Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 27 Barang Bekas


__ADS_3

"Ngapain sih kita ke sini?" tanya Jimmy yang mengikuti Arsya.


"Ketemu cewek yang lo suka," jawab Arsya asal.


"Siapa?"


"Istri gue lah."


Jimmy mendadak menghentikan langkahnya. Arsya yang berjalan lebih dulu sampai ikut berhenti dan menoleh pada manajernya itu.


"Kenapa, lo?"


"Gue rasa lo makin gila, Sya." Jimmy menatap marah pada Arsya.


Arsya tertawa. "Di mana gilanya. Gue emang mau ketemu istri gue. Nah, lo bukannya suka sama istri gue. Gue perhatiin setiap lo ketemu istri gue, lo terlihat seneng. Makanya gue ajak lo ketemu sama dia biar lo sneneg."


"Serah lo deh!" Jimmy kembali berjalan, kali ini malah meninggalkan Arsya saking kesalnya dengan prilaku modelnya itu.


"Woy, tunggu gue!" seru Arsya mengejar Jimmy.


Di ruangan tempat Alisha membereskan semua gaun-gaun milik Mbak Ratih, di sana Alisha semakin terpojok. Ia tidak tahu apa yang lelaki di hadapannya ini inginkan tapi pengalaman membuatnya berpikir buruk.


"Sebenarnya kamu mau apa?" tanya Alisha dengan mimik wajah takut yang tak bisa ditutupi.


"Tenanglah, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Itu saja," jawab Riko tak peduli jika Alisha begitu ketakutan.


"Aku tidak ingin mengenalmu lebih jauh, aku sudah menikah!" tegas Alisha.


Riko malah tertawa mendengar status yang dikatakan Alisha. "Aku tahu kamu sudah menikah dengan Arsya, tapi pernikahan yang dipaksakan bukan? Kalau saja waktu itu aku yang tidur denganmu apa kamu mau juga menikah denganku?"


"Jangan bicara sembarangan ya, kamu!"


"Bicara sembarangan? Bukankah itu kenyataan. Semua orang tahu alasan kenapa kalian menikah. Jadi jika aku yang menodaimu pasti kamu juga mau menikah dengan ku, kan?"


Alisha semakin berjalan mundur hingga tubuhnya menabrak gantungan baju dan menimbulkan suara gaduh. "Aku bilang mundur!"

__ADS_1


"Aku tidak yakin Arsya memperlakukanmu dengan baik. Aku sangat tahu bagaimana sifat Arsya. Dia laki-laki brengsek yang menodaimu hanya demi taruhan denganku," ungkap Riko.


Alisha langsung tercengang mendengar apa yang teman suaminya ini katakan.


"Iya, dia menodaimu hanya untuk memenangkan taruhan mobil milikku. Kurasa belum terlambat jika kamu ingin meninggalkan Arsya sekarang."


Alisha menggelengkan kepalanya. Mencoba menyangkal semuanya.


"Dan satu hal lagi, kamu tidak perlu khawatir jika berpisah dari Arsya. Aku akan menerimamu denhan senang hati. Ya ... meskipun kamu adalah bekasnya si bajingan itu."


Di antara rasa takut yang mendera terselip pilu dalam hatinya. Betapa menyakitkannya kenyataan yang harus ia dengar. Juga hinaan dari pria di depannya ini. Riko menganggap Alisha seolah barang bekas, yang bisa dipakai oleh satu orang kemudian dialihkan ke orang lain.


"Kenapa malah nangis. Sudahlah, tidak usah menangisi pria brengsek macam Arsya. Kamu tinggalkan saja dia dan pergi bersamaku. Aku juga hebat dalam urusan ranjang seperti Arsya." Riko masih bisa tertawa seolah yang dikatakannya adalah lelucon.


Ucapan Riko justru membuat Alisha merasa jijik. Kini perutnya seakan diaduk. Rasa mual menyerangnya tiba-tiba. Ia segera menutup mulutnya untuk menahan gejolak dalam perutnya.


"Pergilah, aku tidak sudi bersama pria sepertimu!" teriak Alisha. Ia bahkan melempar hanger yang ia dapat dari gantungan baju yang terjatuh tadi.


Riko bisa menghindar dari lemparan benda kecil itu. Bukan menyerah tapi pria itu semakin mendekat. Membuat ketakutan Alisha menjadi berkali-kali lipat.


"Aku bilang pergi ... jangan mendekat!" Alisha mengambil bangku plastik yang ada di sekitarnya kemudian melemparnya untuk menghalau langkah Riko.


"Aku mohon jangan!" mohon Alisha. Kini ia semakin menangis.


Riko berjongkok di depan tubuh Alisha yang luruh ke lantai. Di saat pria itu akan menyentuh hijab Alisha, tangan seseorang menarik dan melemparnya ke belakang. Tanpa ampun Arsya menghajar teman lamanya itu.


