Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 97 Ingin Tahu Tentang Si Blonde


__ADS_3

Selepas sarapan, Alisha, Arsya dan Jimmy langsung ke lokasi ruko yang akan Alisha sewa untuk mengembangkan bisnis busana muslim miliknya. Salwa sudah men-share lock melalu pesan singkat sebelumnya jadi tidak butuh waktu lama Alisha menemukan ruko tersebut.


Di lokasi rupanya Salwa sudah menunggu bersama pemilik ruko. Sebelum mereka masuk untuk melihat ke dalam ruko, Salwa lebih dulu memperkenalkan Alisha dengan pemilik ruko.


"Bu, ini Alisha yang akan menyewa ruko ini," terang Salwa. "Alisha ini, Bu Indah, pemilik ruko ini."


Setelah saling bersalaman, Bu Indah membimbing Alisha untuk melihat-lihat kondisi ruko. Sembari Bu Indah menerangkan plus minus ruko ini.


Di belakang Alisha dan Salwa ada Arsya dan Jimmy yang mengikuti. Meski sedari tadi ikut melangkah bersama tapi telinga Arsya tak sedikitpun mendengar uraian penjelasan dari si pemilik ruko. Ia juga tak memperhatikan percakapan antara istrinya, Salwa dan Bu Indah.


Pikiran Arsya mengelana jauh memikirkan tentang si gadis blonde. Rasa ingin tahu yang besar akan gadis itu membuat Arsya pamit.


Ia menepuk pundak Alisha yang ada di depannya. "Sayang, aku keluar dulu. Kamu teruskan saja liat-liat rukonya."


Alisha mengulas senyum. Ia paham, mungkin Arsya bosan mengikutinya jadi dibiarkan saja suaminya itu keluar mencari udara segar.


Arsya mencari tempat teduh sebelum mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang. Anton, mantan ajudan papanya itu dirasa masih bisa diandalkan.


"Nelpon siapa, lo?" tanya Jimmy yang ikut menyusul Arsya keluar.


"Anton," jawab Arsya singkat. Setelah mengakhiri percakapan dengan Anton.


"Ada apa?" Jimmy punya firasat ada sesuatu yang Arsya sembunyikan. Sebab ia tahu persis siapa Anton.


"Gue pengen menyelidiki seseorang?"


Jimmy membeliak. Ingin tahu juga siapa yang ingin Arsya selidiki. "Siapa?"


"Ini soal adik gue?"


Jimmy mengernyit. Bingung akan maksud Arsya. Adik?


Memang Arsya punya adik?


"Adik siapa maksud lo?"


"Ya adik gue lah!"


"Lo punya adik?"


Arsya mengangguk.


"Tunggu ... tunggu! Lo punya adik?" tanya Jimmy sekali lagi karena belum percaya.


Dan jawaban Arsya masih sama. Mengangguk.


"Ini gimana ceritanya, lo yang anak tunggal mendadak punya adik? Maksud lo almarhum bokap lo semasa hidup diem-diem nikah lagi dan punya anak dari istri keduanya, gitu?"


Mendengar Jimmy menyimpulkan sendiri cerita tentang adiknya Arsya langsung mendelik.


Tau tatapan tajam Arsya, Jimmy langsung berkata, "Maaf ... kan gue cuma menyimpulkan."


"Makanya jangan suka menyimpulkan sesuatu yang nggak lo tahu!"


"Iya-iya." Mulut Jimmy mencibir. "Jadi gimana ceritanya?"

__ADS_1


Akhirnya Arsya menceritakan rahasia besar keluarganya pada Jimmy. Hal yang selama ini dikubur dalam-dalam olehnya juga kedua orang tuanya. Mungkin sudah saatnya semua kembali terungkap. Sebab jujur saja, kalau diberi kesempatan ia ingin meminta maaf pada Naima akan perlakuan kedua orang tuanya juga dirinya yang tak mampu menahan Naima pergi.


Arsya masih berharap bisa bertemu satu-satunya saudara kandung yang ia miliki. Kalau dulu ia tidak mencari tahu soal Naima karena papanya melarang. Sebab perjanjian antara orang tuanya dulu dengan tante Rossita yang merupakan kerabat dekat papanya melarang untuk mengungkit tentang asal usul Naima.


