
Semua sikap aneh Arsya masih berlanjut. Setelah semalam pulang dan langsung tidur bahkan tidak menyapanya, pria itu juga pergi lagi setelah salat subuh. Entah ke mana, sebab Arsya hanya bilang harus buru-buru pergi.
Alisha jadi takut apakah pernikahannya kali ini akan sama dengan pernikahannya yang dulu. Sikap Arsya yang tak acuh membuat Alisha berprasangka buruk.
"Astaghfirullah." Alisha mengusap dadanya sendiri. Lalu berdoa dalam hati semoga yang ia takutkan tidak akan menjadi kenyataan.
Dering ponsel merebut perhatian Alisha. Ia tinggalkan segala prasangka dan segera menghampiri benda putih pipih yang ia letakkan di atas nakas.
"Assalamualaikum, Salwa. Apa kabar?" sapa Alisha begitu menggeser ikon hijau yang terpampang di layar ponsel.
Di sana Salwa menjawab salam Alisha dengan ceria sekaligus menjawab kabar yang Alisha tanyakan. Awalnya ingin bercerita tentang toko busana muslim Alisha tapi Salwa urungkan karena pertanyaan tentang malam pertama sahabatnya itu lebih menarik keingintahuannya. Akan sangat seru menggoda Alisha tentang hal tersebut meskipun Salwa tak bisa melihat wajah kemerahan Alisha yang malu.
"Kamu masih kecil belum pantas tahu urusan orang dewasa," jawab Alisha disertai tawa.
Dari suaranya, terdengar nada kecewa dan pura-pura merajuk dari Salwa. Ia sangat ingin tahu tapi Alisha menggodanya dengan tidak mau berbicara sedikit pun. Kendati demikian, Salwa tidak marah. Ia tahu persis bagaimana Alisha dan bagaimana temannya itu menjaga perkataan.
Salwa memahami jika sikap yang Alisha ambil adalah benar, sebab tidak pantas juga menceritakan hal-hal intim antara suami dan istri pada orang lain kecuali memang diperlukan. Bukan sebagai bahan bercandaan.
"Tolong kamu handle dulu, sambil cari orang yang bisa dipercaya untuk bantu kamu. Untuk sementara mungkin aku belum bisa ke Solo," tutur Alisha menanggapi perkataan Salwa mengenai toko busana muslim miliknya.
Usai membicarakan perihal toko, Salwa dan Alisha mengobrol tentang Jimmy. Salwa menanyakan beberapa hal mengenai manajer suaminya itu dan dijawab Alisha sepanjang yang ia tahu saja.
Kira- kira lima belas menit Salwa dan Alisha berbicara di telepon. Alisha yang mengakhiri panggilan lebih dulu karena Bi Sumi memanggilnya.
"Ya ... Bi, kenapa?"
"Mbak Alisha mau di masakin apa, ini Bibi mau ke pasar belanja sayur. Biar sekalian nanti Bibi belanja."
Alisha meletakkan ujung ponsel yang ia pegang ke dagunya. Nampak berpikir dengan pertanyaan Bi Sumi. "Aku mau pepes ikan patin, tapi aku ikut ke pasar boleh, Bi?"
Sedikit tersentak tapi Bi Sumi mengiyakan juga. "Boleh, Mbak."
__ADS_1
Ijin dari Bi Sumi langsung membawa Alisha berlari mengambil baju ganti. Sementara itu Bi Sumi pamit menunggu Alisha di bawah saja.
Cuma butuh waktu tak sampai lima menit Alisha sudah turun dengan gamis abu-abu dan hijab warna hitam. Juga sebuah dompet yang ia pegang.
"Kita naik angkot atau taksi, Mbak?" Bi Sumi merasa bingung sebab itu ia menanyakannya pada Alisha. Kalau dulu sewaktu orang tua Arsya masih hidup, ia diantar supir walau hanya berbelanja ke pasar. Namun sejak tinggal berdua dengan suami menjaga rumah besar milik almarhum Surya Bagaspati, Bi Sumi lebih memilih naik angkot saja kalau ke pasar.
"Biasanya Bi Sumi naik apa?"
"Kalau Bibi ya biasanya cuma naik angkot, Mbak."
"Kalau begitu kita naik angkot saja seperti biasanya."