"Brengsek lo, apa yang mau lo lakuin sama istri gue!" sentak Arsya seraya memukuli wajah Riko.


Riko sendiri tak punya kesempatan untuk membalas karena Arsya menyerangnya secara bertubi-tubi. Pria itu hanya mampu melindungi diri agar pukulan Arsya tak langsung mengenai wajahnya. Namun apalah daya, semampu ia bertahan tak pelak wajahnya kena juga oleh bogem-bogem mentah Arsya.


"Sya, udah, berhenti. Jangan lo pukul lagi!" seru Jimmy mencegah Arsya kembali menghajar Riko.


"Iya, Sya, udah. Bisa mati Riko kalau lo hajar begitu," timpal David.


Mendengar suara David, Arsya menghentikan serangnnya. Ia menoleh menatap David dengan kemarahan. Temannya yang ini pasti ikut bersekongkol juga dengan Riko. Sebab tadi saat Arsya sampai di depan ruangan khusus untuk Mbak Ratih dan para modelnya ada David yang berdiri di sana berjaga pintu. Saat Arsya bertanya sedang apa David di situ. Pria itu justru bingung dan berbohong jika ia sedang menunggu temannya.

__ADS_1


Arsya curiga ketika mendemgar suara gaduh dari dalam ruangan dan teringat jika istrinya ada di dalam. Tanpa pikir panjang Arsya mendorong tubuh David yang menghalangi jalannya. Benar saja, saat Arsya masuk ia melihat Riko yang tengah berusaha menyentuh istrinya. Di situlah darah Arsya terasa mendidih.


"Lo bawa itu temen lo atau gue habisin sekarang juga!" ujara Arsya dengan mata merah penuh amarah.


Segera David memapah Riko keluar dari ruangan itu. Sedangkan Arsya langsung menghampiri Alisha yang masih terduduk menangis ketakutan.


"Al, kamu nggak apa-apa, kan?" Arsya menyentuh bahu Alisha. Namun ditepis begitu saja.


"Tolong jangan sentuh aku," ujar Alisha dengan takutnya.


"Al, ini aku ... Arsya."


Alisha tak menjawab sebab ia bisa mengenali Arsya dari suaranya. Ia terus saja menangis.


Arsya pun mengerti. "Ok, aku tidak akan menyentuhmu. Ayo, kita pulang," ajak Arsya.


Barulah Alisha mendongak menatap suaminya. Ada juga Jimmy yang berdiri di belakang Arsya.


Perlahan Alisha mencoba berdiri dan beberapa kali ia sempat akan terjatuh karena gemetar di kakinya. Arsya ingin membantu tapi ia tahu istri masih dalam fase syok, jadi ia hanya mengawasi. Jimmy sampai heran karena melihat Arsya diam tak membantu.


Pria itu sempat akan membantu Alisha ketika istri temannya itu kembali akan terjatuh saat mencoba untuk menegakkan badannya. Namun dihalau oleh Arsya dengan gelengan kepala.


Mereka hanya terus memperhatikan sampai Alisha bisa berdiri sendiri dengan tegak, dan mulai melangkah meski gontai. Arsya hanya mengawasi sembari berjaga-jaga di belakang tubuh Alisha jika istrinya itu terjatuh.


Begitu sampai di tempat Arsya memarkirkan mobil, Jimmy segera membuka pintu belakang untuk Alisha. Arsya duduk di bangku kemudi sedangkan Jimmy di samping Arsya. Mobil melaju dengan cepat menuju apartemen Arsya. Sampai di basement apartemen, Arsya buru-buru membuka pintu untuk Alisha.


"Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Arsya, yang dijawab Alisha dengan anggukan.


"Kamu naik dulu ke atas, ya. Aku antar Jimmy pulang dulu," ujar Arsya.


Kembali Alisha mengangguk.


"Lo nggak usah anter gue deh. Gue pulang sendiri. Lo urus itu istri lo. Lagian, gue heran ya, istri lo dalam keadaan lemah begitu bukannya lo bantu malah lo diemin. Makin yakin gue kalau lo bukan suami yang tepat untuk Alisha," ujar Jimmy setelah Alisha masuk ke gedung apartemen.


"Nggak usah banyak omong deh lo kalau nggak tahu masalahnya. Alisha itu kalau ketakutan ngga bisa disentuh oleh siapa pun termasuk gue. Paham, lo!"

__ADS_1


Arsya melempar kunci mobilnya pada Jimmy. "Pulang sendiri sono!"


Gelagapan Jimmy menangkap kunci yang dilemparkan temannya. Ia pun belum bisa menangkap maksud Arsya. Ingin bertanya tapi pria itu sudah pergi menuyusul istrinya.


__ADS_2