
"Sya, mending kita balik ke Jakarta aja. Lo denger sendiri kan, apa kata ustaz tadi. Dilarang melamar wanita yang telah dilamar oleh saudaranya, kecuali saudaranya itu telah tiada atau memberi izin."
Arsya langsung menoleh pada Jimmy yang duduk di sampingnya di serambi masjid. Benar apa yang Jimmy katakan, persis seperti isi ceramah dari ustaz yang baru ia dengar selesai salat magrib tadi.
Kecemburuan Arsya tadi siang membawa pria itu mendatangi masjid. Menghabiskan harinya di rumah ibadah tersebut. Sesuatu yang membuat Jimmy terheran-heran.
Apabila dulu jika ada masalah Arsya akan pergi ke kelab untuk memborong minuman memabukkan, hari ini ia melihat perubahan signifikan dari seorang Arsyanendra ketika dirundung masalah.
Masjid. Sesutu yang tak sedikitpun terlintas dalam angan Jimmy. Namun, semua seolah telah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Di masjid inilah Arsya seolah mendapatkan jawaban dari Tuhan tentang apa yang harus ia lakukan pada hubungannya dengan Alisha.
Melalui ceramah seorang ustaz yang menyinggung soal hubungan antara laki-laki dan perempuan, justru membawa Arsya mendengar tentang hukum mendekati wanita yang telah dilamar oleh pria lain.
Di sinilah ia harus menyerah. Harus ikhlas dan menerima kenyataan jika memang jodohnya dengan Alisha hanya sampai dua tahun silam. Niat yang ia utarakan untuk kembali rujuk dengan Alisha harus ia kubur dalam-dalam. Ia harus turut bahagia melihat mantan istrinya kembali membina rumah tangga bersama pria lain. Dan pria beruntung itu adalah Fatih.
"Besok kita pulang," ujar Arsya lirih. Ia segera memakai sepatunya kembali dan beranjak balik ke hotel.
Jimmy bak baby sister yang selalu setia mengawal kemana pun temannya itu pergi. Juga rela dibebani banyak masalah oleh Arsya. Entah apa yang menjadi pamrih tapi Jimmy tak pernah bisa abai pada sahabatnya yang satu ini.
__ADS_1
"Lo jangan kabur-kaburan lagi. Bikin gue susah nanti. Nih, gue pesenin tiket pesawat untuk penerbangan besok pagi ke Jakarta. Kita berangkat pagi aja biar lo cepat move on," ujar Jimmy di dalam taksi.
"Bener ya, Sya, lo jangan kabur kayak kemarin malam. Mendadak menghilang ternyata nemuin Alisha di rumahnya. Lo harus ingat, lo udah nggak boleh lagi punya niat untuk balikan sama Alisha karena dia udah dilamar oleh Fatih," lanjut Jimmy.
"Tenang aja, entar sampai Jakarta gue cariin lo banyak kerjaan biar lo cepet lupa dengan Alisha. Move on gitu," imbuh Jimmy.
Arsya hanya terdiam. Enggan menanggapi apa yang Jimmy katakan. Sampai di hotel pun pria itu terus saja membisu.
Sikap Arsya yang sejak tadi tidak acuh, membuat Jimmy memilih untuk diam dan memberi ruang sendiri untuk Arsya. Sementara dirinya memilih untuk mengubungi Fatih. Berpamitan pada pria itu jika besok ia akan kembali ke Jakarta dan semua urusan kerjasama mereka akan ia handle dari jauh. Mungkin nanti dia bisa balik lagi ke Solo jika diperlukan.
"Lo jangan lupa undang gue kalau kawin, gue pasti datang," ujar Jimmy sebelum mengakhiri panggilan.
"Siap, Boskuh!" ujar Jimmy. Ia pun mengakhiri panggilan untuk bisa beristirahat sebab besok ia harus bangun lebih awal.
Penerbangan mereka adalah jam delapan, dan harus stay di bandara jam tujuh untuk chek in.
"Tidur, Sya, besok kita berangkat pagi," pesan Jimmy sebelum ia memilih untuk segera tidur.
__ADS_1
Arsya benar-benar menuruti apa yang jimmy katakan. Ia bangun sangat pagi, lebih cepat dari Jimmy. Buktinya saat ini, jam enam tepat ia sudah sampai di depan rumah Alisha dan memencet bel pintu tumah sang mantan istri.
Alisha dari dalam rumah buru-buru mengenakan hijab. "Sebentar," teriaknya dari dalam. Meski sedikit heran karena jarang ada tamu sepagi ini. ia bergegas juga.
"Mas Arsya?" Raut terkejut tak mampu Alisha sembunyikan.
"Assalamualaikum."
"Wa ... waalaikumsalam, Mas."
"Aku cuma ingin pamit."
Alisha tambah terkejut.
"Aku akan kembali ke Jakarta pagi ini. Aku juga ingin bilang, selamat untuk hubunganmu dengan Fatih semoga kalian bahagia."
Alisha belum mempersilakan Arsya masuk saat pria itu pergi begitu saja dari rumahnya. Alisha bahkan masih mematung menatap kepergian Arsya yang tak menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
Dalam kebingungan yang ia rasa akan sikap Arsya, ada seseorang yang menatapnya diam-diam dari dalam mobil. Wajahnya terlihat tidak suka, bahkan cenderung marah. Tangannya menggenggam setir mobil dengan kuat seolah menahan amarah agar tak meledak.