Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.18 Pria Brengsek


__ADS_3

"Kasihan banget sih lo, harus menikah dengan cowok brengsek kayak Arsya." Jimmy bermonolog pada foto di media sosialnya. Foto yang ia ambil diam-diam tadi. Lalu ia posting di laman media sosialnya.


Nampak gambar wanita berhijab hitam tanpa polesan mekap namun parasnya terlalu sedap untuk dipandang. Tentunya di mata Jimmy.


Baru juga ia menikmati gambar di tangannya, mendadak dirinya ditarik paksa dan sebuah bogem mentah mendarat di rahangnya. Jimmy tersungkur ke lantai karena serangan tiba-tiba itu.


Sorot mata Jimmy tajam menatap pria yang telah menyerangnya secara sekonyong-konyong. "Apa-apaan, lo!" Jimmy mengusap sudut bibirnya yang terasa perih.


"Di mana istri gue!" sentak Arsya.


Jimmy memalingkan wajah dengan satu sudut bibir yang ditarik ke atas. "Nggak salah denger, gue!" Jimmy semakin sinis. "Makanya kalau punya istri dijaga, jangan dibiarkan sendirian. Di luar sana banyak cowok bajingan kayak lo."


"Nggak usah banyak bacot deh lo, bilang aja di mana istri gue!"


"Mana gue tahu!"


"Sialan, lo!" Arsya kembali menarik kerah depan baju Jimmy dan kembali melayangkan tinjunya. Tak mau kalah, Jimmy membalas setiap pukulan Arsya. Terjadilah baku hantam antara teman lama itu.


Tak ada kalah atau menang di antara keduanya, karena semua sama-sama babak belur. Lelah saling memukul, mereka ambruk di atas sofa.


Keheningan mengisi di antara keduanya dalam waktu yang cukup lama.


"Di mana Alisha?" Arsya kembali bertanya.


"Gue nggak tahu, kalaupun gue tahu, gue juga ogah ngasih tahu lo!"


Arsya yang duduk bersebelahan dengan Jimmy menoleh. Melihat wajah temannya yang bonyok karena ulahnya.


"Lo tu cowok brengsek, Sya. Bajingan. Nggak pantes lo punya istri kayak Alisha," sambung Jimmy.


Kali ini Arsya hanya terdiam. Ia tak semarah sebelumnya. Bahkan pria itu bisa tersenyum dengan cacian temannya.

__ADS_1


"Lo jatuh cinta sama istri gue?" todong Arsya.


Jimmy, yang semula duduk dengan bersandar punggung sofa dalam keadaan lemas langsung menegakkan badannya. Dia mentertawakan ucapan Arsya barusan. "Kalau gue nggak tahu aturan, gue pasti udah jatuh cinta sama istri lo. Tapi, gue masih tahu batasan gue untuk tidak menaruh hati pada istri orang. Meski sejujurnya gue nggak rela lo yang jadi suami Alisha."


Arsya semakin tertawa dengan pernyataan manajernya. "Gue kasian banget sama lo. Nggak pernah jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta sama istri gue," cibir Arsya.


"Kenapa nggak lo ceraikan aja Alisha, biar gue bisa jadi suaminya. Gue memang bukan pria baik, tapi setidaknya gue bisa menghargai wanita."


Mendengar apa yang Jimmy katakan, Arsya bangun dan mencengkeram baju atas Jimmy. Tangannya mengepal tepat di depan wajah manajernya itu. Siap untuk kembali menambah warna kebiruan di wajah temannya. Tak ada lagi senyum mengejek di wajah Arsya. Ia nampak marah dengan apa yang Jimmy ucapkan baru saja.


"Kenapa, mau pukul lagi, lo. Sini, pukul! gue nggak takut!" tantang Jimmy. Pria itu bahkan menengadahkan wajahnya seolah siap jadi samsak Arsya.


Arsya menatap geram pada Jimmy. Wajah menantang manajernya itu semakin membuat Arsya kesal.


"Lo tu harus sadar diri kalau lo emang bajingan! Kalau lo pria baik-baik, nggak mungkin lo melakukan tindakan bejat itu pada Alisha. kenapa, marah!" Jimmy seolah tak takut dengan pukulan Arsya. Pria itu terus saja berbicara jelek soal model yang dulu mengusirnya tersebut.


