
"Sya, lo liatin apa sih?" tanya Jimmy yang merasa aneh dengan sikap Arsya yang terus menoleh ke belakang seolah tak rela meninggalkan pusat perbelanjaan.
"Jim, lo tunggu gue sebentar ya." Arsya hampir berlari kembali masuk ke pusat perbelanjaan tapi ditarik Jimmy lebih dulu.
"Ngapain lo balik lagi ke sana. Lo masih lapar?"
"Gue mau cari Alisha."
Jimmy tertawa. Menganggap ucapan Arsya gurauan. "Sya ... Sya ... Please, lo jangan bikin repot gue terus. Kemarin gue udah ngurusin lo selama di penjara, dan sekarang jangan minta gue buat ngurusin lo di rumah sakit jiwa. Jangan bikin beban buat gue lagi, Sya. Gue juga pengen mikirin masa depan gue sendiri. Nggak ngurusin lo terus. Lo mah enak udah pernah kawin, nah gue? Gue nggak mau ya sampe mati ngejomlo."
"Gue beneran ketemu Alisha, Jim. Gue lihat dia dengan mata kepala gue sendiri. Gue nggak mungkin salah. Pokoknya gue harus kembali cari Alisha." Arsya bersikeras. Ia sudah memutar tubuhnya, siap berlari masuk ke pusat perbelanjaan.
Namun, Jimmy kembali menarik tangan Arsya yang akan berlari. "Sya, tolong jaga kewarasan lo agar gue juga tetep waras. Ok?"
"Jim, gue serius. Gue beneran ketemu Alisha," ulang Arsya.
Jimmy memutar bola matanya malas. "Besok gue antar lo ke psikolog. Kita harus konsultasi tentang kehaluan lo."
Arsya terdiam.
"Lo itu terlalu terobsesi untuk ketemu dengan Alisha, sebab itu dalam otak lo yang ada cuma Alisha ... Alisha, dan Alisha. Sampai-sampai membuat lo berhalusinasi. Melihat wanita pakai hijab lo pikir itu Alisha."
Keyakinan Arsya soal pertemuannya dengan Alisha menjadi goyah karena argumen Jimmy. Benarkah ia sekarang mulai berhalusinasi karena keinginannya yang terlalu kuat untuk bertemu Alisha.
"Udah, jangan bengong. Ayo, jalan!"
Tak ayal Arsya melangkah juga meninggalkan pusat perbelanjaan mengikuti Jimmy.
*****
Selesai berbelanja, Salwa ikut dengan Alisha ke rumah. Rencananya mereka akan memasak bersama untuk makan malam special.
__ADS_1
Malam ini Alisha akan memberikan jawaban untuk Fatih perihal pinangan pria itu. Salwa yang merupakan adik kandung Fatih sangat antusias untuk hubungan baru mereka nanti. Wanita muda itu sangat berharap Alisha bisa menjadi kakak iparnya.
Di tengah sesi memasak, Alisha dikejutkan dengan teriakan Salwa. "Alisha ...!"
"Kamu kenapa sih dari tadi nggak fokus. Aku ajak ngobrol nggak pernah nyambung!" Salwa menampakkan raut kesal pada Alisha.
"Maaf, aku sedang bingung."
Salwa meletakkan spatula yang ia gunakan untuk menggoreng ayam. "Bingung kenapa, apa tentang Mas Fatih?"
Alisha mengangguk. Meski sejujurnya bukan hanya karena Fatih tapi juga karena Arsya. Kemunculan pria itu setelah dua tahun benar-benar mengusik hatinya. Bagaimana ia bertemu kembali tanpa rencana.
"Tapi kenapa?"
Alisha menarik napas. "Benar kan kalau kamu sudah bilang pada mas Fatih tentang status jandaku?"
Salwa mengangguk. "Kamu nggak usah khawatir soal itu Alisha, Mas Fatih sudah tahu, kok, dan dia menerima keadaanmu itu."
Salwa justru tertawa. "Alisha ... Alisha, soal perasaan nanti akan muncul setelah kalian menikah dan hidup bersama. Sekarang kamu berikan jawaban dulu pada Masku."
Terlihat wajah Salwa yang bahagia. Tersirat harapan yang besar akan hubungannya dengan Fatih—Kakaknya. Ya ... perjodohan ini juga Salwa yang mendalangi. Dua tahun sejak Alisha pindah ke kota ini, Salwa adalah satu-satunya teman dekat yang Alisha miliki.
Salwa juga yang membantu dan mendukung usaha toko baju milik Alisha. Bahkan ruko yang Alisha tempati untuk usahanya sekarang adalah milik orang tua Salwa.
"Sudah nggak usah dibikin ribet, jalani saja." Salwa mengambil kembali spatula untuk membalik ayam.
Meski Salwa sudah menenangkan, tapi ada satu hal lagi yang membuat Alisha tidak tenang. Pertemuannya dengan Arsya.
Di saat ia akan memulai hidup yang baru, mendadak Arsya kembali muncul. Mengungkit kenangan pilu masa lalu.
"Alisha, buruan masaknya. Nanti Mas Fatih keburu datang dan kita belum siap."
__ADS_1
"I-iya."
Alisha berusaha menepikan Arsya dari pikirannya. Ia sudah berjuang keras menjauh dari pria itu. Mencoba menata hidup dari kelam bayang masa lalu.
Mereka berdua kembali sibuk. Menyiapkan semua untuk menyambut Fatih. Tepat di saat mereka sudah menyelesaikan pekerjaan memasak mereka, Fatih datang.
Alisha mengajak Fatih untuk makan terlebih dahulu sebelum lanjut pada pembicaraan yang serius. Makan malam mereka diisi dengan obrolan ringan seputar pekerjaan.
Barulah selesai makan, mereka bertiga duduk di ruang tamu rumah Alisha. Fatih yang pertama mengawali pembicaraan. Kembali mengutarakan niat untuk meminang Alisha dan menjadikan wanita itu sebagai istrinya.
"Jadi, bagaimana Alisha. Apa kamu mau menikah denganku."
Alisha yang sejak tadi tertunduk sedikit mendongak. "Sebelumnya saya mau minta maaf dulu kepada Mas Fatih. Apakah Mas Fatih tahu tentang status saya?"
"Ya, dan aku menerima apa pun statusmu."
"Apakah mas Fadil juga akan menerimaku jika aku mengatakan kekuranganku?"
"Tentu saja."
"Sejujurnya aku belum bisa mencintai Mas Fatih."
"Tidak apa-apa, perasaan itu akan muncul seiring dengan perjalanan kita nanti."
Penerimaan Fatih dengan segala kekurangan membuat Alisha berusaha memantapkan hati. Dengan mengucap bismillah, Alisha menjawab, "Aku terima lamaran Mas Fatih untuk menjadi imamku. Tolong bimbing aku untuk menjadi makmum yang taat."
"Alhamdulillah!" seru Salwa. Wanita muda itu langsung memeluk kakaknya. Senyum kebahagiaan tak lekang dari bibir keduanya.
Salwa bergantian memeluk Alisha. Mengungkapkan harapannya jika Alisha sudah resmi menikah dengan kakaknya nanti.
Alisha sendiri hanya mampu berdoa, semoga keputusannya untuk menerima pinangan Fatih bukanlah keputusan yang salah.
__ADS_1