Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.38 Kamu Adalah Istriku


__ADS_3

Melihat Cinta, Arsya langsung menerobos masuk pintu apartemen sang aktris dengan mendorong pria yang sedari tadi menghalanginya. Dengan kasar, Arsya mencengkeram leher Cinta.


"Cewek sialan, di mana ponsel lo sekarang!"


Cinta berusaha meronta dari cengkeraman Arsya yang terlihat begitu marah. Tangannya berusaha melepaskan tangan Arsya yang kini ada di lehernya. Dirasakannya napasnya mulai sesak, bahkan untuk berkata pun susah.


"A ... Arsya," ucap Cinta dengan susah payah.


Mery—asisten Cinta— tak tinggal diam melihat perlakuan Arsya pada majikannya. Ia pun berusaha membantu Cinta agar lepas dari cengkeraman Arsya.


"Jangan gila, lo. Lepasin Cinta!" Mery baru akan mendekat tapi sudah lebih dulu di dorong oleh Arsya menggunakan satu tangannya hingga pria gemulai itu terhempas ke lantai.


Terdengar Mery memekik kesakitan.


"A ... Arsya, le ... lepas!" Sekuat tenaga Cinta mendorong Arsya dan berhasil melepaskan tangan pria itu. Ia langsung berjongkok berusaha menolong asistennya.


"Udah, nggak usah banyak drama. Sekarang berikan ponsel, lo!" teriak Arsya.


Raut ketakutan terpancar dari wajah Cinta ketika melihat sikap emosional Aksa. Ia pun memilih untuk menunjukkan di mana ponselnya. "Di meja makan," ujar Cinta.


Segera Arsya mengambil ponsel dari wanita itu. Membuka galery foto dan menghapus foto-foto dirinya yang tanpa busana di atas ranjang bersama dengan si pemilik ponsel.


Rasanya semua foto sudah ia hapus tapi ia tak mau ambil resiko. Arsya lebih memilih untuk membanting ponsel Cinta hingga berkeping-keping di lantai.


Cinta dan Mery hanya bisa berteriak ketakutan melihat sosok Arsya yang sedang marah.


"Kalau gue masih lihat foto itu lagi, gue habisin lo berdua!" ancam Arsya sebelum pergi meninggalkan apartemen Cinta.


Begitu Arsya meninggalkan apartemennya. Cinta segera berdiri. Ia hapus air matanya. Mimik muka yang tadi memperlihatkan ketakutan kini juga berganti tawa. Tidak ada ketakutan sama sekali dari Cinta akan ancaman Aksa. Dia pun menatap ponselnya yang hancur dengan senang.


"Gue nggak sebodoh itu, Sya. Ponsel ini mungkin sudah hancur tapi gue masih punya bukti lainnya untuk membuat lo lebih hancur." Cinta menatap ponselnya yang sudah rusak dengan tawa.


"Gue nggak nyangka kalau Arsya marah akan seseram itu, kayak singa aja," ujar Mery yang sudah berdiri di samping Cinta.


"Tapi kita akan membuat singa itu berubah menjadi kucing penurut. Miauwwww ...." Cinta tertawa menirukan suara kucing.


Tawa diantara keduanya pun meledak membayangkan Arsya yang akan takluk pada mereka

__ADS_1


*****


Pagi harinya Sekitar pukul sembilan, Alisha sudah berada di depan ruang operasi bersama dengan Laras. Menunggu Imran yang berada di dalam.


Alisha tak banyak bicara. Selain memang ia jarang sekali bicara dengan budhenya tersebut, ia sedang menahan rasa mual yang sejak pagi menderanya.


Bau rumah sakit ini begitu menyiksa indera penciumannya. Membuat perutnya serasa di aduk dengan brutal. Padahal semalam ia rasa baunya tak begitu menyengat seperti saat ini, tapi pagi ini ia merasakan aroma yang begitu menusuk hidungnya.


Apa mungkin perutnya yang kosong berpengaruh juga. Ia sudah tidak tahan lagi, tubuhnya terasa lemas.


"Budhe, Alisha ijin cari teh hangat dulu," pamitnya pada Laras.


Wanita itu hanya mengangguk.


Alisha segera menuju kantin, memesan satu cup teh manis hangat untuk mengurangi rasa mual sekaligus lemasnya. Perlahan ia sesap teh tersebut.


Sembari menunggu kondisinya lebih baik, Alisha mengedarkan pandangan menyusuri kantin rumah sakit yang cukup besar ini. Matanya berhenti pada sebuah layar televisi yang menampilkan acara gosip tentang selebriti tanah air.


