Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 65 Gagal Move On


__ADS_3

"Ayo masuk, kok malah bengong di sini." Salwa yang datang dari dapur langsung menggandeng tangan Alisha dan membawanya masuk. Lalu memintanya duduk satu sofa dengan Fatih. Tentunya dengan menjaga jarak.


Alisha menyerahkan goodie bag berisi kue brownies kepada Salwa sebelum duduk.


"Loh, Alisha, kok bisa tahu kalau Fatih kena musibah?" tanya Wanda yang mendadak keluar dari kamar karena mendengar suara Salwa yang memanggil Alisha tadi.


"Salwa yang minta Alisha datang, Buk. Biar Mas Fatih cepet sembuh karena ada yang harus segera dihalalkan," jawab Salwa menggoda dengan menaik turunkan alisnya.


"Kamu itu lho, kalau ngomong pinter banget." Wanda menepuk pundak sang putri lalu ikut bergabung bersama Fatih dan Alisha.


"Siapa dulu dong ibunya," ujar Salwa bangga.


"Wes ... sana, buatin minum juga buat Alisha," ujar Wanda.


"Siap, Ndoro!" Salwa kembali ke dapur lagi untuk membuat minum.


"Kamu naik apa ke sini?" tanya Fatih.


Alisha yang sejak tadi menunduk sedikit mendongak menatap Fatih. "Naik taksi, Mas."


"Ya sudah nanti pulangnya aku antar," ujar Fatih.


Arsya yang duduk di depan Alisha terus memperhatikan mantan istrinya itu. Sebenarnya ia tidak ingin lagi melakukannya tapi tidak bisa. Alisha bagai magnet yang menarik perhatiannya. Sampai-sampai Jimmy menginjak kaki Arsya untuk menyadarkan pria itu akan sikapnya yang tak wajar.


"Aww ...." Arsya mengaduh. Sontak semua mata tertuju padanya. Tak terkecuali Alisha dan Fatih.


"Ada apa, Nak?" tanya Wanda.


"Eh ... itu Tante, kaki saya digigit semut," jawab Arsya bohong.


"Oh ...." Wanda tak curiga sama sekali dengan pengakuan Arsya. Berbeda dengan Fatih. Sejak tadi Fatih diam-diam mencuri pandang dan memperhatikan sikap yang ditunjukkan Arsya untuk calon istrinya.


"Udah adzan, tuh. Kita salat bareng yuk. Baru nanti kita makan. Mbok Ratmi udah siapin semua." Salwa yang muncul dari dapur membuat perhatian Fatih teralihkan.


"Benar kata Salwa, ayo ... kita salat dulu," ajak Wanda.


Fatih mengajak Jimmy dan Arsya untuk berjamaah di musala, sementara Alisha, Salwa dan ibunya salat di rumah.

__ADS_1


"Kamu nginep sini kan, Jim?" tanya Fatih saat berjalan pulang dari musala yang ada di depan rumahnya.


"Enggak, gue nginep di hotel aja. Soalnya gue ada kerjaan juga sama Arsya. Ini juga gue harus segera ke hotel karena kita ada janji sama orang."


"Nggak makan dulu?"


"Nggak usah, nanti kita makan bareng klien aja."


Fatih mengangguk paham.


Begitu sampai di rumah Fatih, Jimmy dan Arsya hanya mengambil koper mereka yang mereka tinggalkan saat salat tadi.


"Loh, kalian mau ke mana?" tanya Wanda usai salat.


"Kita mau ke hotel, Tante," jawab Jimmy sopan.


"Nggak nginep sini?"


"Enggak, Tante. Kita ada kerjaan di sini. Kita juga harus ketemu klien."


"Insyaallah Tante, sudah Jimmy agendakan."


"Ya sudah, hati-hati kalau begitu."


"Terima kasih Tante, kami pamit dulu. Ayo, Sya," ajak Jimmy. Manajer Arsya itu sudah berjalan beberapa langkah tapi orang yang diajak belum juga mengikutinya. Saat ia menoleh Arsya rupanya sedang terpaku menatap mantan istrinya.


"Sya, ayo!" Jimmy kembali dan menarik tangan Arsya secara paksa. "Maaf, Tante ... teman saya memang suka kesambet mendadak, bikin dia linglung." Jimmy nyengir. Semua demi menutupi sikap Arsya.


Wanda hanya menanggapi dengan senyuman, menganggap ucapan Jimmy sebuah lelucon.


"Mari, Tante," ujar Arsya sebelum pergi. Beberapa langkah keluar dari pintu rumah, Arsya masih sempat menoleh ke belakang. Dilihatnya Alisha yang terus tertunduk.


"Ayo!" Jimmy menarik Arsya paksa.


"Harusnya jaga sikap lo, Sya. Nggak sopan menatap calon istri orang kayak tadi," omel Jimmy saat di dalam taksi.


Arsya bahkan tak peduli dengan ocehan Jimmy. Alisha sudah membuat buyar perasaannya. Niatnya untuk move on selalu gagal kala wajah Alisha terlintas dalam benak.

__ADS_1


Setelah kepergian Jimmy dan Arsya, keluarga Fatih lanjut untuk makan malam tak terkecuali Alisha.


"Nih, Mas Fatih dibawain kue kesukaan sama ayang," goda Salwa meletakkan kue brownies yang sudah ditata dalam piring. "Perhatian banget kan ayangnya," imbuhnya dengan senyum yang terkesan meledek.


"Apaan, sih," elak Alisha.


"Ciye, malu ni. Nggak apa-apa lah perhatian ama calon suami, bener nggak, Buk?"


"Bener banget, perhatian sama calon suami itu tanda sayang. Ibuk jadi nggak sabar lihat kalian menikah."


Fatih tersenyum menatap Alisha, sedang yang ditatap langsung tertunduk.


Untuk sesaat mereka berempat makan dalam hening sebelum akhirnya Wanda kembali membuka suara, "Salwa, kamu kapan nyusul Masmu. Itu tadi temen Masmu dua-duanya ganteng. Pilih aja salah satu."


"Pilih salah satu, emang beli baju bisa pilih-pilih seenaknya. Salwa kan belum tahu siapa mereka Buk," jawab Salwa.


"Lah mereka kan temennya Fatih, tinggal tanya saja sama Masmu tentang mereka. Kalau menurut Ibuk, yang dulu pernah nginep di sini itu orangnya lebih lucu. Siapa namanya, Ibuk lupa?"


"Jimmy, Buk," jawab Fatih.


"Iya, Jimmy. Dia orangnya lucu, kamu pasti nggak akan bosan kalau sama dia, tapi yang satunya lebih ganteng. Pendiam juga sopan. Siapa namanya itu?"


Kali ini Fatih malas untuk menjawab. Dan Salwa langsung menyahut, "Mas Arsya."


"Arsya, ya. Ya udah kamu sama Arsya saja. Ibuk setuju kalau kamu sama dia. Orangnya ______"


Belum selesai Wanda berbicara, Alisha langsung tersedak nasi yang masuk ke mulutnya.


"Alisha, kamu nggak apa-apa, kan?" Salwa mengambilkan segelas air untuk temannya.


"Nggak apa-apa." Alisha menggeleng. Ia mengambil air yang diberikan Salwa dan segera minum.


"Kalau makan hati-hati Alisha," ujar Wanda.


"Iya, Buk." Dari menatap Wanda pandangan Alisha tertuju pada Fatih yang menatapnya dengan aneh.


Entah ada apa dengan calon suaminya itu. Alisha merasa sorot mata Fatih menunjukkan ketidaksukaan.

__ADS_1


__ADS_2