Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.31 Berubah Sikap


__ADS_3

Pagi Alisha dimulai dengan rasa mual dan muntah. Kini ia sedang terduduk di atas closet setelah berjuang mengeluarkan isi perut yang serasa diaduk sampai tubuhnya terasa lemas.


Suara muntah Alisha sampai bisa membangunkan Arsya dan membuat pria itu berdiri di ambang pintu kamar mandi menyaksikan betapa tersiksanya sang istri.


Baru juga duduk beberapa menit, rasa mual itu kembali menyerang hingga Alisha buru-buru membuka tutup kloset dan kembali memuntahkan isi perutnya.


Arsya tak bisa berbuat apa pun karena Alisha tak mengijinkannya mendekat. Dengan isyarat tangan, Alisha mencegah Arsya mendekatinya.


"Mas, jangan di sini. Keluar saja," ucap Alisha lemah di sela-sela muntahnya tapi Arsya tak menanggapi.


Setelah selesai memuntahkan isi perutnya, Alisha kembali duduk di atas kloset. Ia mengusap mulutnya dengan handuk yang Arsya ambilkan.


"Terima kasih," lirih Alisha menatap wajah suaminya. "Harusnya Mas Arsya nggak usah nungguin aku kayak gini. Ini menjijikkan, bukan?"


"Kalau aku meninggalkanmu, apa kamu yakin tidak akan pingsan seperti kemarin?"


Alisha tak bisa menjawab sebab ia juga tidak tahu kondisi tubuhnya sendiri. Ia pun segera bangkit dan keluar dari kamar mandi. Meski lemas ia tetap bersikeras berjalan sendiri ke atas ranjang.


Arsya tanpa disuruh sudah pergi ke dapur untuk mengambil air hangat untuk Alisha. Setelah memberikan air itu, Arsya pergi ke kamar mandi.


Entah penciumannya yang sensitif ataukah memang Aroma harum dari kamar mandi menguar begitu kuat, hingga Alisha yang berada di atas ranjang pun bisa mencium wangi tersebut. Segar dan begitu Alisha sukai.


Aroma ini membuat pikiran Alisha teralihkan dari rasa mual yang masih ia rasakan. Ia ingin menghirup lagi dan lagi, hingga tanpa pikir panjang Alisha pergi ke walk in closet. Ia membuka lemari di mana Arsya menyimpan parfum-parfumnya. Tidak ada keraguan saat ia mengambil satu dan membuka tutupnya. Menghirup dalam-dalam wangi yang semerbak.


Alisha suka wangi ini. Ia terus memejamkan mata untuk menikmati wangi tersebut. Semakin dihirup semakin ia merasakan sensasi yang begitu membuatnya tenang . Sangat berbeda semakin ia menghirupnya.


Wangi khas suaminya seakan menjadi candu baginya akhir-akhir ini. Wangi yang membuat indera penciumannya seolah di manjakan.


Alisha terus memegang botol parfum itu dan terus memejamkan mata untuk semakin menikmatinya. Hingga suara Arsya membuatnya tersentak. "Apa kamu suka?"


Kontan saja Alisha membuka matanya. Ia gugup dan bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Apa kamu suka dengan parfum itu?" ulangnya.


Pandangan Alisha langsung tertuju pada botol parfum di tangannya. "Ma-maaf." Karena panik ia sampai bingung harus ke mana meletakkan kembali parfum itu.


Belum sempat Alisha menemukan tempat untuk mengembalikan parfum itu, Arsya lebih dulu mengambilnya dari tangan Alisha dan menyemprotkan parfum itu ke tubuhnya.


Rasanya begitu berbeda. Aroma yang Alisha cium langsung dari botol dan aroma yang menguar dari tubuh suaminya. Wangi Arsya jauh lebih menggoda penciumannya.


Tak ingin terjebak dalam situasi yang akan membahayakan pikirannya, Alisha buru-buru ingin keluar. Namun, ketika ia melewati Arsya begitu saja, pria itu justru menarik tangannya dan membawanya mendekat.


Sentuhan tangan Arsya membuat jantung Alisha langsung berdegup kencang. Ketakutan.


Arysa tak bicara apa pun, pria itu hanya menatapnya dengan serius. Membuat Alisha bertambah bingung dan takut.


"Mas ...," lirih Alisha.


Arsya justru semakin menarik Alisha ke dalam tubunnya. Tinggi Alisha yang hanya sebatas dada Arsya mampu menghirup aroma tubuh Arsya dengan sangat jelas. Ia ingin lari tapi ia tak bisa menolak harum wangi suaminya.


Melihat tubuh Alisha yang sudah mulai gemetar, Arsya segera melepaskannya. Ia biarkan Alisha keluar dari tempatnya menyimpan baju dan berbagai aksesoris miliknya.


