
Seminggu berlalu sejak peragaan busana milik Ivan Bridal. Sejak itu juga sudah banyak pekerjaan yang Arsya lakukan. Lebih banyak untuk promosi produk skincare milik Nita Paramitha. Seperti hari ini, Arsya tengah bersiap untuk pergi ke luar kota untuk promo produk milik Nita Paramitha.
"Cuma ini yang dibawa, Mas?" tanya Alisha sembari memasukkan beberapa baju ke dalam koper.
"Iya, nanti yang lainnya biar diurus sama Jimmy."
Alisha mengangguk paham. Ia teruskan menata baju yang akan Arsya bawa.
"Nanti kamu temui designer interiornya sendiri, ya. Agen properti kemarin sudah mengatur jadwal temu di kantornya."
"Iya, Mas."
Persiapan sudah selesai, Arsya pamit karena sudah ditunggu Jimmy dan Koko di luar. Alisha hanya mengantar sampai depan pintu saja. Setelahnya ia harus kembali ke kamar dan bersiap untuk bertemu designer interior yang akan mendesain rumah barunya nanti.
Diantar Anton, hanya butuh waktu tiga puluh menit perjalanan menuju kantor A.G Home Art.
Karena sudah membuat janji jadi tidak butuh waktu lama untuk Alisha menunggu. Ia langsung disambut hangat dan profesional oleh seorang Anggita Gunawan—sang design interior.
"Selamat pagi," sapa Anggi. Ia langsung mempersilakan Alisha untuk duduk dan kemudian memperkenalkan diri.
"Perkenalkan saya Anggita Gunawan, dan Anda bisa memanggil saya Anggi." Anggi mengulurkan tangannya.
Alisha menyambut uluran tangan Anggi dan memperkenalkan diri juga. "Alisha."
Kesan pertama yang Alisha tangkap dari seorang Anggi adalah wajahnya yang cantik dan terlihat masih muda. Pembawaan yang santun memperlihatkan jika wanita muda ini adalah wanita yang berpendidikan dan berkelas.
Tidak ada basa-basi dalam pembicaraan antara Anggi dan Alisha, karena baik Alisha maupun Anggi masih ada kegiatan yang akan mereka lakukan. Alisha langsung to the poin dengan keinginannya mengenai konsep rumah barunya nanti setelah ia melihat banyak contoh design yang Anggi perlihatkan.
__ADS_1
"Saya ingin konsepnya itu modern tapi punya kesan yang homey banget," ujar Alisha.
Sengaja Alisha memilih konsep modern design karena dulu ketika tinggal di apartemen milik Arsya, konsepnya juga modern. Dengan warna yang dominan putih dan hitam serta tidak banyak furniture yang memenuhi ruangan. Ia sendiri juga suka hal-hal yang simple. Sedangkan kesan homey, karena ia ingin membuat siapa pun nanti yang datang ke rumahnya berasa nyaman dan senang berada di rumahnya.
Satu jam waktu yang mereka butuhkan untuk bicara mengenai design. Anggi sangat paham akan keinginan Alisha yang ingin diwujudkan lewat rumah barunya nanti.
Setelah merasa cocok dan deal soal harga, mereka membuat temu janji berikutnya. Namun pertemuan nanti Anggi ingin langsung ke lokasi supaya bisa memberi gambaran langsung seperti apa yang Alisha mau.
"Terima kasih atas kerja samanya, saya akan berusaha mewujudkan mimpi Mbak Alisha menjadi nyata," ujar Anggi ketika Alisha pamit.
Dari kantor Anggi, Alisha pergi ke rumah Imran untuk mengunjungi Pakdhenya itu.
*****
Sementara itu Arsya rupanya sudah sampai di kota tujuan. Dari bandara mereka langsung menuju hotel sebelum nantinya akan ada acara promo di sebuah pusat perbelanjaan. Rencana tiga hari Arsya akan menghabiskan waktu di pulau Borneo.
