
Terkadang apa yang menjadi keinginan kita tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi. Seperti jalan hidup Alisha sekarang ini. Ia pikir semua akan berjalan mudah dengan bantuan polisi dan juga dukungan dari orang yang paling ia kasihi.
Nyatanya, hatinya goyah ketika datang orang yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya dalam masalah ini. Kini, langkah Alisha terasa lunglai, tawaran dari orang tadi membuatnya berpikir keras. Belum lagi ketika ia harus mendengar ceramah dari Budhenya.
"Kamu dengerin apa kata Budhe, kamu terima saja tawaran dari Pak Surya juga istrinya. Lagian, siapa lagi yang mau nerima kamu dengan kondisimu yang sekarang ini. Kamu itu kan sudah nggak perawan lagi, akan sulit buat kamu untuk cari jodoh."
"Buk!" sela Imran.
Rupanya bukan hanya menemui dirinya saja, tapi Pak Surya juga sudah menemui Pakdhe dan Budhenya.
"Alisha, kamu jangan pikirkan apa yang Budhe kamu katakan. Pakdhe tetap akan mendukung kamu untuk memproses kasus ini secara hukum." Dukungan dari Imran tak pernah surut. Semua terlihat jelas dari sorot matanya yang menggebu-gebu.
"Loh, Pak, Bapak ini gimana, to? Pak Surya dan istrinya itu menawarkan penawaran yang terbaik untuk Alisha, biar masa depannya terjamin, dan yang penting dia itu nggak bakal nyusahin hidup kita lagi." Laras tetap pada pendiriannya agar Alisha mau menerima perdamaian yang ditawarkan orang berkuasa itu.
"Coba Bapak pikir, siapa lagi yang mau menikahi keponakan Bapak itu sekarang kalau bukan pelakunya. Masih mending, kan, Pak Surya mau bertanggung jawab untuk menikahkan anaknya dengan keponakan Bapak ini. Bagaimana kalau dia dengan kuasanya membuat kita sekeluarga mendadak hilang dari bumi ini, bisa saja kan itu terjadi."
Meski mendukung Alisha tapi tak bisa dipungkiri jika apa yang istrinya katakan ada benarnya. Kebenaran tentang masa depan Alisha jika ia tak dinikahi oleh pelaku yang telah merusaknya. Siapa lagi yang akan menerima keponakannya itu untuk dijadikan istri?
Hal tersebut tentu membuat Imran menjadi resah. Mengingat kondisi Alisha sekarang.
Keraguan itu tertangkap oleh Alisha, namun Imran yang menyadari segera meminta Alisha untuk masuk ke kamar. "Alisha, sebaiknya kamu masuk ke kamar dan istirahat. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang baru saja kamu dengar. Tenanglah, kita akan tetap mendapatkan keadilan untukmu," ujar Imran, tak ingin keraguannya diketahui oleh Alisha.
Menuruti kata Imran, Alisha berjalan meninggalkan dua orang tua yang telah mengasuhnya tersebut dan masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar pun, Alisha tak lantas bisa langsung tidur. Segala perkataan Budhenya juga Pak Surya memenuhi otaknya.
Kejadian tadi sore seakan kembali nyata terlintas dalam benaknya.
"Silakan masuk, Nona," ujar ajudan yang kemarin datang ke rumah Pakdhenya.
Alisha menatap takut pada Pria yang tengah menunggu di dalam mobil sedang memperhatikan dirinya. Ingin menolak, tapi rasanya tidak mungkin. Akhirnya dengan memberanikan diri, Alisha ikut naik ke dalam mobil Alparth putih yang masih menunggunya.
Setelah Alisha masuk pintu mobil pun ditutup oleh sang ajudan yang kemudian menjadi supir untuk melajukan mobil tersebut. Sejak duduk hingga mobil mulai melaju Alisha terus saja menunduk takut.
__ADS_1
"Kamu yang bernama Alisha?" tanya seorang pria yang duduk tepat di sampingnya.
"I-iya, Pak," jawab Alisha mengangguk.
"Kamu tidak usah takut, aku akan mengantarmu pulang," ujar pria itu.
