
"Lo yakin nanti mau ikut ke acara pernikahan Alisha dan Fatih?" tanya Jimmy di dalam taksi yang membawanya dan Arsya dari bandara Adi Soemarmo ke sebuah hotel yang sudah disiapkan oleh pemilik butik di kota Solo yang akan bekerja sama dengan Arsya.
"Hmm." Arsya mengangguk tapi tak mengalihkan fokus dari layar benda pipih di tangan.
"Lo nggak punya tujuan buat ngerusak akad nikah mereka, 'kan?"
Kontan Arsya menoleh. Mendelik tajam pada Jimmy yang melontarkan pertanyaan tak masuk akal menurutnya.
Tahu akan arti tatapan Arsya, Jimmy langsung angkat tangan sembari memasang senyum. "Ya, siapa tahu aja kan, lo punya niat terselubung hadir ke acara akad mereka."
"Gue memang punya niat terselubung."
"Apa!" pekik Jimmy.
"Niat gue buat hadir di acara akad Alisha dan Fatih karena gue mau meyakinkan diri gue sendiri kalau perjuangan gue memang sudah harus berakhir. Gue pengen lihat Alisha dan memupus semua harap tentang dia di akadnya nanti."
Jimmy manggut-manggut. "Masuk akal."
Jimmy masih terus menatap Arsya yang sudah kembali fokus pada layar ponselnya. Terbersit rasa kasihan pada sahabatnya itu karena tak bisa lagi bersama dengan wanita yang benar-benar bisa merubah hidupnya. Padahal dulu dirinya juga yang memaksa Arsya untuk melepaskan Alisha, tapi kenapa sekarang timbul rasa bersalah. Dan lebih merasa bersalah lagi saat ia memberitahu kapan Alisha dan Fatih akan menikah. Membuat model itu bersikeras ingin hadir.
Namun dibalik semua, kedatangan mereka tidak serta merta hanya akan menghadiri pernikahan Alisha dan Fatih saja. Semua seolah sudah diatur oleh Sebaik-baik pengatur. Dalam waktu yang berdekatan Arsya memperoleh pekerjaan di kota Solo, yakni menjadi brand ambassador sebuah butik di kota Solo. Saat ini Jimmy datang ke kota Solo selain untuk menghadiri pernikahan temannya—Fatih—juga untuk mengantar Arsya menjalani pemotretan.
"Jim, coba lo baca apa agenda gue di Solo," pinta Arsya tiba-tiba.
Jimmy langsung membuka note, di mana ia menyimpan catatan kegiatan Arsya selama bekerja di Solo. "Sampai di hotel lo bisa istirahat dulu. Nanti malam kita meeting dengan Pak Danar—pemilik butik. Setelah itu lo bisa kembali ke hotel dan istirahat lagi, besok kita baru akan mulai pemotret ...."
"Pak ... stop, Pak ... Stop!" teriak Arsya pada supir taksi.
Tentu saja teriakan Arsya membuat panik supir taksi juga Jimmy. Supir tersebut langsung mengentikan mobilnya. Begitu mobil berhenti, Arsya buru-buru turun dan berlari ke arah jalan yang sudah ia lewati tadi.
"Hei, berhenti lo!" teriak Arsya dan langsung menghampiri seseorang yang tengah dihajar. Ia menarik seorang pria berjaket kulit cokelat dan langsung menjatuhkannya.
"Buruan naik!" teriak teman si jaket cokelat. Tak mau mengambil resiko dengan terus berkelahi, pria berjaket cokelat yang merupakan perampok segera naik ke motor temannya dan pergi begitu saja dengan membawa hasil rampokan.
"Gimana keadaan lo, baik-baik aja, kan?" tanya Arsya pada seseorang yang ia kenal.
Pria itu mengusap darah yang mengalir dari hidung dan susudt bibirnya yang pecah akibat perkelahian dengan dua perampok tadi.
"Fatih!" seru Jimmy yang turun dari taksi dan menghampiri dua temannya. "Astaga, kita bawa ke rumah sakit, ya?"
"Nggak usah. Aku baik-baik saja," ujar Fatih yang akan berdiri.
Arsya mengulurkan tangan pada calon suami Alisha itu untuk membantu. Bukannya menyambut, Fatih justru terdiam beberapa detik dan menatap tangan Arsya yang terulur.
__ADS_1
"Aku pulang saja," sambung Fatih. Ia berusaha berdiri sendiri dan mengabaikan bantuan Arsya. Meski samar, tapi tetap terlihat raut tidak suka di wajah Fatih.
"Ya udah kita antar," ujar Jimmy.
Kali ini ia tak menolak. Karena kakinya pun pincang akibat terjatuh dari motor.
"Sya, lo tolong bawa motor Fatih. Bisa, kan?"
Arsya mengacungkan jempol sebagai jawaban.
Fatih dan Jimmy naik taksi dan Arsya menaiki motor Fatih. Arsya mengikuti taksi dari belakang karena ia belum tahu di mana rumah Fatih.
Begitu sampai di rumah Fatih, mereka bertiga disambut oleh teriakan Wanda yang histeris.
"Fatih, bagaimana ini, Nak? butik milik Ayu kebakaran subuh tadi. Dia baru sempat ngabarin Ibuk sore ini karena seharian ini dia sibuk. Semua ludes, ndak ada yang bisa diselamatkan termasuk baju pengantin pesanan kita. Gimana ini, Fatih?" cerocos Wanda seakan tak melihat jika ada yang berbeda dari wajah putranya.