Alisha sendiri langsung naik ke atas ranjang. Memeluk lututnya sendiri untuk mengurangi kecemasan dan gemetar yang tadi sempat muncul. Namun kali ini ia tidak menangis. Ia hanya merasa aneh dengan dirinya sendiri. Kenapa ia suka sekali dengan wangi tubuh Arsya belakangan ini, dan membuatnya bertidak bodoh seperti tadi. Mencuri-curi kesempatan untuk bisa mencium parfum suaminya. Karena kalau harus mencium wangi tubuh Arsya langsung itu tidak mungkin. Selain takut, Alisha juga malu jika ketahuan ia mulai menyukai wangi suaminya.


Apa tang sekarang terjadi dengan dirinya. Apa ia sudah gila?


"Aku mau pergi, mungkin dua hari aku tidak akan pulang. Aku ada pemotretan di Solo," ujar Arsya yang keluar sudah dengan kemejanya.


"Nanti akan ada supir yang menjemputmu. Kamu tinggal di rumah mama saja, biar ada yang urus. Syukur-syukur mama bisa membujukmu untuk ke dokter. Ini sudah lebih dari tiga hari kamu mual muntah setiap pagi dan masih keras kepala tidak mau berobat." Arsya bicara sembari mengancingkan kancing kemejanya satu per satu.


"Tapi, Mas ... aku sudah bilang pada Mbak Ratih akan masuk hari ini."


"Kalau belum ke dokter, tidak usah bekerja saja!" Arsya selesai mengancingkan seluruh kancing kemejanya. Ia segera menggunakan sepatu dan bersiap untuk berangkat.

__ADS_1


Belum juga sampai keluar kamar Arsys teringat sesuatu. Ia kembali ke ranjang di mana Alisha masih duduk memandanginya. Tanpa mengatakan apa pun Arsya langsung membungkukkan badannya ke arah Alisha, membuat Alisha salah tingkah sendiri dengan kelakuan suaminya. Pria itu semakin mendekat dan Alisha semakin merebahkan tubuhnya untuk menjaga jarak. Ketika tubuh Alisha sudah benar-benar jatuh dengan posisi Arsya di atas tubuhnya, Alisha yang panik langsung menjerit.


"Mas!" pekik Alisha dengan tangan yang siaga mendorong tubuh suaminya agar menjauh dari atas tubuhnya.


Tapi, apa yang ada dalam ketakutannya justru tak terjadi karena tangan Arsya segara meraih ponsel yang ada di atas nakas. Tepat di atas kepala Alisha sekarang ini.


"Aku hanya mengambil ponsel," ujar Arsya memperlihatkan ponsel yang baru saja ia ambil.


Alisha yang sempat menutup mata ketakutan, langsung membuka matanya lebar. Betapa malunya ia. Selalu curiga dan takut akan Arsya jika pria itu mendekatinya.


Arsya pun bangun, ia juga mengulurkan tangannya untuk membantu Alisha duduk. Namun, Alisha terus menatap uluran tangan Arsya. "Aku bantu bangun," ujarnya meyakinkan.


Ragu-ragu Alisha menerima uluran tangan Arsya. Perlahan suaminya itu menarik tubuhnya hingga duduk. Kini berganti, Arsya yang tak mau mengalihkan pandangannya.


"Kenapa, Mas?" tanya Alisha merasa ada yang aneh dengan dirinya sampai-sampai Arsya menatapnya seakan tak berkedip.


"Wajahmu pucat."


Spontan Alisha mengelus pipinya.


"Periksalah, agar kamu tahu kamu sakit apa. Nanti aku telpon Mama biar antar kamu ke rumah sakit."


"Nggak usah, Mas. Aku baik-baik saja. Nanti minum obat maag juga sembuh," tolak Alisha.


"Kamu bukan dokter, jadi tidak usah mendiagnosis sakitmu sendiri . Apa lagi sok tahu mau kasih obat apa. Pokoknya nanti aku minta Mama antar kamu periksa. Sekarang bersiaplah sebentar lagi supir pasti datang. Kamu sarapan di rumah Mama saja, aku sudah bilang agar mereka membuatkanmu bubur."


"Tapi, Mas ...."


"Aku mau berangkat." Tak ingin mendengar apa yang akan Alisha katakan Arsya lebih memilih untuk pergi.


Kepergian Arsya membuat Alisha berpikir keras tentang pria itu. Kenapa pria itu berubah sikap. Meski masih sering membuatnya takut tapi sikapnya akhir-akhir ini begitu baik.

__ADS_1


Apa karena Alisha sedang sakit?


__ADS_2