Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.25 Tetap Tidak Bisa


__ADS_3

Alisha diam tak menjawab hingga suaminya itu mengulang pertanyaan yang sama. "Kamu mau ke mana?"


Barulah Alisha menoleh. Ia menunjuk dirinya sendiri. Bertanya lewat sorot matanya apakah yang diajak bicara adalah dirinya.


"Iya, aku bertanya padamu." Arsya malah bingung. Tentu saja ia mengajak istrinya berbicara. Memang siapa lagi yang akan ia ajak bicara selain Alisha di kamar ini. Bukankah di ruangan ini hanya ada mereka berdua.


Bukan tanpa sebab Alisha mempertanyakan itu. Panggilan 'kamu' untuk Alisha terasa janggal terdengar karena suaminya itu lebih sering memanggilnya 'lo'.


"Nggak ke mana-mana," jawab Alisha. Ia kembali melanjutkan kegiatannya mengeluarkan baju-bajunya dari dalam lemari.


"Terus, kenapa semua baju kamu dikeluarkan begitu?" Arsya semakin mendekat.


"Aku sedang mencari sesuatu." Alisha kembali memasukkan satu per satu bajunya sembari menatanya ke dalam lemari.


Arsya masih setia berdiri menunggui di belakang istrinya.


"Nah, ini dia. Akhirnya ketemu juga," pekik Alisha. Ia langsung berbalik menunjukkan sebuah pasmina yang terselip di antara tumpukan baju. Saat ia mengangkat pasmina berwarna hitam, saat itu juga ia berjingkat kaget dengan keberadaan Arsya yang kini berhadapan dengannya.


Perlahan, Arsya menurunkan pasmina yang menghalangi pandangan di antara keduanya. Begitu pasmina itu tersibak, nampaklah wajah mereka yang begitu dekat. Dalam beberapa saat, mata mereka terkunci satu sama lain. Terpenjara dalam debar hati yang tak biasa.


Alisha segera menundukkan pandangannya. Menutup mata dan menggigit bibirnya sendiri. Berharap Arsya segera pergi.


Di luar dugaan, Arsya justru meraih dagu Alisha dan membuatnya mendongak. Alisha masih saja menutup mata. Takut beradu pandang dengan suaminya. Seperti biasanya tubuhnya mendadak gemetar dengan sentuhan Arsya. Tapi ia coba melawan. Ia tidak mau lari seperti biasanya.


Mungkin inilah saatnya ia harus menghadapi ketakutannya. Menjalankan kewajibannya dan melawan traumanya sendiri.


Tangan Arsya berpindah, dari dagu kemudian mengusap halus pipi Alisha. Setengah mati Alisha menahan gemetar tubuhya. Saat tangan pira itu menyusuri wajahnya. Ia terus menggigit bibirnya. Menahan semua ketakutan yang mendera.


Waktu serasa berhenti kala bibir Arsya memagut lembut bibir Alisha. Tangannya menggenggam kuat pasmina saat Arsya mencoba memperdalam ciumannya. Tubuhnya semakin bergetar hebat, bayangan-bayangan perlakuan Arsya malam itu kembali muncul dalam ingatannya. Hingga Alisha tak tahan untuk mendorong tubuh suaminya sekuat yang ia bisa.


"Maaf, Mas," ujarnya dengan napas tersengal. "Maafkan, aku," ulangnya melihat Arsya kini berdiri berjarak dengannya.


Alisha menangis mendekap pasmina hitam yang sedari tadi ia cari. Ia kalah. Ia belum bisa menghilangkan bayang-bayang buruk suaminya. Tak mudah rupanya melawan ketakutan yang seakan sudah mengakar kuat di alam bawah sadarnya.


"Hei, kenapa menangis?" Arsya mendekat. Mengusap air mata yang mengalir di pipi kanan dan kiri Alisha.


"Aku ... aku tidak bisa jadi istri yang baik," jawab Alisha sesenggukan.


Arsya melingkarkan tangannya ke bahu Alisha, mencoba untuk memeluk agar Alisha lebih tenang, tapi Alisha justru mundur dan menghindar.


"Tidak, Mas ... aku tidak bisa," tolak Alisha. Ia sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa. Justru air mata kembali membasahi pipi.


Dahi Arsya mengernyit. Ia bingung dengan ucapan istrinya. Arsya hanya ingin menenangkan, bukan ingin memaksanya tapi kenapa ditolak.


Ini kejadian ke sekian Alisha merasa ketakutan dengan dirinya. Ia pun menghubungkan semua peristiwa-peristiwa sebelumnya. Hampir sama. Istrinya ini sangat ketakutan dengan sentuhan yang ia lakukan.

__ADS_1


"Ok, aku tidak akan menyentuhmu," ujar Arsya pada akhirnya.


Karena ucapan Arsya ini lah Alisha berani menatap suaminya. "Aku ... aku ...." Alisha ingin menjelaskan tapi rasanya tak sampai juga kata-kata itu terucap.


"Sttt ... kamu tidak perlu banyak bicara. Sekarang ayo kita duduk." Arsya mengajak Alisha ke ranjang. Tentu dengan mengikuti wanita itu di belakang. Tanpa sentuhan sama sekali.