Alisha hanya bisa memegang erat ponsel dalam genggamannya. Kini mulai terdengar getar dari ponselnya. Mungkin dari supir ojol yang tadi ia pesan kendaraannya. Namun, Alisha abaikan.
"Kenapa kamu menolak untuk bertemu denganku kemarin?"
"Sa-saya ...."
"Aku tahu, kamu pasti tidak ingin bertemu dengan orang tua dari pria yang sudah merusakmu, bukan?" tebak pria itu.
Alisha menggeleng kuat. "Bukan begitu, hanya saja ...."
"Kamu, takut?"
Alisha mengakuinya dengan jujur. Ia mengangguk dengan pertanyaan dari Surya.
"Kamu boleh memikirkannya terlebih dahulu, tapi aku sarankan untuk menerima tawaranku demi masa depanmu," ujar Surya ketika Alisha sampai di depan rumah Imran.
Masa depan?
Tanggung jawab?
Pernikahan?
Menutup kasus?
Kenapa sekarang jadi serumit ini. Ada Pakdhe dan juga Budhe yang harus Alisha pikirkan juga.
__ADS_1
Alisha menarik napas dalam. Merebahkan dirinya dalam empuknya kasur busa tanpa alas dipan. Ia pejamkan mata agar beban di hati dan otaknya sedikit berkurang.
_____________
Setelah mengantar Alisha, Surya langsung membesuk putranya di kantor polisi. Sebelumya ia menghubungi pengacara juga manager dari anaknya tersebut untuk bertemu di kantor polisi. Surya pikir ia membutuhkan bantuan dua orang itu untuk bisa membujuk Arsya.
Di sana, hal yang sama ia katakan pada Arsya. Persis seperti apa yang tadi ia ucapkan pada Alisha.
"Untuk apa Anda repot-repot ngurusin semua ini. Bukannya ini justru akan membuang waktu Anda." Sikap Arsya ini membuat darah Surya naik ke ubun-ubun.
"Aku tidak butuh bantuan Anda untuk menyelesaikan kasus ini. Lagi pula siapa yang mau menikahi gadis seperti dia. Jangankan menikahinya, kenal saja aku tidak sudi."
"Arsya!" Surya berdiri, tangannya mengepal. Siap untuk ia hantamkan pada wajah sang putra.
"Kenapa, bukannya wanita seperti itu lebih cocok untuk Anda. Wanita murahan!"
"Arsya!" pekik Surya. Susah payah pria paruh baya itu berusaha mengendalikan emosinya sebab ulah sang anak. Demi tidak membuat keributan di kantor polisi, akhirnya Bapak itu lebih memilih untuk pergi.
"Kamu urus dia!" Pesannya pada manager Arsya sebelum meninggalkan ruangan.
Hotman, pengacara keluarga Bagaspati yang pertama bicara. "Sebaiknya Mas Arsya ikuti apa yang Pak Surya katakan. Semua demi kebaikan Mas Arsya," ujar Hotman setelah menjelaskan dengan detail apa maksud dan tujuan dari ucapan Surya tadi.
"Lo kira gue kacung yang mau disuruh-suruh seenaknya!" Begitu jawaban Arsya.
"Sya, lo harus pikirkan masa depan lo juga. Kalau kasus ini sudah masuk persidangan, akan sulit untuk lo bisa bebas. Lagi pula, gadis itu tidak jelek, lo hanya perlu menikahinya agar bebas dari tempat ini. Nanti kita pikirkan lagi bagaimana caranya agar lo bisa bebas dari pernikahan paksa ini."
"Yang terpenting sekarang adalah karir lo yang ada di ujung tanduk ini. Apa lo mau karir lo berakhir sampai di sini dan mendekam selama lima belas tahun di penjara ini?" bujuk Jimmy—sang manager.
Arsya nampak kesal dengan bujukan semua orang padanya. Ia bukan tipe yang mudah untuk diperintah, apalagi harus patuh pada keinginan seseorang.
Ia benci kalau harus melakukan sesuatu yang tidak sesuai keinginannya. Terlebih ini masalah pernikahan. Hal yang selama ini ia hindari.
__ADS_1
Menikah?
Ogah!