
Seranjang dengan Arsya untuk pertama kali membuat Alisha sulit tertidur. Kecemasan dan ketakutan masih saja menghantuinya. Ia takut kalau mendadak Arsya menyerangnya secara brutal seperti dulu. Alhasil tidurnya tidak begitu nyenyak.
Pagi pun masih harus merasakan nikmatnya mual karena kehamilan. Suaminya itu juga ikut terbangun saat mendengar Alisha yang mual-mual di kamar mandi.
"Kenapa kamu keras kepala banget, disuruh periksa tapi nggak mau," omel Arsya.
Alisha terduduk di atas kloset sembari mengusap mulutnya dengan handuk kecil. "Aku nggak sakit, Mas," lirih Alisha.
"Kalau nggak sakit kenapa wajah kamu terlihat pucat, terus mual-mual kamu itu nggak ilang-ilang?"
Alisha berdiri. "Sebentar lagi ilang, Mas. Ini cuma pagi aja kerasanya."
Arsya mengernyit bingung.
"Sudah, Mas Arsya keluar. Aku mau pakai kamar mandinya."
Arsya hanya bisa menurut. Setelah istrinya selesai salat, Arsya kembali mendekati Alisha yang sedang bersiap untuk turun.
"Al, aku mau bicara," ujar Arsya yang berdiri di samping Alisha yang sedang menggunakan hijab.
"Bicara saja."
"Aku ada tawaran iklan, tapi mereka mintanya aku sama kamu. Kamu mau kan bantuin aku?"
Alisha langsung membalik badannya menatap Arsya. "Mas, aku nggak punya bakat jadi model. Aku juga nggak bisa berhadapan dengan kamera, jadi mana mungkin aku nemenin kamu buat jadi model iklan."
"Ada aku, aku akan ajari kamu gimana caranya jadi model, yang penting kamu setuju dulu."
"Enggak, Mas, aku nggak bisa. Aku nggak mau bikin Mas Arsya malu."
"Kamu nggak akan bikin aku malu, percaya sama aku."
Alisha menatap sorot mata Arsya yang memohon. "Aku nggak bisa, Mas," tolak Alisha lagi.
"Please, ini untuk karirku yang mulai bangkit. Ok."
Kali ini Alisha tak mampu mengelak dari sihir mata suaminya. Ia pun mengangguk sebagai persetujuan meskipun ia ragu karena ia benar-benar tak memiliki basic menjadi seorang model. Ia sering melihat para model dan mengamati pekerjaan mereka tapi dia sendiri belum pernah mencobanya.
"Yes!" pekik Arsya. "Thank you, Alisha." Secara spontan Arsya mengecup pipi istrinya kemudian berlalu pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Alisha mematung setelah mendapatkan kecupan singkat dari suaminya. Bukan terpesona akan kecupan Arsya, tapi lebih pada menilai respon dirinya. Tak ada ketakutan atau apa pun. Apa karena Arsya melakukannya dengan cepat dan singkat hingga tak memicu rasa traumanya. Entahlah ... Alisha hanya bisa mengusap kepalanya dan memilih untuk segera turun.
Biasanya di jam seperti ini Bi Sumi sedang membuat sarapan, ia akan membantu asisten rumah tangga tersebut. Baru juga kakinya menginjak dapur Alisha langsung berlari mencari kamar mandi, untung saja ada kamar mandi di dekat dapur. Alisha kembali mual-mual di sana.
Sarah yang sudah berada di dapur sebelumnya langsung menyusul menantunya ketika mendengar suara Alisha. "Sayang, kamu baik-baik saja, kan?"
Tak lama Alisha keluar sembari mengusap mulutnya. "Alisha nggak apa-apa, Ma."
"Syukurlah ... memangnya kamu mau ke mana?"
"Tadinya mau bantu Bi Sumi di dapur, tapi Alisha mencium aroma bumbu ditumis jadi mual."
Sarah tersenyum. "Sudah, nggak usah ikutan di dapur. Itu bukan tugas kamu, biar Sumi aja yang masak, kamu istirahat saja, nanti kalau makanannya sudah siap biar dipanggil. Yang sabar, memang begitu rasanya hamil muda."
"Mama dulu juga merasakan seperti ini, nggak tahan sama bumbu masakan yang ditumis?"