Saat orang tua Arsya sudah memberikan Naima pada Rossita dan suaminya, saat itu juga mereka tidak berhak lagi atas Naima. Ketika itu, orang tua Arsya setuju saja tanpa memikirkan perasaan Naima dan Arsya di masa depan.


Kini Arsya ingin meminta maaf jika benar bisa bertemu dengan adiknya itu. Ia ingin sedikit mengurangi beban rasa bersalah dirinya juga orang tuanya.


"Jadi adik lo di London?" tanya Jimmy usai penuturan Arsya.


Arsya kembali mengangguk.


"Terus lo mau minta Anton ke London untuk menyelidiki semua dan mencari di mana tepatnya adik lo, gitu?"


Pertanyaan konyol Jimmy sontak membuat Arsya menoyor kepala sahabatnya itu. "Pinter dikit kenapa!"


"Lah, tadi lo bilang minta tolong ke Anton buat menyelidiki semua. Kalau adik lo tinggal di London, itu artinya lo nyuruh Anton buat ke sana, kan?"


Arsya memutar bola matanya malas. Capek jika harus menjelaskan lagi. Ia pun segera memasukkan ponselnya dan pergi menyusul Alisha lagi.


"Woy ... tunggu!" teriak Jimmy yang ditinggalkan. Tak pelak ia menyusul Arsya juga.


Pria itu terus melangkah mengabaikan Jimmy. Namun, sebelum Arsya masuk kembali ke ruko, Alisha dan Salwa lebih dulu keluar.


"Jadi nanti saya siapkan surat sewanya dan akan saya hubungi untuk bertemu notaris," ujar Bu Indah.


"Iya, Bu, nanti Ibu urus semua dengan teman saya ini ya, Bu. Dia ini yang akan mengurus semuanya termasuk pembayaran sewa ruko ini."


"Iya, Mbak Alisha. Terima kasih sebelumnya, semoga usaha Mbak Alisha nanti rame dan sukses. Soalnya di sini prospeknya bagus Mbak," ujar Bu Indah.


"Sudah selesai?" tanya Arsya yang baru saja menghampiri.


"Sudah, Mas. Aku jadi ambil ruko ini untuk membuka tokoku yang kedua." Alisha menjelaskan.


"Iya, semoga lancar usahanya."


Arsya mendukung saja apa yang Alisha lakukan selama semua masih dalam koridor yang benar. Toh ia bukan suami yang akan melarang istrinya bekerja meski secara finansial ia mampu menafkahi lebih dari cukup agar istrinya tidak perlu bekerja. Namun, apa yang menjadi kesukaan Alisha selama itu membuat istrinya bahagia, Arsya hanya bisa mensupport.


"Aamiin," jawab Alisha.


"Kita ke mana setelah ini?" tanya Salwa menyela pembicaraan suami istri itu.


Alisha nampak berpikir sejenak. "Kita ke toko dulu, baru nanti aku mau ajak Mas Arsya kulineran. Aku kangen sama masakan Solo," ujar Alisha.


Sesuai keinginan Alisha, usai pamitan dengan Bu Indah mereka segera meluncur ke toko.


Tidak sama seperti tadi mereka datang, kali ini Alisha, Arsya dan Jimmy ikut mobil Salwa.


"Biar aku yang nyetir." Jimmy mengulurkan tangannya secara gentle pada Salwa. Ini pertama kalinya ia akan menjadi supir calon istrinya itu.


Salwa tak lantas memberikan kunci mobil begitu saja. Ia justru menatap tangan Jimmy yang terulur, lalu beralih pada Alisha. Yang ditatap justru melengos pura-pura tidak tahu.


Salwa jadi kesal sendiri dan akhirnya menyerahkan kunci mobil pada Jimmy. Pria itu juga langsung membuka pintu depan untuk Salwa. Namun dengan sigap Arsya menyerobot masuk.


"Ngapain lo di situ, keluar, nggak, lo!" teriak Jimmy. Tidak rela duduk bersebelahan dengan Arsya. Kan ini sudah ia rencanakan biar bisa ngobrol dengan Salwa dan makin dekat dengan gadis itu.

