
Bab.41
Arsya mengemudikan mobilnya dengan tak sabar. Ia harus segera sampai ke rumah setelah mendengar penuturan Mamanya yang menangis sesenggukan.
Alisha yang duduk di samping Arsya hanya bisa berdoa semoga mereka diberikan keselamatan. Ia tahu benar perasaan Arsya ketika laki-laki itu memberitahu siapa yang meneleponnya tadi dan mengatakan sedikit apa yang terjadi.
"Ma ... Mama!" teriak Arsya begitu memasuki rumah orang tuanya. Berlari, ia segera menuju kamar sang Mama.
"Mama ...." Dilihatnya Sarah sedang menangis memeluk foto keluarga di lantai bersandar dipan.
"Arsya!"
Pria muda itu tidak tahan untuk tidak memeluk wanita yang telah melahirkannya. Dibawanya Sarah dalam dekapan. Ia usap punggung ibundanya dengan lembut.
"Papa ... Sya ... Papa," lirih Sarah dalam tangis.
"Tenang, Ma. Nggak akan terjadi apa pun sama Papa. Semua akan baik-baik saja." Arsya berusaha meyakinkan. Meskipun ia sendiri tidak tahu bagaimana akan nasib papanya ke depan, tapi ia hanya ingin mamanya tenang saat ini. Ia tidak mau melihat mamanya terlampau bersedih.
"Bagaimana nasib kita kalau papa ...." Sarah tak sanggup melanjutkan apa yang ada dalam benaknya. Ia terlalu takut untuk membayangkan kejadian buruk menimpa keluarganya. Terlebih suaminya. Pria itu selalu ada untuk menguatkannya dalam situasi apa pun. Tidak terbayangkan jika tidak ada Surya di sisinya.
"Sttt ... Mama jangan berpikir macam-macam. Semua akan baik-baik saja, Ma. Percaya sama Arsya." Arysa terus mencoba menenangkan. Kendati ia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Yang utama sekarang adalah menjaga mamanya untuk tetap kuat. Ia memeluk Sarah yang terus saja menangis.
Dalam dekapannya ia bisa merasakan tangis pilu sang ibunda.
Alisha yang berdiri tak jauh dari mereka berdua tak berani mendekat, ia hanya bisa menyaksikan betapa hancurnya ibu mertuanya dengan kejadian ini. Ia baru beranjak ketika terdengar suara ketukan pintu. Dengan sigap Alisha membuka.
"Selamat malam, Mbak," ucap Antonโajudan Surya.
Alisha hanya mengangguk.
Ia pun mempersilakan Anton masuk dengan gerakan tangannya.
"Anton!" seru Sarah saat melihat orang kepercayaan suaminya berdiri di ambang pintu. "Bagaimana Bapak?" Sarah seolah tak sabar untuk tahu kabar tentang suaminya.
"Saya pulang untuk menyampaikan kabar jika malam ini Bapak tidak bisa pulang, Bu. Beliau masih harus menginap di kantor KPK," jawab Anton.
__ADS_1
Seketika itu juga Sarah histeris dan langsung tidak sadarkan diri.
"Ma ... Mama!" Arsya panik melihat mamanya yang mendadak pingsan. Begitu juga Alisha dan Anton.
"Cepat telpon dokter!" Arsya memerintah.
"Siap, Mas."
Sementara Anton memanggil dokter keluarga, Arsya dibantu Alisha membawa Sarah naik ke atas ranjang.
"Ambilkan air untuk mama!"
Alisha pun segera berlari turun memenuhi perintah suaminya. Ia bawakan segelas iar putih untuk ibu mertuanya yang belum juga sadar.
Untung saja, tak butuh waktu yang cukup lama untuk dokter segera datang dan langsung mengambil tindakan penangan untuk Sarah. Tekanan darah Sarah tinggi. Mungkin dipicu berita yang ia dengar juga pikiran yang dipaksa bekerja keras karena ketakutan membayangkan masa depan suaminya.
Saat ini dokter menyarankan untuk dirawat di rumah saja sembari melihat kondisinya ke depan, namun jika semakin tidak stabil tindakan untuk dibawa ke rumah sakit harus segera dilakukan.
"Tolong jaga Mama, aku antar dokter Wicak dulu," pesan Arsya pada istrinya sebelum keluar mengantar dokter keluarga itu.
Ia memilih untuk mencari informasi apa yang sebenarnya terjadi pada papanya dan bagaimana papanya bisa ditangkap oleh KPK. Anton, yang merupakan ajudan papanya dan menjadi saksi kejadian saat Surya Bagaspati digrebek oleh anggota KPK bercerita secara jelas dan detil kejadiannya.