"Enggak, setiap ibu hamil itu beda-beda rasanya. Mama dulu tahan semua bau-bauan, cuma satu yang Mama nggak tahan ...." Sarah tersenyum lagi mengingat masa-masa ngidamnya dulu.
"Apa yang membuat Mama nggak tahan?"
"Bau, Papa. Dulu Mama nggak mau didekati Papa sama sekali pas hamil Arsya. Pokoknya bagi Mama, bau Papa itu nggak enak sama sekali."
"Benarkah?"
Ternyata sangat berbeda dengan dirinya. Alisha justru suka dekat dengan Arsya. Ia bahkan sangat menikmati aroma tubuh suaminya itu. Terlebih ketika pria itu usai mandi, aromanya bikin Alisha tidak tahan untuk tidak mencium wanginya.
"Lagi ngapain berdiri di sini?" tanya Arsya yang baru turun.
Baru juga diomongin. Sudah turun saja. Arsya dan wanginya yang menggoda.
Bukannya menjawab pertanyaan putranya, Sarah justru bertanya, "Kapan kamu pulang?"
"Semalam, Ma."
"Oh ...."
"Mama sama Alisha ngapain di sini?" tanya Arsya lagi.
" Ini, istrimu mual-mual lagi gara-gara nggak tahan sama aroma di dapur. Kamu bawa naik sana, atau bawa ke taman belakang aja biar segar."
__ADS_1
Arsya melirik Alisha dengan sorot mata penuh tanya. "Ma, tolong telfon dokter Rendra suruh ke sini. Bandel banget nggak mau diperiksain."
Kini Sarah yang menatap Alisha bingung. "Kamu belum bilang sama Arsya?"
"Bilang apa?" sahut Arsya cepat.
"Ehm ... itu, sebenernya aku udah periksa, Mas. Dan semua baik-baik saja."
Sarah menatap aneh pada menantunya. Kenapa Alisha tak memberi tahu Arsya jika ia tengah mengandung benih dari putranya itu. Apa sebenarnya yang Alisha mau, tapi apa pun itu pasti Alisha punya alasan tersendiri dan ia tak ingin menghancurkan rencana menantunya.
"Kalau begitu, Alisha ke kamar saja, Ma. Mau beres-beres. Hari ini Alisha mau pulang ke apartemen."
Sarah hanya bisa mengangguk.
"Maaf, Ma," batin Alisha ketika meninggalkan ibu mertuanya. "Alisha belum siap mengatakannya pada Mas Arsya."
"Arsya mau telfon seseorang dulu, Ma," pamit Arsya setelah istrinya kembali ke kamar.
Arsya berjalan menuju taman belakang. Ia menghubungi Jimmy agar mengatur jadwal pemotretan untuk iklan parfum yang ditawarkan untuk dirinya dan Alisha.
"Kapan kamu pulang?"
Arsya menoleh di mana terdengar suara papanya berbicara. Ia pun segera memutus panggilan telfon dengan Jimmy.
"Semalam," jawa Arsya singkat. Lalu pergi dan tak ingin lagi mengatakan atau sekadar berbasa-basi dengan orang tuanya itu.
"Tunggu!" sergah Surya. "Papa mau bicara."
Arsya yang tadinya berdiri langsung duduk di kursi di ikuti oleh Surya.
"Sekarang kamu sudah menjadi seorang suami, dan pasti akan menjadi ayah. Jangan memikirkan dirimu dan kesenanganmu sendiri. Pikirkan juga istri dan anakmu. Berhentilah dengan pergaulan bebasmu itu, terlebih dengan teman-teman yang tidak memberi manfaat. Perhatikan Alisha, dia butuh perhatian seorang suami," tutur Surya, yang ditanggapi dengan malas oleh Arsya.
"Jangan sampai kamu terjebak dalam dunia yang kamu anggap menyenangkan tapi justru menyengsarakan keluarga."
"Pa ... Papa di mana?" teriak Sarah.
"Kamu adalah imam baginya, jaga istrimu baik-baik."
"Ternyata Papa di sini." Sarah muncul dan menghampiri ayah dan anak itu. "Serius banget, ngomongin apa sih?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Arsya mau ke kamar, Ma," pamit Arsya tanpa menanggapi sedikit saja dari petuah-petuah papanya.
Hubungan mereka dari dulu memang tidak cukup baik. Sarah paham akan hal itu, sebab itulah ia hanya bisa membiarkan putra pergi begitu saja.