
Vidio Arsya dan Alisha di kedai cuanki begitu cepat menyebar. Bahkan sudah memenuhi laman media online. Banyak sekali akun yang men-tag Jimmy selaku manajer. Membuat Jimmy kalang kabut dibuatnya.
Mereka belum ada pembahasan ataupun rencana untuk mempublikasikan soal rujuknya Arsya dan Alisha. Bahkan selama ini, Arsya lebih merasa nyaman hubungannya dengan Alisha tidak terendus media.
Beberapa kali Jimmy mencoba menghubungi modelnya itu, tapi tak mendapat jawaban.
"Ke mana sih, lo, Sya ... angkat telpon gue, buruan!" Jimmy mondar-mandir sendiri. Terus mencoba menghubungi Arsya.
Selalu seperti ini. Di saat genting, Arsya justru sering membuat Jimmy kesal dengan tingkahnya yang mendadak hilang.
Jimmy tak ada pilihan lain selain menghubungi Naima, bertanya akan keberadaan Arsya. Namun, Naima pun tidak tahu Arsya ada di mana. Bahkan seperti kata Bi Sumi, mereka pergi sejak siang hari dan belum kembali hingga malam ini. Tidak ada kabar sama sekali dari mereka berdua.
Karena telpon dari Jimmy itu, Naima jadi ikut gelisah. Bertanya-tanya ke manakah gerangan kakak dan juga kakak iparnya.
*****
Padahal saat ini Arsya sedang menemani Alisha di ruang operasi. Setelah tadi sore mendengar teriakan Alisha di kamar mandi ketika ingin mengambil wudhu.
Saat itu, Arsya bergegas menghampiri Alisha yang panik. Sebab mendadak banyak sekali cairan keluar dari **** *************.
Arsya yang tidak tahu apa itu, segera melarikan istrinya ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit barulah Arsya diberitahu jika cairan itu adalah air ketuban.
Alisha mengalami pecah ketuban dini. Dan hal itu mengharuskan bayinya untuk segera dilahirkan. Dokter pun memilih untuk melakukan tindakan operasi caesar.
Saking paniknya, Arsya menyerahkan semua pada dokter. Berharap istri dan anaknya sehat.
Sehingga di sinilah Arsya sekarang, menemani Alisha yang tengah berjuang melahirkan anak mereka.
__ADS_1
Tak sekali pun Arsya beranjak dari sisi Alisha. Ia terus memberikan support pada istrinya untuk tetap kuat dalam berjuang.
Kurang lebih satu jam berada di meja operasi, akhirnya Arsya dan Alisha mendengar juga tangis pertama bayi mereka. Anak yang sudah mereka tunggu-tunggu akhirnya bisa mereka lihat.
Bayi yang selama hamil tidak pernah mau memperlihatkan jenis kelaminya itu kini menampakkan diri. Membuat air mata Arsya dan Alisha pecah seketika.
Tangis bahagia karena sekarang mereka memiliki predikat baru, yakni orang tua.
"Alhamdulillah," seru Arsya ketika dokter berhasil mengeluarkan anak dari perut istrinya. Berulang kali, Arsya mengecup kening Alisha dan berulang kali juga pria itu mengucapkan terima kasih pada istrinya.
"Terima kasih, Sayang ... terima kasih telah berjuang demi anak kita," bisik Arsya pada Alisha.
Setelah dibersihkan, seorang perawat meletakkan bayi mungil itu ke dada sang ibu. Membiarkannya berusaha mencari sumber makanannya.
Alisha mendekap bayinya dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Masih tidak percaya, ada makhluk mungil dalam dekapannya ini. Bayi yang lahir dari rahimnya.
"Enggak, Sayang. Ini anak kita."
Tangis Alisha bukannya berhenti tapi justru makin menderas. Anak dalam dekapannya ini seperti obat dari semua rasa sakit.
Allah tunjukkan kebesarannya dengan menghadirkan seorang anak dalam pernikahan Alisha. Kendati dulu pernah merasakan pedihnya kehilangan, seakan semua ditebus lunas oleh kehadiran malaikat kecilnya.
Satu jam, bayi mungil itu berada dalam dekapan Alisha. Sebab setelahnya, perawat kembali mengambil untuk memindahkannya ke ruang khusus bayi. Di sanalah, Arsya mengadzani buah hatinya.
Sama seperti Alisha, rasa haru terus menguasai batinnya. Banyak dosa yang sudah ia lakukan, tapi Allah masih begitu menyayanginya. Memberinya kebahagiaan yang tiada kira.
Bayi kecil itu benar-benar mengalihkan dunia Arsya. Membuatnya lupa jika dirinya belum memberi kabar pada siapa pun. Bahkan membuat teman dan adiknya bingung.
__ADS_1
Usai Alisha di bawa ke ruang perawatan, barulah Arsya menghubungi Naima juga Jimmy. Mengabarkan tentang kondisi sang istri yang melahirkan.
Tidak menunggu waktu lagi, baik Naima maupun Jimmy segera meluncur ke rumah sakit.
Untuk sesaat Jimmy lupa akan tujuannya mencari Arsya. Melihat bayi kecil nan lucu membuat Jimmy ingin sekali memiliki satu yang serupa.
"Makanya, nikah, jangan ditunda-tunda," ejek Arsya ketika Jimmy mengatakan apa yang ia rasa.
"Dia mau nikah kalau kakaknya udah nikah duluan, gimana dong?"
"Ya usaha lah, biar cepet dapat ijin."
Jimmy nampak berpikir tentang usaha apa yang harus ia lakukan. "Apa gue bikin dia hamil duluan, ya," cetusnya begitu saja.
Sontak, Arsya menoyor kepala sahabatnya itu. "Usaha boleh, tapi jangan gila juga."
Semua yang ada di ruangan itu tertawa.
"Mas Jimmy, ih ... pikirannya jorok melulu!" Naima ikut bicara.
"Iya, lagian aku juga nggak rela kalau Mas Jimmy macam-macam sama temen aku," timpal Alisha.
"Iya ... iya, gue cuma bercanda. Lagian gimana bisa gue bikin dia hamil. Orang ngedate aja kakaknya selalu ikut." Jimmy mencebik teringat hal itu.
Setiap kali janjian dengan Salwa, Fatih selalu turut serta menjadi orang ketiga di antara mereka. Berasa diikutin setan. Eh ... bodyguard.
"Ngomong-ngomong siapa nama bayi kecil kita?" tanya Naima.
__ADS_1
Alisha dan Arsya saling tatap. Karena belum tahu jenis kelamin anaknya ketika hamil, mereka sama sekali tidak punya persiapan nama.