Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 101 Fakta Tentang Jenna


__ADS_3

"Jennamira Brown," ujar Arsya lirih. Membaca informasi yang diberikan oleh Anton.


Nama itu mengingatkan Arsya akan nama adiknya. Naima Jennamira. Arsya ingat betul nama yang diberikan oleh papanya ketika adiknya lahir.


"Benar, Mas. Itu adalah nama asli dari model yang bernama Jenna. Dia adalah anak yang diadopsi oleh pasangan bernama Rossita Brown dan juga David Brown. Rossita ini orang Indonesia, sementara David adalah warga negara asing. Jenna belum lama berada di Indonesia baru sekitar enam bulan belakangan. Karir modelnya pun ternyata belum lama dijalani. Mung ...."


Arsya memberi isyarat agar Anton berhenti bicara. Ia sudah tahu. Ia sudah menemukan titik temu tentang adiknya sekarang. Rossita Brown adalah kerabat dekat papanya yang sering ia panggil tante Rossita dulu. Arsya ingat betul jika suami dari tante Rossita bukanlah orang Indonesia.


Arsya membuka lembar berikutnya. Ada foto Jenna bersama dengan kedua orang tua angkatnya. Bibirnya sedikit tertarik ke atas.


"Saya mengambil foto itu dari akun media sosialnya," ujar Anton memberi penjelasan.


"Kalau begitu cari cara agar aku bisa bertemu dengan Jenna."


Kini Arsya yakin tentang siapa Jenna. Foto yang ia lihat menjadi bukti sangat jelas tentang Jenna. Arsya belum lupa dengan sosok Rossita pun dengan pria bule yang menjadi suami tantenya.


"Baik, Mas."


"Mas ... kamu di mana? aku udah siap," teriak Alisha yang turun dari tangga.


"Aku di sini," seru Arsya menjawab.


Mendengar suara Arsya ada di teras, Alisha menghampiri.


"Loh, ada Pak Anton?"


"Iya, Mbak, tapi ini mau pergi lagi. Maaf belum bisa antar Mbak Alisha ke mana-mana."


"Nggak apa, Pak."


"Ayo, nanti keburu siang," ajak Arsya.


"Saya pergi dulu, Pak," pamit Alisha.


Segera ia masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Arsya. Arsya memang semanis itu memperlakukan Alisha.


Begitu siap di bangku kemudi, Arsya segera menjalankan mobilnya keluar gerbang. Di depan sana Pak Tarjo sudah menunggu untuk menutup gerbang begitu mobil Arsya keluar.


"Terima kasih, Pak," ujar Alisha dari balik jendela yang terbuka.


Kepergiaan Alisha dan Arsya menarik perhatian dua orang yang tengah duduk di dalam mobil. Mereka terus memperhatikan mobil Arsya yang keluar dari gerbang dan perlahan-lahan menghilang dari pandangan.

__ADS_1


"Apa kamu hanya akan memandang rumah ini dari luar?" tanya Devon.


Saat ini ia dan Jenna berada di seberang jalan di depan rumah Arsya. Sejak semalam mereka menunggu di sana. Tepatnya setelah membaca semua yang ditulis oleh ibunya Jenna dalam dokumen.


Dalam dokumen yang ditulis Rossita, dikatakan jika Jenna adalah anak yang diambil dari kerabat Rossita. Dijelaskan juga siapa nama orang tua Jenna sebenarnya. Bahkan nama asli yang diberikan oleh orang tua kandung Jenna.


Berbekal tulisan tangan Rossita, Jenna mencari tahu di internet tentang orang tua kandungnya yang disebut Rossita bernama Surya Bagaspati. Dari mesin pencari berita, semua bisa Jenna dapatkan termasuk alamat rumah Surya.


Di mesin pencari berita tertulis jelas tentang Surya Bagaspati dan keluarganya.


"Apa kamu tidak ingin menyapa kakakmu?"


Jenna terus terdiam. Ia sendiri bingung dengan apa yang sedang berkecamuk dalam dadanya. Ada perasaan senang ketika tahu siapa sebenarnya dirinya. Namun ada juga perasaan sedih dan marah saat tahu kebenaran yang menyakitkan ini. Bahkan rasa ingin menyalahkan mulai mengusik pikirannya.


Kenapa dulu ia harus diberikan pada orang lain hingga harus bernasib seperti sekarang ini.


