
"Nah itu dia yang ditunggu-tunggu," ujar Gunawan.
"Siapa?" Anggi melongok dari balik tubuh papanya.
"Sang pangeran," jawab Gunawan bernada gurauan.
Tahu jika papanya sedang mencandainya, Anggi salah tingkah sendiri. "Apaan sih, Pa?"
Gunawan menarik Anggi untuk berdiri sejajar dengannya. Merangkul putri yang seakan tumbuh dengan cepat. Rasanya baru kemarin ia menimang bayi itu, tapi sekarang ia sudah melihat putrinya sukses dengan karir yang diimpikan selama ini. Juga menyaksikan bagaimana Anggi jatuh cinta. Dari sikap yang ditunjukkan Anggi, Gunawan yakin putrinya itu benar-benar kepincut dengan sang model.
"Asyik banget, ngobrolin apa, sih?" Nita yang melihat keakraban suami dan putrinya tidak tahan untuk tidak bergabung.
Gunawan menunjuk dengan dagu. "Tuh!"
Mau tak mau mata Nita mengikuti arah dagu suaminya menunjuk. Mata Nita seketika berbinar melihat kedatangan model yang telah mensukseskan produk baru miliknya. Untuk dia juga acara ini digelar. Selain untuk menyenangkan putrinya tentu saja.
Gunawan sudah menceritakan gerak-gerik yang ia tangkap dari Anggi tentang Arsya. Sebab itulah Nita sengaja mengadakan jamuan makan malam untuk berterima kasih pada Arsya atas kerja samanya yang telah banyak membuahkan hasil. Sekaligus untuk membuat Anggi lebih akrab dengan Arsyanendra.
Melihat Arsya dan Jimmy yang seolah kebingungan mencari, Nita secara spontan melambaikan tangan. Memberi kode pada Arsya dan Jimmy untuk menghampirinya.
"Selamat malam, Tante," sapa Jimmy begitu berhadapan. "Om ...." Tak lupa juga menyapa Gunawan.
__ADS_1
Satu per satu mereka salami termasuk Anggi. Seperti halnya Jimmy, Arsya pun melakukan hal serupa.
"Maaf terlambat, Tante, soalnya harus jemput Arsya yang tadi masih pemotretan," ujar Jimmy menjelaskan.
"Nggak apa-apa, lagi pula ini hanya acara biasa, nggak formal seperti kemarin," jawab Nita dengan senyumnya yang selalu ramah.
Hanya sebentar mereka berbincang karena Nita harus segera membuka acara. Ditemani oleh suami dan juga anaknya.
Dalam pidato pendeknya Nita menyebutkan jika keberhasilannya berkarir selama ini tidak luput dari dukungan dua orang yang ia kasihi yakni suami dan anak tercintanya. Nita bahkan memuji Gunawan adalah pria setia nan bertanggung jawab.
"Kedip lo, Sya ... kedip, inget bini lo di rumah," cibir Jimmy karena tatapan Arsya pada Nita dan keluarganya begitu aneh.
"Anggi memang cantik, tapi ada Alisha yang udah sah. Inget gimana perjuangan lo bisa kembali pada Alisha," imbuh manajer itu.
Arsya melihat ke arah mobil yang sejajar dengan mobil yang dikemudikan Jimmy. Di dalam mobil yang terbuka jendelanya itu, Arsya melihat Gunawan bersama dengan si rambut blonde.
Malam sebelumnya Arsya melihat si rambut blonde bersama pria tambun di hotel yang sama dengannya. Lalu siang harinya melihat si rambut blonde sudah berganti pria yakni Gunawan. Apa benar kalau si rambut blonde punya pekerjaan sampingan seperti dugaannya. Mendekati pria kaya dan mengambil keuntungan dari mereka.
Seakan sulit dipercaya jika itu benar-benar terjadi. Di hadapannya sekarang berdiri Gunawan yang begitu disanjung oleh sang istri dan juga anaknya. Sebutan pria setia apakah semua hanya demi menjaga nama baik keluarga.
Ah ... dunia ini memang penuh tipu-tipu. Terlebih dengan dunia orang-orang berduit. Demi citra diri yang dibangun, mereka seolah menghalalkan berbagai cara. Arsya tahu benar itu. Karena ia dan keluarganya dulu adalah pelaku yang juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Suara riuh tepuk tangan bahkan belum menyadarkan Arsya dari berbagai pikiran dan juga prasangka dari dalam otaknya. Sampai-sampai Jimmy menepuk pundak pria itu untuk membawanya kembali pada kenyataan.
Menoleh ke sekeliling dan mendapati semua bertepuk tangan, Arsya pun melakukan hal yang serupa. Walau ia tak mengerti untuk apa ia bertepuk tangan.
Usai mendengarkan pidato singkat Nita, Jimmy mengajak Arsya untuk bertemu dengan tamu undangan yang lain. Agar terjalin relasi, yang tentunya akan sangat bermanfaat untuk karir Arsya ke depan.
Baru juga beberapa tamu yang ia temui, pria itu sudah menepi. Ia tidak seluwes Jimmy dalam hal menjual kata. Sebab itulah Jimmy dipertahankan dalam karirnya. Karena pria itu pintar sekali mendapatkan pekerjaan untuk Arsya berkat kepandaiannya berbicara.
"Kenapa nggak gabung dengan yang lain?" Suara Anggi membuat Arsya menoleh.
Wanita itu sudah berdiri di sampingnya dengan membawa dua gelas minuman. Satu ia serahkan untuk Arsya, yang diterima tanpa penolakan.
"Terima kasih," ujar Arsya. Ia tak menjawab pertanyaan Anggi sebelumnya.
"Jadi aku harus panggil apa nih, Pak, Mas atau nama aja?" ujar Anggi sesaat setelah keheningan mengisi ruang antara dirinya dan Arsya. Semua demi membangun komunikasi. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa mengobrol berdua dengan Arsyanendra.
"Terserah," jawab Arsya lugas.
"Jadi boleh nih, aku panggil Mas?" Anggi mulai menggoda. Terbukti dengan nada bicara dan juga senyum yang dibuat-buat.
Arsya yang sebelumnya menatap ke depan memperhatikan Jimmy yang sedang berbincang sontak menoleh ke arah Anggi yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Terserah," ujar Arsya lagi. Baginya tak masalah dipanggil Mas atau nama saja, karena banyak orang juga memanggilnya begitu. Wartawan, teman, asisten rumah tangga bahkan supir taksi pun memanggil dia dengan sebutan 'Mas'.
Anggi tersenyum senang. Merasa selangkah lebih dekat dengan Arsya. Walaupun ia tahu Arsya sudah ada yang punya, tapi entahlah. Ia tak mampu menolak pesona pria satu ini. Rasanya ia tertantang untuk membuat Arsya berpaling.