
"Alisha," panggil Fatih.
"Ah ... ya, kenapa, Mas?"
Di sinilah Fatih menyadari jika calon istrinya tidak mendengarkan apa pun yang ia katakan sejak tadi. Wanita itu hanya raganya saja yang duduk dengannya, entah dengan pikirannya.
Memang benar, karena pikiran Alisha masih pada kejadian semalam saat Arsya tiba-tiba bertamu ke rumahnya.
"Boleh aku masuk?" ujar Arsya malam itu.
Alisha yang bingung dan gugup hanya bisa mengangguk. Membiarkan mantan suaminya masuk ke dalam rumah.
Arsya mengedarkan pandangan, menatap sekeliling rumah yang menjadi tempat tinggal sang mantan istri. Alisha yang duduk bersebrangan dengannya hanya mampu tertunduk. Sesekali menatap keluar rumah di mana pintu tadi tidak ia tutup. Sengaja ia biarkan terbuka lebar.
"Kamu sendirian tinggal di sini," tanya Arsya memecah kesunyian yang beberapa menit berlalu tanpa suara.
"I ... ya?"
"Sejak kapan kamu pindah ke Solo?"
"Satu bulan setelah kita bercerai."
Arsya sempat terdiam lagi untuk sesaat. Sampai ia kembali berkata, "Maaf ...."
Alisha langsung mendongak. Menatap wajah penuh rasa bersalah Arsya.
"Maaf, karena aku terlambat tahu tentang anak kita. Maaf untuk trauma yang kamu simpan sendirian."
Alisha tak mampu berkata-kata mendengar apa yang Arsya ucapkan. Hanya bulir bening yang mendadak luruh membasahi pipi. Menjadi jawaban betapa rasa sakit itu tak bisa tertepis. Luka kehilangan yang ia pendam selama ini kembali diusik.
__ADS_1
"Kalau boleh, ijinkan aku menebus semuanya. Memperbaiki apa yang sudah retak di antara kita."
Alisha tak mampu menjawab walau sepatah kata. Semua luka yang Arsya torehkan begitu nyata. Membekas trauma, membayang duka.
"Apa kamu sakit?" tanya Fatih.
Membuat Alisha tersentak sadar jika kini ia sedang bersama pria yang telah meminangnya.
Tadi, di jam makan siang Fatih datang ke toko dan mengajaknya untuk makan di luar. Alisha tak bisa menolak karena sudah sering kali ia menolak ajakan pria itu untuk pergi bersama.
"Aku?" Alisha heran dengan pertanyaan Fatih, tapi segera paham maksud pria itu. "Ah ... tidak, aku baik-baik saja, Mas."
"Oh ... syukurlah, aku pikir kamu sedang tidak enak badan karena itu kamu lebih banyak melamun."
Alisha tersenyum canggung. Ia memegang kembali sendok dan menyuapkan es buah ke mulutnya untuk meminimalisir sikap anehnya hari ini.
"Alisha, aku ingin mempercepat pernikahan kita. Katakan mahar apa yang kamu inginkan?"
"Hati-hati," ujar Fatih melihat Alisha terbatuk-batuk.
"Maaf jika aku mengejutkanmu, tapi aku ingin mahar pernikahan kita kamu yang tentukan. Apa pun yang kamu inginkan akan aku usahakan."
Alisha mengusap mulutnya dengan tisu, mengambil waktu untuk menjawab, "Terserah Mas Fatih saja, apa pun yang Mas Fatih berikan akan aku terima dengan ikhlas. Aku tidak ingin memberatkan Mas Fatih soal mahar."
"Alhamdulillah." Fatih tersenyum bahagia. "Inilah yang membuat aku tidak ragu untuk mempersuntingmu."
Berbeda dengan kebahagiaan yang Fatih rasakan, Alisha justru takut untuk mengungkap masa lalunya.
"Mas Fatih, aku ingin bicara soal masa laluku. Soal trauma yang aku derita selama ini." Alisha berusaha memberanikan diri. Bagaimanpun hubungan dirinya dan Fatih akan segera berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Ia harus bisa jujur agar tak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.
__ADS_1
"Aku ...."
"Sttt ... tidak usah kamu teruskan. Aku tidak mau dengar dan tidak mau tahu apa pun soal masa lalumu. Biarkan semua terkubur sebagai kenangan dan tidak perlu kamu bawa pada kehidupan pernikahan kita."
"Tapi, Mas ...."
"Sudahlah Alisha, kita bahas yang lain saja. Menurutmu lebih baik kita gelar di masjid atau di rumah saja akad nikah kita nanti?"
Fatih justru banyak bicara soal masa depan. Membuat Alisha tak punya kesempatan untuk menceritakan soal Arsya. Sampai pria itu mengantar Alisha kembali ke toko tak henti-hentinya Fatih merencanakan perihal acara pernikahan mereka nanti.
"Terima kasih, Mas, dan maaf sudah merepotkan," ujar Alisha saat Fatih mengantarnya masuk ke toko.
"Sama-sama, mulai sekarang kalau ada apa-apa, atau kamu perlu diantar ke mana pun hubungi saja aku. Aku siap kapan pun kamu butuh." Senyum bahagia tersungging di bibir Fatih. Dan dibalas Alisha dengan senyuman pula.
Namun, senyum keduanya lenyap seketika saat Arsya dan Jimmy keluar dari toko baju milik Alisha. Ada hal aneh yang ditangkap Fatih saat matanya bersirobok dengan Arsya.
"Jimmy ... Arsya, ada kalian ke sini?" tanya Fatih.
"Eh ... itu, kami datang untuk membeli baju di toko Alisha. Kemarin kami belum sempat melihat-lihat. Rencana untuk oleh-oleh," ujar Jimmy berbohong. Tentu semua demi Arsya.
"Oh ... sudah dapat belum?" tanya Fatih lagi.
"Belum, kami menunggu Alisha."
"Ya sudah, ayo masuk," ajak Fatih.
Tak menanggapi ajakan Fatih, Arsya justru melenggang pergi begitu saja. Nampak kemarahan yang tak mampu Arsya sembunyikan.
"Arsya, tunggu!" teriak Jimmy. "Maaf, ya, aku kejar Arsya dulu," pamit Jimmy langsung berlari.
__ADS_1
Fatih yang tak mengerti hanya bisa menatap bingung kepergian Arsya dan Jimmy. Semakin dibuat tak mengerti saat Alisha pun meninggalkan ia masuk begitu saja tanpa pamit.