Ada berita tentang suaminya di sana. Kisah yang diceritakan oleh narator dalam acara gosip tersebut mengenai kedekatan Arsya dengan seorang aktris sekaligus model Cinta Maurisa di sebuah event pencarian bakat di kota Solo.


Toh itu hanya sekadar gosip. Mungkin ini resiko menjadi istri seorang publik figur. Harus tahan dengan berita-berita semacam ini.


Ia pun kembali pada Laras yang masih menunggu jalannya operasi.


"Budhe, minum dulu." Alisha mengulurkan satu cup teh hangat untuk Laras.


"Terima kasih," jawab Laras.


Mereka berdua kembali dalam keheningan. Menatap gelisah ke arah pintu ruang operasi.


Begitu pintu terbuka, Alisha dan Laras bergegas berdiri menyambut dokter yang keluar dari ruangan penuh ketegangan tersebut.


"Dokter, bagaimana suami saya?" tanya Laras menyambut dokter yang baru saja keluar.


"Semua berjalan lancar, tunggu kondisinya stabil baru dipindah ke ruang rawat," jawab sang dokter.


"Terima kasih dokter," ujar Laras dan Alisha bersamaan.

__ADS_1


Alisha menunggu sampai Imran dipindahkan ke ruang rawat. Ia bahkan sempat berbincang sebentar saat Imran sudah siuman sebelum akhirnya Arsya datang dan menjemputnya.


Karena kemarin ia sudah menginap dan menemani Laras di rumah sakit, kali ini Alisha pamit untuk pulang. Setelah berpamitan pada dua orang yang sudah seperti orang tuanya sendiri itu Alisha mengikuti Arsya untuk kembali ke apartemen.


Di jalan, mereka terjebak macet. Entah apa yang terjadi di depan sana, tapi hal tersebut membuat banyak mobil mengular panjang tak bisa bergerak. Termasuk mobil Arsya.


Awalnya Alisha memang tak bicara apa pun tapi demi membunuh waktu karena mungkin akan butuh waktu cukup lama untuk bisa keluar dari kemacetan ini, akhirnya Alisha memberanikan diri untuk bertanya.


"Mas," panggil Alisha.


Arsya yang tadinya menatap keluar jendela dipaksa menoleh oleh suara Alisha.


"Ya ...."


"Ehm ... tadi aku lihat berita di televisi, sebuah acara infotainment. Ada berita tentang kamu dan seorang artis yang dulu bertamu ke apartemen. Apa itu benar?" tanya Alisha ragu.


Arsya tak langsung menjawab. Ia justru menatap lekat istrinya. Ia tak boleh gegabah dalam menjelaskan apa lagi membuat Alisha marah. Ia harus ingat pesan Jimmy, imejnya yang dulu hancur kini mulai kembali terbangun dan semua karena sang istri. Ia tidak mau jika harus kembali jatuh hanya karena sebuah berita gosip.


"Tumben kamu bertanya hal seperti itu?"


Alisha jadi canggung sendiri mengingat apa yang ia tanyakan. Benar, sebelumnya ia tak pernah mau mencampuri urusan Arsya bahkan termasuk berita tentang pria itu. Namun kali ini entah mengapa ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Apakah karena sikap Arsya yang berubah membaik padanya belakangan ini, dan membuatnya merasa memiliki arti dalam kehidupan sang suami, ataukah karena ia sedang mengandung anak lelaki itu. Hingga muncul rasa yang mendorongnya untuk memastikan.


"Ehm ... maaf jika aku telah lancang. Aku tidak akan bertanya lagi." Mungkin ia harus memupus semuanya dan kembali menjadi Alisha yang tak tahu menahu dan tak ingin tahu.


Di luar dugaan, Arsya justru tersenyum menanggapi. Ia memutar sedikit tubuhnya untuk bisa menghadap Alisha. Tangannya terulur menyentuh dagu istrinya.


"Kenapa minta maaf, kamu berhak tahu tentang apa yang terjadi karena kamu adalah istriku."


Jawaban Arsya seketika membuat Alisha membeku. Pun dengan sentuhan tangannya yang kini beralih mengusap pipinya dengan lembut.


Ada sesuatu yang ia rasakan berbeda. Gemetar takut yang biasanya menyerang tak lagi separah dulu ia rasa. Ia bahkan tak menampik tangan Arsya yang menyusuri wajahnya. Hanya saja ia tetap tak mampu berkata-kata.


Tatapan Arsya seolah menguncinya untuk tak beralih. Saking bingungnya harus bersikap apa, Alisha hanya mampu menggigit bibir bawahnya sembari terus menatap sang suami.


Ia baru tersadar ketika bibir Arsya menyentuh bibirnya dan secara spontan Alisha mendorong tubuh suaminya dan memekik, "Mas ...!"

__ADS_1


__ADS_2