__ADS_1


"Belum mahram, nggak boleh deketan," jawab Arsya sekenanya. Membuat Jimmy kesal tapi tak bisa berbuat apa pun.


Alisha yang menyaksikan dua pria yang bersahabat itu hanya bisa senyum sendiri. Meski ia tahu Jimmy kesal karena ulah suaminya, Alisha tak ambil peduli. Ia segera mengajak Salwa masuk dan duduk di bangku belakang.


Dengan raut kesal Jimmy terpaksa duduk di bangku kemudi dan menjalankan mobilnya menuju toko.


"Salwa lebih baik kamu pikir-pikir lagi sebelum kamu menyesal seumur hidup karena memilih cowok ini," ujar Arsya dan menunjuk Jimmy.


"Maksud, lo, apa?" sela Jimmy cepat. Nada emosi karena ucapan Arsya begitu jelas terdengar.


"Nah, kan, baru juga aku omongin. Ini salah satu sikap yang harus kamu pertimbangkan. Dia ini dikit-dikit marah," ujar Arsya memprovokasi.


Jimmy jadi serba salah. Ia pun langsung memasang wajah full senyum dan menoleh ke belakang. Tepatnya pada Salwa. Ingin memperlihatkan jika yang Arsya katakan semua bohong.


"Jangan percaya omongannya, dia hanya iri sama kita," ujar Jimmy pada Salwa.


"Udah biarin aja mereka. Memang seperti itu tingkah mereka. Kayak anak kecil." Alisha ikut bicara.


"Ngomong-ngomong, selamat ya buat kamu. Mas Jimmy orang baik kok," imbuh Alisha.


Salwa tak langsung merespon ucapan Alisha. Pasalnya ia masih mencerna ucapan Alisha dan Suaminya yang membicarakan dirinya dan teman kakaknya.


"Iya baik, bahkan dia baik ke semua cewek. Namanya juga buaya, kan," timpal Arsya. Ingin membuat Jimmy makin jengkel.


"Sya, bisa diem nggak sih, lo." Jimmy menekan suaranya agar tak terdengar kemarahan yang bercokol di hati pada sahabatnya ini.


"Lah kan gue bantu lo, memperkenalkan diri lo ke Salwa. Biar Salwa tidak kaget pas nanti tahu siapa lo sebenernya." Arsya membela diri.


"Wait ... wait ... wait ...." Salwa meminta Arsya berhenti bicara. "Maksud kalian apa, sih?"


"Maksud kami, kami ingin mengucapkan selamat atas hubungan kamu dan Mas Jimmy. Katanya semalam Mas Jimmy ngelamar kamu. Gercep ajah. Jadi terbukti dong Mas Jimmy gentleman," ujar Alisha menjelaskan.


"Lamaran? Diterima?" Salwa justru tertawa.


Membuat Alisha dan Arsya, juga Jimmy makin bingung dengan gadis ini.


"Jadi kalian pikir aku dan orang satu ini sudah bertunangan?"


Alisha mengangguk. Karena begitu juga cerita Jimmy sebelum tadi datang ke mari.


"Dia memang ngelamar aku, tapi aku belum mengiyakan," jawab Salwa jujur.


Alisha dan Arsya melongo seketika.


"Jadi aku dan Salwa itu ...." Jimmy berusaha menjelaskan.


Tetapi dipotong cepat oleh Salwa. "Aku memang dilamar oleh dia tapi aku menjawab ingin tahu dulu seperti apa dia. Jadi aku belum mengiyakan."


Penjelasan Salwa membuat pasangan suami–istri itu langsung diam. Tidak enak hati melanjutkan.


Alisha langsung mengubah topik pembicaraan. Sedang Arsya memilih mengalihkan perhatian dengan membuka jendela dan menatap keluar.


Begitu mobil berhenti di lampu merah, pandangan Arsya tertuju pada mobil di sebelahnya. Ia sampai melebarkan mata untuk memastikan jika yang ia lihat adalah benar.


Si rambut blonde bersama dengan pak Gunawan?

__ADS_1


Ada hubungan apa mereka?


__ADS_2