"Ini semua perang politik, Mas. Saya yakin Bapak dijebak oleh lawan politiknya. Mas Arsya sendiri tahu bagaimana panasnya persaingan politik tahun ini," ujar Anton.
Dahi Arsya mengerut. Memikirkan apa yang Anton katakan. Memang benar jika ranah politik sangatlah kejam. Bak medan tempur, di mana orang saling menjatuhkan demi meraih simpati untuk bisa naik ke tahta yang diinginkan.
"Oh ya, Mas, Bapak berpesan agar Mas Arsya menjaga Ibuk dan Mbak Alisha. Soal Bapak, biar jadi urusan Bapak dan juga Pak Hotman," sambung Anton.
Arsya mengangguk mengerti. Ia menepuk bahu Anton sebelum memilih meninggalkan ajudan itu sendiri dan kembali ke kamar mamanya. Begitu membuka pintu ia tak lantas masuk. Ia perhatikan istrinya yang sedang membantu Sarah untuk minum dan merebahkan tubuh Sarah kembali ke atas ranjang.
Mungkin ini sesuatu yang aneh. Orang yang dulu ia benci bahkan cuma ingin ia manfaatkan, sekarang adalah orang yang terlihat tulus merawat mamanya. Teringat sikapnya yang kasar pada Alisha, terbersit rasa bersalah pada istrinya itu.
"Tidurlah, biar aku yang jaga Mama," ujar Arsya yang akhirnya mendekat.
Alisha menoleh, sedikit mendongak untuk melihat wajah suaminya yang berdiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Aku akan tidur di sofa saja, biar kalau ada apa-apa Mas Arsya bisa panggil aku." Alisha menoleh ke arah sofa yang ia maksud.
Mengangguk setuju. Arsya mempersilakan Alisha beristirahat. Pastilah hari ini hari yang melelahkan untuk istrinya. Sejak pagi wanita itu di sibukkan dengan pekerjaan rumah, lalu harus mengikuti keinginan Arsya untuk berhias diri demi acara gala dinner yang mereka datangi. Setelahnya belum sempat Alisha beristirahat karena mereka dikejutkan dengan berita tentang penangkapan Surya Bagaspati. Belum lagi kondisi Sarah yang mendadak turun. Memaksa mereka menaruh perhatian lebih pada wanita paruh baya itu.
Di atas sofa, meski sudah berusaha merebahkan tubuhnya tapi rasa kantuk tak juga menjemput. Alisha pun kembali duduk, menoleh ke arah suami yang tengah menggenggam erat tangan ibu mertuanya. Terlihat kesedihan yang nyata dari balik punggung Arsya.
Menoleh, Arsya melihat Alisha terduduk menatap ke arahnya. "Kenapa belum tidur?"
Alisha hanya menggeleng.
"Pergilah ke kamarku, dan tidur di sana. Biar aku saja yang temani mama."
"Aku di sini saja, Mas." Alisha kembali menggeleng.
Alisha menggeser tubuhnya untuk memberi tempat pada Arsya yang menghampirinya. Pria itu duduk tepat di samping Alisha. Tanpa kata, pandangannya terus tertuju pada wanita berhijab, yang sejak beberapa bulan lalu ia nikahi.
Membuat Alisha salah tingkah, tapi takut untuk bertanya. Tak kuasa dengan sorot mata Arsya, Alisha memilih untuk menundukkan pandangannya.
Tangan Arsya terulur, meraih dagu Alisha dan membuatnya mendongak. "Terima kasih." Tatapan Arsya tak beralih. Terpaku pada manik indah sang istri.
Alisha yang tak mengerti maksud suaminya hanya mampu terdiam. Menatap bingung, tanpa tahu arti ucapan terima kasih Arsya.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Assalamualaikum wr wb.
Apa kabar pembaca AKAD TAK TERELAK?
Semoga selalu sehat serta dalam lindungan Yang Maha Kuasa.
Sebelumnya aku mau mohon maaf nih karena lama nggak up date. Bukan nggak mau nerusin kisah Alisha dan Arsya ya, tapi karena kemaren di bulan Desember, aku tuh udah memasuki kehamilan bulan ke-9 dan di saat itu tangan aku mulai kebas dan kesemutan(nggak bisa buat ngetik) makanya aku memilih hiatus dulu. Alhamdullilah tanggal 7 Januari kemaren anak ketiga ku udah lahir, so aku akan lanjut kisah mereka(Arsya dan Alisha).
Terima kasih untuk semua yang masih bersedia menanti kisah Alisha dan Arsya. Semoga sehat selalu untuk semua dan dilancarkan rejekinya ... Aamiin.
Tengkyuโค๏ธโค๏ธโค๏ธ Sayang Hee
__ADS_1