"Astagfirullah hal adzim, Mas Fatih! Kenapa?" seru Salwa. "Ibuk ini gimana, sih. Lihat Mas Fatih ini, lho. Mukanya babak belur begini, Ibuk malah mikirin baju. Soal baju nggak usah dipikir, nanti kita beli yang sudah jadi saja, masih banyak toko yang buka. Nggak usah khawatir!"
"Loh ... Fatih, kamu kenapa?" Wanda seakan baru tersadar dengan keadaan sang putra.
"Nggak apa-apa, Buk," jawab Fatih.
"Ndak apa-apa bagaimana." Wanda memegang dagu Fatih dan itu cukup membuat Fatih mengerang. "Salwa buruan ambil obat buat Masmu!"
"Kok bisa sampai babak belur seperti ini bagaimana ceritanya?"
"Fatih dirampok, Buk."
"Dirampok!"
Fatih mengangguk.
"Lalu cincin kawinmu?"
Fatih menggeleng lesu. Ia seperti kehilangan nyawa saat harus berterus terang tentang cincin pernikahan yang telah hilang dirampok.
"Hilang?"
Fatih mengangguk.
"Astagfirullah hal adzim, Duh Gusti ... pertanda apa ini. Kok dalam satu waktu cincin pernikahan hilang, baju pengantin juga terbakar," ujar Wanda mengusap dada.
Jimmy dan Arsya saling pandang mendengar apa yang Wanda ucapkan.
__ADS_1
"Wes lah Buk, nggak usah mikir macem-macem. Ini musibah, nggak ada pertanda apa pun selain kita harus beli lagi yang baru. Bener, 'kan, Mas Fatih?"
Fatih menatap Arsya. Ia mengangguk meski ia sendiri ragu. Apa yang ibunya katakan mulai mengusik tanya dalam hati.
"Sudah, Mas Fatih istirahat saja biar nanti lukanya nggak begitu terlihat di hari H. Masih ada waktu seminggu buat milih baju sama cincin. Nggak usah khawatir soal itu." Salwa mengulang ucapannya untuk menenangkan kakaknya.
"Ibuk juga mending istirahat dulu, dari tadi cuma mikirin butik bulek Ayu yang kebakaran terus."
"Mas Jimmy dan Mas Arsya, juga boleh istirahat dulu kalau mau. Biar Salwa minta Mbok Ratmi nyiapin kamar."
"Nggak usah, kami sudah pesan hotel. Nanti kami akan ke hotel saja setelah kondisi Fatih membaik," ujar Jimmy.
"Ya sudah kalau begitu, Salwa buatin minum dulu. Silakan duduk dulu, Mas."
Jimmy mengangguk. Ia pun mengajak Arsya yang sedari tadi berdiri untuk ikut duduk. Sementara Wanda mengikuti perintah Salwa untuk beristirahat dulu di kamar.
"Makasih Jim, udah bantu," ujar Fatih.
"Nggak apa, kebetulan kita juga pas lewat. Gue malah nggak liat lo tadi. Arsya yang tahu dan minta supir taksi untuk berhenti. Tadinya gue pikir ada apa, eh ... ternyata mau nolongin lo yang lagi dirampok."
"Terima kasih," ujar Fatih singkat.
"Kalau gue boleh tahu, gimana kejadiannya?"
Fatih menatap Arsya sekilas. Seakan enggan jika pria yang menurutnya masih berpeluang menjadi rival itu mendengar ceritanya. Tapi, tak urung jua ia bercerita pada Jimmy.
Niat hati mengambil cincin pernikahan yang sudah dipesannya bersama Alisha. Saking bahagianya membawa cincin yang akan menjadi saksi ketika ia nanti menghalalkan Alisha, Fatih yang naik motor tidak waspada jika sudah diintai dua orang sejak dari toko perhiasan. Saat tiba di jalan yang agak sepi, motor Fatih dipepet lalu dijatuhkan oleh perampok yang berboncengan. Saat jatuh itu lah Fatih diancam untuk menyerahkan perhiasan yang tadi ia ambil. Karena tak mau menyerahkan, terjadilah baku hantam. Dua lawan satu dan Fatih tak bisa menghadapi dua perampok itu. Hingga perhiasan yang ia bawa lepas juga dari tangan.
Satu perampok yang berhasil membawa barang rampokan segera naik motor, tapi Fatih masih mencoba menghalangi agar tidak pergi. Akhirnya terjadi lagi perkelahian dengan posisi Fatih yang sudah kalah. Di saat itulah taksi yang ditumpangi Arsy dan Jimmy lewat.
"Ini, Mas, minumnya," sela Salwa. Meletakkan tiga cangkir teh di meja.
"Terima kasih," jawab Jimmy.
"Jadi cincin pernikahan lo ilang?"
Meski cukup berat menerima kenyataan tapi Fatih mengangguk juga. Jimmy dan Fatih pun lanjut mengobrol hingga waktu magrib hampir tiba.
"Assalamualaikum?"
Semua orang menoleh ke arah pintu tak terkecuali Arsya. Pandangannya langsung bersirobok dengan wanita yang datang dengan goodie bag di tangan.
"Alisha, ayo masuk," seru Salwa.
__ADS_1
Di ambang pintu Alisha ragu untuk melangkah. Semua karena ada Arsya yang tengah menatapnya.