[Aku sudah sampai hotel.]
"Sya, ini nanti baju yang lo pakai," ujar Jimmy yang datang membawa setelan jas casual dan menggantungnya di lemari agar Arsya mudah menemukannya.
"Lo istirahat dulu aja, entar gue bangunin."
Hanya acungan jempol yang menjadi jawaban dari Arsya sebelum Jimmy keluar dari kamarnya.
Bekerja bersama Jimmy adalah sebuah keberuntungan tersendiri bagi Arsya. Pria itu selalu mempersiapkan semua yang ia butuhkan secara lengkap dan sempurna. Bahkan sempat membuat Arsya berpikir; Bagaimana jika tanpa Jimmy. Pasti ia akan repot sendiri.
Bukannya tidur Arsya justru berbalas pesan dengan istrinya. Membahas pertemuan Alisha dengan designer interior yang akan membantu mereka mempercantik rumah baru.
__ADS_1
Dua jam waktu yang diberikan Jimmy untuk Arsya beristirahat tapi tak dipakainya untuk istirahat. Begitu Jimmy masuk, Arsya bergegas mandi. Setelahnya bersiap untuk bekerja.
Arsya sudah siap tampil di depan publik. Jimmy sudah mengatur penampilan Arsya dari hotel. Hingga di pusat perbelanjaan nanti ia langsung bisa naik panggung untuk memperkenalkan produk baru milik Nita Paramitha. Kebetulan Pemilik produk tidak hadir hanya digantikan oleh orang yang Nita percaya.
Dipandu oleh dua orang host, acara berlangsung meriah. Banyak antusias dari pengunjung pusat perbelanjaan untuk melihat promo produk, atau ada juga yang hanya tertarik untuk melihat seorang Arsyanendra secara langsung.
Usai acara banyak yang meminta untuk berswafoto ataupun tanda tangan. Meski promo untuk produk perawatan pria tapi banyak juga pengunjung wanita yang hadir. Hal itu menjadi bukti jika pesona Arsya belum luntur. Dengan ramah Arsya meladeni banyak kaum hawa yang ingin mengabadikan momen bertemu dengan model Ibu Kota.
Dari acara promo Arsya dan Jimmy langsung kembali ke hotel.
"Yakin, lo, balik ke hotel?" tanya Jimmy waktu mereka berjalan di koridor hotel.
"Kenapa harus nggak yakin?"
"Kan kita bisa ngopi-ngopi dulu di cafe, atau ke bar mungkin?"
Arsya menghentikan langkahnya dan menatap Jimmy yang berjalan di sampingnya.
"Istri gue jauh lebih menarik dari cafe atau bar."
"Pamer teros!" Jimmy selalu kesal jika Arsya mengungkit kejomloannya. Ia pun memilih meninggalkan Arsya dari pada kupingnya panas mendengar temannya itu pamer istri.
Arsya baru akan mengejar Jimmy ketika ia mendengar pertengkaran pengunjung hotel. Ia berbalik, melihat ke arah suara. Ada dua orang yang sedang beradu mulut. Ia tidak tahu siapa si pria karena posisinya yang memunggungi Arsya, tapi dengan jelas Arsya bisa melihat siapa si wanita.
"Jenna ... Jenna tunggu!"
Wanita yang dipanggil Jenna itu tak menggubris. Ia terus saja pergi meninggalkan si pria. Tak lama si pria langsung kembali masuk ke kamar tanpa mengejar wanita yang dipanggilnya Jenna.
__ADS_1
Jenna, dia adalah model berambut blonde. Setelah seminggu, Arsya kembali melihat gadis itu. Perhatian Arsya masih sama, lengan kiri si gadis.
"Woy ... ngapain, lo, merhatiin orang berantem. Itu bukan urusan lo, nggak usah lo lihat, bukan tontonan juga." Jimmy yang tadinya sudah berjalan meninggalkan Arsya kembali menghampiri dan merangkulnya untuk tidak ikut campur urusan orang.