Sepakat untuk naik angkot, Alisha dan Bi Sumi berangkat. Bi Sumi mengajak Alisha ke pasar yang paling dekat dengan kediaman mertua Alisha. Di mana ia selalu berbelanja kebutuhan pokok.
Angkot berhenti tepat di depan pasar. Alisha keluar lebih dulu untuk membayar ongkos angkot pada supir.
"Mbak Alisha beneran mau masuk?" Sumi ragu.
"Iya, tapi ... kan?"
"Bi, ke pasar bukan hal aneh buat aku. Bi Sumi lupa aku berasal dari mana?" Alisha seolah mengingatkan pada asisten rumah tangga almarhum mertuanya itu soal jati dirinya yang berasal dari kalangan bawah. Sebab itu ke pasar adalah hal lumrah yang ia lakukan.
"Maaf Mbak, Bibi tidak ada maksud untuk____"
"Udah nggak apa-apa, ayo jalan," potong Alisha cepat.
Bi Sumi hanya menurut. Mereka pun masuk dan mulai berbelanja. Dimulai dari membeli sayur dan bumbu-bumbu dapur. Baru membeli daging juga ikan.
"Mbak Alisha, apa ini nggak kebanyakan?" Sumi heran dengan banyaknya barang yang Alisha beli. Kalau dulu belanjaan segini terasa biasa saja, tapi sejak tinggal berdua dengan suami Bi Sumi hanya belanja sedikit-sedikit.
"Nggak, Bi. Biar bisa sampai tiga hari ke depan." Alisha menepuk bahu Bi Sumi.
__ADS_1
"Ini sih bisa seminggu Mbak."
Alisha tersenyum saja. "Masih ada lagi nggak yang mau dibeli?"
"Nggak Mbak, sudah cukup."
Merasa sudah tidak ada lagi yang mau dibeli, Alisha dan Bi Sumi memutuskan untuk langsung pulang saja. Tidak sabar mengeksekusi pepes patin yang Alisha inginkan.
Mereka menunggu angkot di tempat yang sama tadi ia diturunkan. Baru juga akan menyeberang jalan, Alisha dan Bi Sumi dihampiri seorang pemuda yang tak dikenal. Dengan gerakan cepat pemuda itu mengambil dompet di tangan Alisha.
Alisha yang asik mengobrol dengan Bi Sumi tak mampu mempertahankan dompetnya. Alhasil dalam waktu sekejap dompet cokelat miliknya sudah berpindah tangan dan dibawa lari.
"Copet!" teriak Alisha reflek.
"Copet!" Bi Sumi pun ikut berteriak saat menyadari dompet Alisha diambil orang.
Perhatian orang di sekitar mereka langsung tertuju pada Alisha. Kemudian pada seorang pemuda yang tengah lari membawa kabur dompet Alisha. Beberapa orang yang melihat langsung mengejar.
Tidak tinggal diam Alisha dan Bi Sumi berusaha mengejar. Mereka berlari menyusul pemuda itu berharap dompetnya bisa kembali. Namun ketika pemuda itu tak lagi terlihat Alisha dan Bi Sumi berhenti.
Napas mereka naik turun saking lelahnya. Alisha sudah pasrah jika dompetnya ditakdirkan untuk hilang.
"Sudahlah, Bi. Nggak usah dikejar lagi. Biar saja, isinya hanya uang kok, tidak ada surat atau kartu yang penting." Alisha memilih untuk merelakan sejumlah uang yang masih tersisa di dalam dompet dari pada harus kembali berlari. Ia merasa kasihan pada Bi Sumi yang turut membantunya mengejar pencopet.
"Tapi uangnya, Mbak?"
"Biar aja, Bi. Kita pulang saja." Alisha dan Bi Sumi mulai balik badan. Berpikir untuk pulang saja.
Belum juga jauh langkahnya, seseorang dari arah belakang memanggil. "Mbak, tunggu!"
Mendengar ada yang memanggil, Alisha dan Bi Sumi kompak menoleh.
__ADS_1
"Alisha?" Seorang pemuda begitu kaget melihat wajah Alisha. Tak menyangka jika dompet yang ia selamatkan dari pencopet adalah milik seseorang yang telah lama ia kenal.