
Menunggu kepulangan Arsya esok hari, Alisha dibuat sibuk dengan persiapan menu rendang yang Arsya minta. Mendadak suaminya itu menelepon dan meminta untuk dibuatkan rendang. Karena itu, tadi pagi Alisha meminta bantuan Bi Sumi untuk membeli daging.
Ketika Bi Sumi sampai di rumah, Alisha langsung mengeksekusi. Dengan bantuan Bi Sumi tentunya. Alisha yakin Bi Sumi lebih tahu selera Arsya dari pada dirinya. Sekalian Alisha mau belajar. Bi Sumi mengajari Alisha mulai dari memotong daging hingga meracik bumbu.
"Setalah ini masukin apa, Bi?" tanya Alisha setelah menumis bumbu dan memasukkan daging.
"Beri air dulu, Mbak, terus biarkan saja dulu baru nanti kita masukkan santan. Kecilkan api, dan tunggu sampai matang."
Belum selesai acara memasaknya, mendadak Pak Tarjo datang dan memberitahu, "Mbak Alisha, ada tamu."
"Tamu?" Alisha yang sedang mengaduk daging meletakkan dulu spatula di tangannya.
"Iya, katanya teman Mbak Alisha."
"Teman?" Alisha mengernyit.
"Sudah, Mbak, temui dulu saja. Ini biar Bibi yang lanjutkan."
Alisha melepaskan apron dan mencuci tangan lebih dulu sebelum pergi ke ruang tamu. Ia terus bertanya siapa teman yang menjadi tamunya. Sebab selama ini belum ada yang tahu ia tinggal kembali di rumah mendiang mertuanya. Pun, belum banyak yang tahu juga tentang pernikahannya kembali dengan Arsya. Kalaupun ada yang tahu itu hanya Mbak Ratih, pakdhe dan budhenya saja. Tetapi itu tidak mungkin, karena kemarin ia baru saja menjenguk Imran yang ternyata sedang tidak enak badan.
Dan benar saja, Alisha terkejut ketika ia melihat tamu yang sudah menunggunya di ruang tamu.
Riski?
Dari mana pria itu tahu kalau ia tinggal di sini?
Tidak ingin terlalu lama dalam pertanyaan yang ia batin sendiri, Alisha memilih untuk langsung menemui Riski.
"Riski?"
"Hai ... Alisha," sapa Riski canggung.
"Hai ... Silakan duduk."
Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, Riski segera mendudukkan bokongnya di sofa setelah tadi berdiri menyambut Alisha.
"Ada perlu apa, ya, Ki?"
Alisha menoleh ke arah dapur, melihat apakah Bi Sumi sudah membuatkan minum atau belum. Untung saja tak lama Bi sumi datang dengan nampan yang membawa Sirop dan camilan.
"Anu ...." Riski mengusap rambutnya yang sebenarnya sudah klimis. "Itu, aku ...."
Riski bingung sendiri mau mengatakan apa. Jujur saja kedatangannya ini benar-benar random. Tanpa rencana sebelumnya.
"Silakan, Mas." Bi Sumi memotong kebingungan Riski. Menyelamatkan pria itu dari rasa gugup walau hanya sepuluh detik.
"Diminum dulu," ujar Alisha mempersilakan.
Tanpa sungkan Riski mengambil gelas berisi sirop dan menenggaknya langsung hingga habis. Membuat Alisha terheran-heran.
"Ah ...." Riski mengusap mulutnya yang basah. Rasa gugupnya mulai berkurang. Jujur sejak ia melihat betapa besar rumah suami Alisha ia langsung drop. Tidak berani bersaing. Ia nekat masuk hanya untuk memastikan jika Alisha benar-benar tinggal di rumah gedong ini.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana aku tinggal di sini?"
"Eh ... itu, tadi aku nggak sengaja lihat Bibi yang dulu sama kamu belanja ke pasar. Karena aku nggak liat kamu ke pasar lagi jadi aku ikutin aja dia sampai ke rumah ini. Ternyata benar kamu tinggal di sini." Riski kembali mengusap kepalanya sambil cengar-cengir.
Alisha tidak tahu harus berkomentar apa soal kelakuan Riski ini. Jadi pria ini mengikuti Bi Sumi seperti penguntit hanya untuk tahu dirinya tinggal di mana.
"Tapi Alisha, sebenarnya aku ingin mengatakan jika nomor yang dulu kamu berikan itu salah."
"Salah?"
"Iya, kamu mengetikkan nomor suamimu bukan nomor kamu."
"Oh ... iya, itu memang punya suamiku, dan aku sengaja memberikan nomornya supaya kalau kamu ada perlu kamu bisa lewat dia."
Riski membeliak, karena ternyata Alisha tidak salah memberi nomor tapi justru sengaja. "Jadi itu sengaja, ya?"
Alisha mengangguk pelan.
Dari sini Riski baru menyadari jika ucapan pria yang mengaku suami alisha kemarin memang sungguhan. Ia langsung berdiri dan pamit. Riski berjalan lesu ke luar rumah. Memupus semua harapan akan cinta pertamanya.
Meskipun heran, tapi Alisha biarkan Riski pergi. Ia justru kembali ke dapur dan melanjutkan masak rendang bersama Bi Sumi.
Malam hari sebelum istirahat, Alisha menyempatkan diri untuk membuka paket yang ia dapat tadi siang. Mata Alisha membola sempurna melihat barang yang dikirimkan oleh Salwa.
Lebih tidak percaya lagi dengan ucapan yang ditulis pada kartu.
