyum manis wanita itu yang pertama kali menyambut dirinya. Rasa lelah ditubuh Arsya seakan sirna seketika.


"Assalamualaikum," ujar Alisha menyambut sang suami karena Arsya tak kunjung mengucap salam.


Semua karena Arsya begitu terpesona melihat lengkung manis di bibir Alisha. Membuat pria itu seolah kehilangan kesadaran.


"Assalamualaikum," ulang Alisha. Ditepuknya bahu Arsya.


"Eh ... Waalaikumsalam."


Alisha segara meraih tangan Arsya dan mencium punggung tangan suaminya. Kemudian dengan manja, ia menggandeng tangan Arsya untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kok malam banget sih pulangnya, Mas?"


Tak ada jawaban dari Arsya Karena ruh pria itu masih tertinggal entah di mana.


"Mas ...!"


Tersentak, Arsya langsung berhenti.


Alisha masih berusaha tersenyum menghadapi suami yang sejak tadi tidak fokus. " Kenapa baru pulang, ini sudah malam banget, lho?"


"Iya," jawab Arsya singkat. Terkesan sekadarnya saja.


"Mas Arsya, sudah makan belum?"


"Hmm ...."


"Mau mandi, nggak?"


Arsya kembali terdiam.


Hingga Alisha tersadar jika fokus suaminya tidak bersama raganya.


"Mas ...," panggil Alisha.


"Aku suka ...."


Tentu Alisha bingung. "Apa?"


"Aku suka."


Alisha semakin bingung. "Maksud mas Arsya, apa?"


"Aku suka."


Masih belum paham. Sampai-sampai dahi Alisha berkerut penuh tanya.


"Aku mohon jangan pernah berubah."


Tambah tidak mengerti saja maksud ucapan Arsya. "Maaf, Mas, maksudnya apa?" Dengan senyum malu, Alisha mencoba mencari penjelasan.


"Aku suka ...."


Alisha menggaruk kepala yang tertutup hijab. Sungguh ia tidak mengerti maksud ucapan suaminya.

__ADS_1


Lebih tidak paham lagi ketika Arsya meraih dagunya dan berkata, "Aku tidak minta apa pun padamu. Aku hanya ingin satu hal darimu, Sayang. Tersenyumlah, setiap kali aku pulang. Aku suka melihat senyummu. Sebab senyummu bagaikan obat yang menghilangkan segala lelah yang aku bawa dari luar."


Begitu paham akan maksud suaminya, Alisha langsung tertunduk malu. Ya Allah, sejak kapan Arsya punya sikap seperti ini. Kenapa dulu tak sekalipun Alisha lihat. Beberapa hari saja menjadi istri Arsya, dibuatnya Alisha meleleh tak berdaya.


__ADS_2