"Kita sudah menunggu sejak semalam. Bukankah akan menjadi sia-sia jika kamu tidak mengatakan kebenaran jika kamu telah kembali pada kakakmu," ujar Devon lagi.


"Jalan!" ujar Jenna pada akhirnya. Ia belum siap dengan apa yang harus ia lakukan sekalipun hanya untuk bertemu dengan kakaknya.


"Apa?" Devon terkesiap.


"Ayo jalan."


"Jalan!"


Devon tak bisa berkata-kata lagi selain menuruti apa yang Jenna mau. Ia pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Surya Bagaspati.


*****


"Lihat apa sampai senyum-senyum sendiri begitu?"


Anggi yang tersentak langsung menutup ponselnya. "Papa?"


Gunawan duduk di bangku paling ujung di meja makan. Tempatnya sebagai kepala keluarga. "Apa yang bisa Papa bantu untukmu, Sayang?"


"Maksud, Papa?"


Sembari mengambil selembar roti dan mengolesnya dengan selai, Gunawan menjawab, "Arsyanendra, Papa tahu, yang membuat kamu tadi senyum-senyum sendiri adalah Arsyanendra, bukan?"


Gunawan tidak melihat apa yang Anggi sembunyikan di ponselnya. Ia hanya menebak saja. Namun, tebakan Gunawan memang benar adanya. Sebelumnya Anggi memang melihat potret Arsya di sosial media milik model itu.

__ADS_1


Memperhatikan wajah tampan Arsya membuat Anggi tanpa sadar melengkungkan bibirnya ke atas. Merasa bahagia bisa mengenal apa lagi bisa sedekat tadi malam. Ketika ia berbincang dengan Arsya.


"Dia sudah ada yang punya, Pa." Raut wajah Anggi berubah seketika. Yang tadinya terlihat sumringah dengan senyum di bibir, langsung berubah sendu saat mengingat jika Arsya sudah punya pasangan.


"Tapi kamu menginginkannya, bukan?" Gunawan memotong roti dan menyuapnya.


Anggi menunduk lesu. Memangnya apa yang bisa ia lakukan jika ia menginginkan Arsya yang sudah memiliki pasangan.


Meski ada rasa tertantang, Anggi tetap merasa akan sangat sulit menundukkan seorang Arsyanendra. Melihat sikap Arsya memperlakukan istrinya tempo dulu, adalah bukti betapa pria itu sangat mencintai istrinya.


"Sayang."


Anggi kembali tersentak dengan panggilan Gunawan. "Eh ... iya, Pa, kenapa?"


"Ayo makan."


"Hemm." Anggi mengangguk.


"Jangan khawatir soal Arsya. Papa yakin kamu bisa mendapatkannya. Bukankah selama ini kamu selalu dapat apa yang kamu inginkan?"


Anggi mendongak. Apa maksud papanya ini. Arsya bukan barang seperti mainan-mainan yang ia miliki. Kalau dulu ia selalu dapat apa yang ia mau, semua karena apa yang ia inginkan masih seputar mainan. Bukan manusia seperti Arsya.


Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan Arsya jika pria itu sudah memiliki pasangan. Kecuali Arsya sudah berpisah dengan Alisha.


"Tenanglah, Sayang. Apa pun yang kamu mau, pasti akan Papa bantu untuk mendapatkannya." Gunawan mengulas senyum. Kata-kata yang keluar dari mulutnya pun terdengar enteng. Seolah apa yang ia janjikan pasti akan ia wujudkan.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Nita yang baru saja turun.


Ia mengecup pipi Anggi juga suaminya.


"Kita berangkat sekarang, Pa," ajak Nita.


"Kamu nggak sarapan dulu?" Gunawan menunjukkan potongan roti yang ia tusuk dengan garpu.


"Nanti saja, ini aku sudah telat," ujar Nita sembari melihat jam tangan.


Gunawan pun segera mengusap mulutnya dengan tisu. Mengakhiri sarapan demi ajakan istrinya.


"Kami pergi dulu, Sayang," pamit Nita tak lupa memberi ciuman di pipi untuk Anggi.


Begitu juga Gunawan. "Jangan terlalu dipikirkan. Popoknya semua bisa jamu dapatkan, ok!" bisik Gunawan sebelum pergi.

__ADS_1


Anggi terus memperhatikan kedua orang tuanya yang bejalan keluar dengan mesra. Suatu hari nanti ia pun ingin mendapatkan pasangan seperti papanya. Yang setia dan sangat mencintai keluarga.


__ADS_2