Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.36 Potret


__ADS_3

Semua set sudah siap, Arsya pun sudah selesai dengan penampilannya. Fotografer juga timnya sudah siap juga dengan tugasnya masing-masing. Hanya menunggu Alisha yang sedang dimekap.


"Apa masih lama?" tanya Arsya pada seorang MUA yang menangani Alisha.


"Tidak, sebentar lagi selesai," jawab MUA tersebut sembari menyematkan jarum pentul terakhir di hijab Alisha. "Siap!" pekik sang MUA. Ia memutar tubuh Alisha untuk menghadap suaminya.


Membuat Arsya terperangah dengan penampilan Alisha yang sangat memesona.


"Sya, udah ditunggu," seru Jimmy yang baru datang. Sama dengan Arsya, pria itu pun tak melepas pandangan dari Alisha. "Cantik," lirih Jimmy, tapi masih terdengar di telinga Arsya.


Segera pria itu berdiri tepat dihadapan Alisha menghalangi pandangan manajernya tersebut. "Ayo," ajak Arsya.


Uluran tangan Arsya menyadarkan Jimmy jika pria berparas rupawan itulah pemilik dari wanita yang tadi ia kagumi kecantikannya.


Alisha ragu, tapi tetap menyambut uluran tangan Arsya. Sejak di rumah orang tua Arsya, dan mereka bisa tidur satu ranjang. Perlahan, rasa takut Alisha terhadap suaminya berkurang. Kalau sekadar bergandengan tangan, Alisha sudah tidak merasa takut.


Arsya membawa Alisha untuk keluar, menunjukkan pada semua termasuk Jimmy bahwa ia adalah pria yang paling berhak atas Alisha. Sebab sejak tadi mereka datang, Alisha mencuri perhatian dari semua yang ada di tempat pemotretan. Padahal istrinya itu datang tanpa mekap berlebih, tapi mampu mengalihkan pandangan semua orang.


"Mas ...." Alisha berhenti.


"Tidak apa, ada aku," ujar Arsya menenangkan. Ia paham akan ketakutan istrinya yang baru pertama kali akan melakukan pemotretan.


Melihat sorot mata dan sikap Arsya, Alisha hanya bisa percaya sepenuhnya dengan suaminya tersebut.


Begitu mereka keluar, fotografer langsung menginstruksikan timnya untuk bersiap. "Semua siap!"


Tak ada yang tak terpana dengan penampilan Alisha sekarang. Pesona yang terpancar mampu mencuri hati setiap mata yang memandang.


Fotografer mulai mengarahkan gaya untuk Arsya dan istrinya. Awalnya memang sangat kaku karena Alisha tak pernah sedekat ini dengan Arsya. Namun, lagi-lagi Arsya meyakinkan jika Alisha bisa melakukannya. Dengan sabar pria itu membimbing bagaimana Alisha harus mengatur mimik wajahnya serta mengarahkan gerak tubuhnya.


Untunglah fotografer memahami kalau ini adalah yang pertama bagi Alisha jadi meskipun kadang salah ia masih bisa bersabar. Arsya sebagai suami juga membantunya untuk membimbing Alisha.


Terlebih saat harus beradegan mesra, Arsya dengan pandainya membuat Alisha tak bisa berpaling dari pria itu. Mengunci pandangan sang istri hanya pada dirinya, menimbulkan kesan romantis sesuai apa yang diinginkan oleh sang fotografer.


Tidak bisa dipungkiri jika Arsya benar-benar seorang model profesional.

__ADS_1


Hanya dua kali Alisha berganti kostum. Total tiga gaun yang Alisha kenakan untuk pemotretan ini. Tak ada bantahan sama sekali dari Alisha. Ia hanya menurut saja apa kata suami dan juga fotografer.


"Ok, good," teriak fotografer mengakhiri pemotretan kali ini.


"Sudah selesai, Mas?" tanya Alisha.


"Sudah, kamu hebat," ujar Arsya dengan mencolek hidung bangir Alisha.


Raut lega langsung tergambar jelas pada wajah wanita itu. Pertama kali ikut yang namanya pemotretan, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Berkali-kali ia salah tapi semua seolah bekerja sama dengan baik membimbingnya.


"Na, beresin baju istri gue," ujar Arsya pada seorang MUA agar menggantikan baju Alisha dan juga membersihkan mekapnya.


"Ok," jawab MUA bernama Nana.


Alisha langsung mengikuti Nana kembali ke ruangan ketika ia dimekap tadi. Sementara Arsya justru mendekati sang fotografer yang sudah tidak asing baginya karena sudah sering bekerja sama. Mereka melihat hasil pemotretan yang baru ia lakukan tadi.


