
Alisha menatap heran pada suaminya yang sedang makan dengan lahap. Tidak biasanya Arsya makan sebanyak itu, tapi pagi ini pria itu bahkan menambah nasi lagi dan memuji rendang buatan Alisha.
"Aku lapar banget, Sayang. Sejak kemarin siang aku belum makan." Arsya memberi penjelasan tanpa diminta seolah tahu apa yang sedang Alisha pikirkan.
"Tapi selain lapar, karena rendang buatan kamu enak banget. Bikin nagih," sambungnya.
"Bukan aku yang buat, Mas, aku cuma bantu aja." Alisha mengaku jujur karena sebenarnya Bi Sumi lah yang sangat berperan penting dalam memasak rendang kemarin.
"Bantu juga kan ikut masak, pokoknya aku suka rendang ini." Arsya kembali menyuap nasi terakhir dari piringnya.
"Mas Arsya ada kerjaan nggak hari ini?"
"Kenapa?" Arsya mengambil tisu untuk mengusap mulutnya usai makan.
"Hari ini aku dan juga Mbak Anggi akan ke rumah baru kita. Kalau Mas nggak sibuk, ikut, yuk. Biar Mas Arsya juga bisa ngasih masukan apa yang Mas Arsya mau untuk rumah baru nanti."
"Sebentar." Arsya membuka ponsel dan mengecek jadwalnya hari ini.
"Jam berapa?" tanya Arsya setelah melihat jadwal.
"Aku janjinya sekitar jam sebelas."
Arsya nampak berpikir sebentar. "Boleh, nanti setelah dari sana kita ke rumah pakdhe, katamu kemarin lagi kurang enak badan kan?"
"Hmmm."
Setuju untuk ikut, Arsya dan Alisha bersiap. Jam sebelas tepat ia sudah sampai di depan rumah baru mereka.
Rupanya Anggi dan satu orang lainnya sudah menunggu di sana. Ada raut terkejut dari Arsya ketika melihat Anggi, sang designer interior. Ia tak menyangka jika kartu nama kemarin adalah Anggi putrinya Tante Nita.
__ADS_1
Begitu juga dengan Anggi. Ia justru lebih terkejut ketika yang datang bersama Alisha adalah Arsyanendra. Bukankah menurut berita yang ia cari mereka sudah bercerai.
Ya ... Anggi mengenali Alisha sebagai mantan istri Arsyanendra ketika ia pertama kali bertemu di kantornya. Ia pikir Alisha sudah menikah lagi sebab dalam pemilihan design kemarin Alisha menyebut kesukaan suaminya. Ia tidak menyangka jika suami yang dimaksud Alisha adalah Arsyanendra. Pria yang mulai menarik hatinya.
"Mas, ini Mbak Anggi. Designer interior kita, yang kemarin direkomendasikan oleh Pak Bude—agen properti. Mbak Anggi ini suami saya, Mas Arsya," Alisha mencoba memperkenalkan keduanya.
"Mbak ... Mbak Anggi," panggil Alisha ketika Anggi tak menyahut.
"Kami sudah kenal," ujar Arsya.
Di saat yang sama asisten Anggi yang berdiri di samping Anggi berbisik menyadarkan gadis itu. "Bu Anggi, Ibu Alisha mengajak Ibu bicara," bisik Yeni yang tak lain adalah asisten Anggi.
"Ah ... ya, kami sudah saling kenal, kok," Anggi jadi malu karena tidak fokus.
"Benarkah, di mana?"
"Ehm ...." Anggi tak melanjutkan.
"Oh ... kalau begitu, langsung aja kita masuk. Kita lihat bagian-bagian mana saja yang akan kita sulap untuk jadi rumah impian," ajak Alisha.
Anggi dan asistennya mengangguk setuju.
"Mari masuk." Alisha mempersilakan, tapi Anggi justru meminta pasangan itu untuk berjalan lebih dulu.
Tanpa sungkan, Arsya merangkul bahu Alisha dan membawanya masuk ke rumah yang belum jadi sempurna itu. Di belakangnya, ada Anggi yang mencelos menatap melihat bagaimana Arsya memperlakukan istrinya.
"Bu Anggi," Yeni kembali menyadarkan Anggi dari lamunan yang tak biasa.
Begitu Anggi sadar, Yeni langsung memberi kode jika Arsya dan Alisha sudah berjalan jauh masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Anggi berusaha mengabaikan berbagai tanya yang mendadak memenuhi otaknya. Ingin bertanya tapi rasanya tidak etis karena status Arsya dan Alisha bukanlah ranah yang pantas untuk ia kulik.
Lagi pula Alisha sudah menyebut jika Arsyanendra adalah suaminya, jadi tidak mungkin lagi kan dia bertanya. Terlebih ingin tahu apakah mereka rujuk atau bagaimana.
Anggi menyadarkan dirinya sendiri agar tak memikirkan tentang bagaimana status Arsya dan Alisha bisa bersama lagi setelah dua tahun dikabarkan bercerai. Saat ini ia harus fokus pada pekerjaannya.
Anggi pun segera menyusul masuk untuk mendengarkan apa yang Arsya dan Alisha inginkan untuk membuat ruamh ini menjadi seperti yang mereka inginkan.
*****
Di sebuah ruang direktur utama perusahaan konstruksi, seorang pria tengah berkata kepada bosnya untuk memberikan informasi penting tentang seorang gadis yang menjadi tawanannya.
"Nona Jenna kabur, Pak," ujar seorang body guard yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi Jenna.
"Apa kamu bilang!"
Pria bernama Devon itu tertunduk karena sudah lalai dari tugas.
"Bagaimana bisa?" seru Pria yang membayar Devon.
"Maafkan saya, Semua murni karena kelalaian saya, Pak."
"Tentu saja kamu yang salah, karena itu cari dia sekarang juga sampai ketemu!"
Devon hanya mengangguk. Ia segera keluar dari ruang direktur utama.
Sepeninggal Devon, pria itu menggebrak meja dengan marah.
"Sialan! gadis kurang ajar, berani-beraninya dia mengancamku!"
__ADS_1
Direktur utama menjambak rambutnya sendiri. Frustasi menghadapi berbagai ulah Jenna.