'Selamat bersenang-senang'. Begitu pesan yang terkirim. Sangat singkat tapi penuh arti.
Beberapa kali ia melihat dengan jelas benda yang ia sendiri bingung menyebutnya apa. Pakaian atau bukan, Alisha tidak tahu. Sebab menurutnya definisi pakaian adalah kain yang digunakan sebagai penutup tubuh. Sementara benda yang ada di tangannya ini, sama sekali tidak bisa melakukan fungsi itu. Walaupun sama-sama bisa dipakai, tapi jika memakai kado dari Salwa ini seperti tidak memakai apa pun.
Alisha meletakan kado dari Salwa begitu saja di atas ranjang dan bergegas mencari ponselya. Mencari nama dari sahabatnya itu dan segera menekan ikon panggil.
"Assalamualaikum," sapa Alisha begitu panggilan tersambung.
Di seberang sana Salwa menjawab salam kemudian terdengar tawa cekikikan. Seakan tahu alasan Alisha mendadak menelponnya di malam hari.
"Salwa!" pekik Alisha.
"Kenapa, kamu sudah terima paketnya?" Salwa tak mampu menghentikan tawanya.
"Itu yang kamu kirim apaan? Aku nggak tahu gimana pakainya."
Salwa semakin terbahak-bahak di sana.
"Itu kado dari aku. Maaf, dulu pas kamu nikah aku belum sempat kasih kado makanya aku kirim. Cara pakainya ya tinggal pakai seperti kamu pakai baju tidur, segampang itu Alisha. Tapi, pakainya pas ada suami kamu di rumah, ya." Salwa berusaha menahan tawa.
"Salwa!" pekik Alisha lagi.
"Bagus, kan, kadonya? Aku yakin kamu pasti terharu karena hanya aku yang paling pengertian." Salwa abaikan protes Alisha. Senang bisa menggoda sahabatnya itu.
"Dijamin suami kamu bakal klepek-klepek liat kamu pakai itu," sambung Salwa.
__ADS_1
"Aku nggak mau pakai itu!" tolak Alisha tegas.
"Kenapa?"
Suara bariton yang sangat Alisha kenali membuatnya menoleh.
"Mas ..."
Arsya tak menjawab. Ia justru menyibak rambut Alisha dan mengecup leher wanita itu. Tangannya langsung melingkar di pinggang ramping sang istri.
Membuat Alisha tak lagi ingat jika ia tengah menelepon Salwa. Tangan yang tadi terangkat memegang ponsel mendadak turun, mengabaikan Salwa di sebarang sana.
"Alisha ... halo ... Alisha, kamu denger aku, nggak?" teriak Salwa di sana karena ucapannya tak ditanggapi.
"Kapan Mas pulang?"
Kembali Arsya mengabaikan pertanyaan Alisha. Ia lebih memilih menikmati aroma harum lewat leher sang istri.
Ini memang di luar rencana. Seharusnya Arsya pulang esok hari, tapi pria itu memaksa Jimmy pulang setelah tadi acara selesai. Ia mau istirahat di rumah saja, tidak perlu lagi menginap di hotel. Ada niat juga memberi kejutan buat Alisha.
Ternyata tepat sekali waktunya. Ia tidak salah memilih pulang lebih awal. Ketika Arsya diam-diam masuk kamar untuk mengejutkan Alisha, ia tidak menemukan istrinya di ranjang. Justru ada lingerie yang teronggok di atas ranjangnya. Ada kartu ucapan juga di sana. Arsya membacanya singkat sembari tersimpul senyum di bibirnya.
Ia mengedarkan pandang dan menemukan Alisha berada di balkon terlihat sedang menelepon seseorang. Tak ayal Arsya pun menghampiri.
"Aku ingin lihat kamu pakai itu," bisik Arsya di telinga. Pria itu bahkan menggigit kecil di sana.
Alisha membeliak meski tak bisa dilihat Arsya. Ia memutar tubuh untuk bisa berhadapan dengan suaminya. Lalu melongok ke ranjang di mana tadi ia meletakkan asal kado dari Salwa.
"Pakai, ya," bujuk Arsya.
Alisha terdiam. Menimbang permintaan suaminya.
Namun, sepuluh menit kemudian ia sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kado dari Salwa.
Malu ... iya, dia, malu. Sebab itu Alisha menutupnya dengan bathrobe ketika keluar.
Arsya yang menunggu di rajang tersenyum senang melihat Alisha yang masih saja malu-malu itu. Ia pun menjemput sang istri yang tak berani melangkah.
Tepat di hadapan Alisha, Arsya berhenti. Ia menatap Alisha dari atas hingga bawah. Sedang yang ditatap terus tertunduk.
Perlahan Arsya menarik tali bathrobe yang menutupi tubuh istrinya. Lalu membuka perlahan penutup tubuh itu.
Arsya benar-benar dimanjakan dengan tampilan Alisha berbalut kado dari Salwa. Warna hitam yang begitu kontras dengan kulit mulus sang istri membuat Arsya tak ingin berpaling.
Ada sesal yang menyusup dalam hati. Kenapa dulu tak terpikir untuk memberikan kado yang sama seperti yang Salwa kirim.
Ah ... bodohnya Arsya.
"You look so beautiful, Honey." Arsya meraih dagu Alisha untuk mendongak.
Tidak ada waktu lagi untuk menyesal. Sebab malam masih panjang untuk disia-siakan. Surga dunia sudah menantinya, dengan segala kenikmatan yang dijanjikan.
__ADS_1