Arsya menarik kembali tangannya yang masih mengambang di depan muka Jimmy. Ia kembali menjatuhkan dirinya di sofa di samping manajernya. Tak bisa dipungkiri jika apa yang Jimmy katakan memang benar adanya. Dia adalah pria brengsek. Tidak bisa dibantah.


Mereka kembali terdiam. Jimmy pun enggan mengajak Arsya berbicara sebab muak dengan sikap tempramental sang model.


"Gue nggak tahu," jawab Jimmy malas.


"Di mana lo ketemu dia?"


"Gue ketemu dia di masjid, di dekat taman kota."


Ketika itu, Jimmy baru saja pulang dari rumah temannya. Ia berhenti di masjid dekat taman kota untuk buang air karena sudah tidak tahan. Setelah keluar dari toilet, Jimmy justru melihat Alisha yang baru saja keluar dari masjid. Wanita itu baru selesai menunaikan salat isya.


Awalnya Jimmy ragu untuk menyapa karena sungkan dengan wanita berhijab itu, tapi karena Alisha juga sudah melihatnya, ia apun memberanikan diri untuk menyapa. Alisha menanggapinya dengan sopan, bahkan menerima ajakannya untuk minum teh di sebuah warung dekat masjid. Di situlah, diam-diam Jimmy mengambil gambar Alisha dan mempostingnya.


"Dia cerita sesuatu, nggak?"

__ADS_1


"Itulah kenapa gue nggak rela lo yang jadi suami Alisha. Dia terlalu baik buat cowok bejat kayak lo. Dia perempuan baik-baik yang nggak akan mengumbar masalahnya pada orang lain."


Arsya mengembuskan napas kasar. Ia berpikir ke mana Alisha sekarang ini. Pikirannya benar-benar buntu.


"Aarrgh!" pekiknya frustasi.


Jimmy yang berada di samping Arsya hanya mendiamkan saja pria itu dalam rasa putus asanya. Melepas Arsya dalam masalahnya sendiri.


____________________


Keesokan pagi, Arsya buru-buru berangkat dari apartemen Jimmy menuju rumah pakde Imran. Semalam ia tidak pulang. Tidur di apartemen manajernya.


Pesan dari mamanya yang bertanya tentang keberadaan Alisha, Arsya abaikan. Sebab, sudah pasti ia akan kena marah jika tidak bisa menjawab pertanyaan mamanya.


Baru kali ini Arsya melihat mamanya menyukai wanita yang bersamanya. Sebelumnya, tak ada satu pun wanita yang Arsya kenalkan pada keluarganya, karena Arsya tahu mama dan papanya tidak akan suka.


Cukup lama Arsya menunggu di depan pagar rumah Imran. Ragu untuk masuk ke sana. Pasti orang tua yang membesarkan Alisha tersebut akan banyak bertanya tentang apa yang terjadi. Sengaja tadi ia berangkat pagi, supaya tidak terlewat jam berangkat kerja istrinya.


Setelah di tunggu bahkan lewat dari jam kerja istrinya, Alisha tak nampak dari sana. Hanya Imran yang tadi ia lihat keluar rumah.


"Apa nggak di sini, ya, atau udah berangkat kerja?"


Arsya mengambil ponselnya dan menghubungi Mbak Ratih. Ternyata benar, Alisha sudah ada di tempat kerjanya. Sedikit lega setidaknya ia sudah tahu keberadaan Alisha.


Ia putuskan untuk pulang dulu dan menjemput Alisha nanti sore.


Tepat di jam pulang kerja, Arsya sudah menunggu di depan butik milik Mbak Ratih. Ia mengawasi satu per satu karyawan yang keluar dari butik tersebut.


Melihat Alisha keluar, Arsya segera menyusul. Sedikit berlari agar Alisha tak menjauh.


"Alisha!" panggil Arsya.

__ADS_1


Alisha yang berjalan sendirian menoleh. Melihat suaminya berdiri tak jauh darinya. Tubuhnya seketika gemetar. Diserang rasa takut tak beralasan. Langkahnya spontan di tarik mundur. Ia ingin lari.


"Tunggu!" teriak Arsya.


__ADS_2