
Gesss ... Ini adegan suami istri, mohon yang belum punya suami atau istri melipir dulu. š¤
_____________________________________________
Alisha tak mampu menyembunyikan rona merah di pipi sebab ucapan Arsya. Ditambah lagi dengan tatapan Arsya yang seakan mengurungnya dalam bola mata.
"Maaf jika kemarin aku membuatmu kecewa. Semua karena aku merasa tidak pantas untukmu, tapi aku mencintaimu dan aku sangat ingin bersamamu." Arsya menarik Alisha dalam pelukan.
Wanita itu hanya mampu bergeming. Bahkan ketika Arsya berbisik, "Aku sangat mencintaimu Alisha. Maaf jika aku terlambat menyadari semua. Aku tidak akan melepaskanmu lagi ... tidak akan."
Tubuh Alisha bergetar ketika Arsya melepaskan rengkuhannya dan memagut bibirnya tiba-tiba. Jantungnya berdegup tak karuan saat Arsya mulai memperdalam ciumannya. Membuat gelenyar aneh dalam dirinya menyeruak tak biasa. Clutch di tangan terlepas begitu saja.
Diantara napas yang memburu, Arsya melepaskan pagutannya. "Kamu milikku Alisha ... hanya milikku," ucap Arsya lirih lalu kembali memagut bibir Alisha yang mulai membuat ketagihan.
Semakin dalam ciuman, semakin manis rasa yang dicecap. Alisha yang belum mahir hanya mampu mencengkeram kemeja di dada Arsya.
"Jangan pergi lagi, jangan pernah tinggalkan aku lagi." Hanya sekejap kalimat yang keluar dari bibir Arsya karena ia tidak tahan untuk tidak kembali menyesap manisnya rasa bibir Alisha.
__ADS_1
Dari sorot matanya terlihat begitu kentara jika Arsya sangat menginginkan Alisha malam ini. Sesekali ia melepas pagutan bibirnya dan membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan.
Arsya juga menuntun tangan Alisha merangkul lehernya. Ia juga yang melepas hijab Alisha untuk bisa menikmati leher sang istri.
Sedari tadi Alisha mencoba menahan kilas ketakutan yang melanda. Nyatanya terapi yang ia lakukan tidak serta merta menghilangkan segala trauma ketika sentuhan Arsya kembali ia rasa. Namun kali ini ia lebih bisa mengontrol diri. Alisha tak membiarkan ketakutan itu menguasai. Ia harus menang melawan perang trauma ini.
Alisha pasrah dengan setiap sentuhan yang Arsya lakukan pada tubuhnya. Pun, ketika pria itu perlahan menurunkan resleting gamis yang ia kenakan. Tidak ada penolakan sedikit pun dari Alisha.
Bahkan ketika Arsya mulai menuntunnya ke atas ranjang. Alisha benar-benar pasrah.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, tidak akan menyakitimu."
Arsya mengecup kening Alisha, lalu melafazkan doa yang tadi siang diajarkan oleh Pakdhe Imran untuk mengawali penyatuan mereka. "Bismillah allahumma jannibnis syaithan wa jannibis syaithan ma razaqtana."
Hening malam menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Hawa dingin yang sempat terasa hilang berganti hangat ketika kulit mereka saling menyentuh.
Tak ada lagi kata selain lirih suara kenikmatan. Desir di dada membuat hasrat ingin terpuaskan. Arsyanendra Bagaspati, kini resmi memulai nafkah batin pertamanya.
__ADS_1
Pria itu mengusap lembut perut Alisha begitu penyatuan sampai ke puncak. Teriring doa lirih terpanjat. "Semoga Allah karuniakan anak-anak yang sholeh dan sholeha untuk menjadi penerusku."
Alisha tersenyum haru. Arsya benar-benar berubah. Ia membuktikan ucapannya untuk berlaku lembut dan tak menyakiti. Ia juga bangga pada dirinya sendiri yang pada akhirnya berhasil keluar dari ketakutan masa lalu. Arsya yang menoreh luka, pria itu juga kini yang membuatnya sembuh.
Tanpa sadar Alisha mengusap kepala Arsya yang masih berada di atas perutnya. Membiarkan Arsya sedikit lama berada di sana. Sebab tak lama pria itu akhirnya terlelap karena lelah.
Alisha yang masih tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi terus menatap wajah Arsya yang terbaring di sampingnya. Ia usap peluh di dahi sang suami.
"Tidurlah, hari esok masih panjang."
Alisha tersentak kaget karena rupanya Arsya belum benar-benar tertidur.
"Mas Arsya belum tidur?"
"Tadinya mau tidur tapi usapan tanganmu membangunkanku."
Alisha kembali malu. Kenapa ia tidak bisa menahan untuk tidak mengusap peluh di dahi Arsya.
__ADS_1
"Ayo tidur." Pria itu kemudian menarik Alisha dalam dekapan. Membiarkan lengannya menjadi bantal untuk Alisha.