"Gimana hasilnya?" tanya Arsya melihat pada layar monitor di mana gambar-gambar dirinya dan istrinya ditampilkan.


"Bagus, keren malah," jawab Gerry—sang fotografer. Pandangannya terfokus pada layar monitor.


"Istri lo cantik, pantesan aja lo maksa dia buat kawin," seloroh Gerry.


Mereka pun akhirnya tertawa bersama. Bukan rahasia lagi kenapa Arsya bisa menikahi Alisha.


Tak ingin dirinya jadi bahan bercandaan, Arsya lebih memilih pergi dan menghampiri Alisha. Melihat Alisha sudah berganti pakaian dan sedang membersihkan mekapnya, Arsya pun menyusul untuk berganti pakaian.


Dari lokasi pemotretan Arsya ingin mengajak Alisha jalan-jalan sebagai ucapan terima kasih karena telah bersedia membantunya. Namun Alisha tolak.


"Kenapa?"


"Aku capek, Mas. Pengen pulang aja."


Arsya tak memaksa. Ia lebih menuruti apa mau Alisha dan memutuskan untuk pulang.


"Gue mau pulang, lo urus deh semua sisanya. Istri gue kecapekan," ujar Arsya pada Jimmy sebelum meninggalkan lokasi.

__ADS_1


Melihat Arsya yang pergi berdua dengan istrinya membuat Jimmy curiga. Entah mengapa, ia belum bisa percaya sepenuhnya pada Arsya jika menyangkut Alisha. Perubahan yang Arsya tunjukkan terlalu drastis hingga menimbulkan rasa tak percaya. Namun, siapalah dia. Hanya seorang teman yang tidak bisa terlalu jauh mencampuri urusan pribadi sang model.


Arsya memacu mobilnya dalam kecepatan sedang. Dalam perjalanan mereka, tidak banyak diisi obrolan. Alisha lebih banyak diam, begitu pun dengan Arsya. Hanya sekali menanyakan ingin makan apa. Karena sebelum pulang Arsya ingin mengajak wanita itu makan malam.


"Terserah Mas Arsya saja," jawab Alisha.


Pria itu segera mengarahkan mobilnya menuju sebuah restoran langganannya. Restoran yang cukup terkenal dengan menu westernya. Begitu sampai Arsya mengajak Alisha masuk. Seorang pelayan mengantarkan mereka pada meja yang kosong.


"Kamu mau makan apa?"


Alisha membuka buku menu. Melihat mana yang menarik seleranya. Lalu memilih salah satu menu yang ada di sana. Arsya menyamakan saja pesanan mereka karena apa yang Alisha pilih sesuai seleranya.


Sembari menunggu pesanan mereka, Alisha pamit untuk ke toilet. Tinggallah Arsya seorang di meja itu. Untuk membunuh jenuh, Arsya mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tak disangka jika ia akan menemukan Cinta sedang duduk di sebuah meja bersama dengan orang yang Arsya kenali sebagai asisten model tersebut.


Baru beberapa detik pandangan mereka saling beradu, Arsya segera memutus tali padangan itu. Jujur, sejak kejadian malam itu, ia malas sekali bertemu wanita yang dulu pernah ia harapkan cintanya.


Sadar akan Arsya yang menghindarinya, Cinta langsung mengirimkan sebuah pesan.


[Apa nggak kangen sama aku?]


Sebuah pesan yang membuat Arsya kembali menoleh pada Cinta yang duduk hanya berjarak beberapa meja dari tempatnya sekarang.


"Lihat siapa, Mas?" tanya Alisha yang baru dari toilet. Belum mendapatkan jawaban tapi Alisha sudah mengikuti ke mana arah pandang suaminya. Ia melihat ada wanita yang dulu berada di apartemen dan memergokinya tengah bercumbu dengan suaminya.


Berusaha mengabaikan, Alisha pun duduk.


"Eh, kamu sudah balik." Arsya nampak gugup.


Tak lama terdengar notifikasi pesan di ponselnya. Masih dari orang yang sama. Cinta.


[Oh ... ada istri kamu. Pantesan kamu takut.]


Arsya mengabaikannya. Tak membalas apa pun pesan Cinta.


Hingga suatu pesan kembali dikirim oleh wanita itu. Beberapa potret yang membuat dirinya terperangah tak percaya. Terlebih pesan yang mengiringinya.

__ADS_1


[ Aku tidak akan pernah lupa malam itu.]


Secara spontan ia melihat ke arah di mana Cinta duduk. Cinta tersenyum manis menanggapi tatapan Arsya. Berbeda dengan Arsya yang menjadi panik.


__ADS_2