Kali ini Arsya duduk di samping Alisha tapi dengan menjaga jarak. Ia tidak lantas mengajak Alisha berbicara. Hanya memperhatikan istrinya itu.


Sampai dering ponsel milik Alisha membuat mereka berdua terhenyak bersamaan. Alisha akan bangun tapi dicegah oleh Arsya. "Biar aku saja." Pria itu pun mengambilkan ponsel Alisha dan melihat nama yang tertulis di layar ponsel istrinya.


"Mbak Ratih," ujar Arsya menyerahkan ponsel Alisha.


"Assalamualaikum," sapa Alisha setelah menerima ponselnya.


"Iya, Mbak. Sebentar lagi aku berangkat," jawab Alisha setelah mendengar permintaan Mbak Ratih untuk langsung ke lokasi wedding festival. Setelahnya Alisha menutup panggilan.


"Kenapa?" tanya Arsya ingin tahu.


"Mbak Ratih minta aku agar segera ke wedding festival."


"Oh ...." Arsya manggut-manggut. "Ya, sudah, bersiaplah."


Alisha segera bangkit. Ia menaruh pasmina yang sedari tadi ia dekap ke atas ranjang lalu pergi ke kamar mandi.


Sedangkan Arsya, ia juga bersiap pergi ke kantor Jimmy. Niat awalnya untuk menanyakan kontrak kerja baru untuknya. Namun ia malah bertemu dengan Cinta. Wanita yang semalam bertamu ke apartemennya.


Wanita itu nampak sedikit kesal saat berpapasan dengan Arsya.


"Hai, Cin," sapa Arsya lebih dulu.


Wanita bernama Cinta itu justru melengos dan tak menanggapi.


Jimmy yang baru keluar dari ruangannya melihat kejadian itu. Ingin tertawa tapi ia tahan.


Melihat senyum Jimmy yang tertahan Arsya langsung menghampiri. "Kenapa, lo!"


Jimmy geleng-geleng kepala. "Enggak, gue cuma mau minta Desi beliin gue kopi," elak Jimmy.


"Des," teriak Jimmy. "Beliin gue kopi, gih," ujarnya ketika wanita bernama Desi menghampiri. Jimmy mengulurkan satu lembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada Desi.


"Lo mau, nggak?" tawar Jimmy pada Arsya.


"Boleh."


"Dua ya, Des."

__ADS_1


"Iya, Pak." Wanita bernama Desi segera berangkat. Sementara Arsya dan Jimmy masuk ke ruangan manajer.


Arsya langsung duduk di sofa di mana Jimmy biasa menerima tamu. "Untuk apa Cinta datang ke mari?" tanya Arsya. Seingatnya Cinta tidak berada di bawah manajemen temannya itu.


"Lo ke sini cuma untuk tahu apa yang Cinta lakukan di sini?" cibir Jimmy.


"Ya, enggak. Gue mau tahu gimana tawaran iklan itu. Jadi nggak?"


"Jadi lah, entar lo tinggal ngomong sama Alisha kalau dia dapat tawaran iklan."


Arsya mendadak terdiam ketika nama Alisha disebut.


"Kenapa, lo?"


"Gue bingung harus ngomong gimana sama istri gue."


"Lah, ngomong tinggal ngomong aja, apa susahnya."


Arsya pun menceritakan kisahnya tadi malam saat ia dan Cinta terpergok sedang berdua di apartemen.


"Gila, lo, Sya ... bener-bener udah gila, lo!" caci Jimmy dengan wajah penuh emosi.


"Gue udah peringatin lo jangan main api. Keributan yang lo buat kemarin aja baru reda, jangan bikin masalah lagi!" teriak Jimmy saking marahnya mendengar cerita dari modelnya tersebut.


"Buat apa lo undang cewek ke apartemen lo kalau di sana ada istri lo. Gue nggak nyangka ya kalau lo sebodoh itu!" Jimmy sampai berdiri dan menjambak rambutnya dengan frustasi mengingat kelakuan temannya ini.


"Gue nggak ngundang dia. Cinta sendiri yang datang ke apartemen gue." Arsya mencoba menjelaskan kembali.


"Dan lo manfaatin situasi itu untuk mesra-mesraan sama dia. Bener-bener lo, Sya. Cowok brengsek lo, emang!" Jimmy semakin marah.


"Gue nggak manfaatin dia. Dia yang ngrayu gue. Terus, gue bisa apa kalau dia maksa."


"Ya lo bisa nolak lah!" sentak Jimmy.


"Gue udah nolak berkali-kali tapi Cinta yang berhasrat banget sama gue, jadi gue ...."


"Jadi lo ikutin maunya dia sampai lo kepergok sama Alisha. Kalau saja Alisha nggak pulang apa lo bakal bawa cewek itu ke kamar lo. Dan lo seneng-seneng sementara istri lo lagi nggak di rumah. Begitu!" Jimmy semakin emosi mendengar cerita Arsya.


"Bener-bener nggak ngotak, lo!"


"Sekarang, lo udah minta maaf sama istri lo?"


Arsya menggeleng.


Jimmy makin gemas dengan Arsya. Rasanya ingin sekali menjambak rambut pria satu ini.

__ADS_1


__ADS_2