
Malam hari Arsya baru tiba di rumah. Dari bandara ia langsung ke rumah orang tuanya karena Alisha masih menginap di sana. Ketika baru turun dari mobil Arsya disambut oleh Mang Diman—petugas keamanan di rumah orang tua Arsya.
"Den Arsya, mau jemput Non Alisha, ya?" tanya Mang Diman.
"Iya, Mang. Ada, kan?"
"Iya, ada, Den. Tadi sore baru pulang jalan-jalan sama Ibuk."
Arsya mengangguk. Melihat banyak mobil berjejer, Arsya pun bertanya, "Mobil siapa, Mang?"
"Tamunya, Bapak."
"Oh ...." Arsya pun pamit dan memilih masuk dari pintu samping. Ia tak mau mengganggu papa dan tamunya.
Dari pintu samping, Arsya langsung menuju ke kamarnya. Tanpa mengetuk pintu pria itu masuk begitu saja. Saat itu didapatinya Alisha sedang berdiri di depan cermin sembari mengusap perutnya yang rata.
Dengan langkah mengendap-endap Arsya berjalan mendekati istrinya. "Sedang apa?" bisiknya tepat di telinga Alisha.
Wanita yang tadi fokus dengan perutnya hingga tidak menyadari kehadiran sang suami, terperanjat seketika. Panik melihat Arsya yang berdiri di sampingnya, Alisha segera menurunkan baju atasan yang sempat ia singkap ketika ia mengusap perutnya yang masih rata. Ia juga segera mengedarkan pandangan mencari di mana ia tadi meletakkan hijabnya sebelum salat.
Ketika ia menemukan hijab berwarna cokelat teronggok di atas ranjang, Alisha ingin buru-buru mengambilnya. Namun langkahnya terhenti ketika Arsya menarik tangan wanita itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku."
"Aku ... em ... tadi ...."
"Apa?"
Tatapan Arsya membuat Alisha gugup.
"Tadi aku hanya ...." Alisha ragu untuk mengatakannya.
Pria itu justru memutar tubuhnya. Kini posisinya berdiri tepat di belakang tubuh Alisha dengan menghadap ke cermin. Tangan pria itu dengan sengaja melingkar di perut rata Alisha. Kepalanya sedikit menunduk agar sejajar dengan istrinya.
"Kenapa dengan perut ini?" bisik Arsya sembari mengusap perut Alisha, sama seperti apa yang tadi ia lihat. Bedanya, Arsya tak menyingkap baju istrinya itu. Hanya mengusap dari luar.
Alisha berjingkat kala tangan Arsya menyentuh perutnya. Tubuhnya meremang seketika. Ia menatap takut wajah Arsya dalam cermin. "Mas, tolong ... lepaskan," lirih Alisha.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa dengan perut ini? apa sakit?" Arsya mengusap lagi perut Alisha.
"Ti-tidak."
"Lalu?"
"Ehm ... aku hanya ingin mengusapnya saja," jawab Alisha biar cepat urusannya dengan pria ini.
__ADS_1
"Oh ...," gumam Arsya. Pria itu belum juga melepaskan rengkuhannya pada Alisha.
"Sekarang, tolong lepaskan," pinta Alisha karena ia sudah merasa menjawab pertanyaan suaminya.
Mendengar permintaan istrinya, Arsya justru tersenyum. "Apa kamu tidak merindukanku?"
"Apa?" Spontan Alisha menoleh di mana wajah Arsya masih bersandar manja di bahunya.
"Kurasa seorang istri akan merindukan suaminya yang pergi selama tiga hari. Apa kamu tidak merasakan itu?" Arsya tersenyum tipis.
Rindu?
Alisha merindukan Arsya?
Mungkin benar, Alisha rindu aroma pria ini. Tiga hari tak melihat Arsya, tak mencium aroma suaminya membuat Alisha merindukan bau khas suaminya.
Arsya mendekatkan wajahnya pada wajah Alisha hingga pipi mereka saling menempel. "Misalnya, kamu rindu aroma tubuhku?"
Bagaimana pria ini tahu kalau aku merindukan aroma tubuhnya. Pria ini seperti bukan suaminya saja. Ketus dan galak. Apa berpisah tiga hari membuat kepribadian pria ini berubah.
"Mas, tolong lepas!" Serindu apa pun Alisha dengan wangi khas Arsya, ia juga tak berharap sedekat ini dengan Arsya.
Alisha memutar tubuhnya berharap lepas dari suaminya yang aneh ini. Bukannya menjauh, kini posisinya justru tak menguntungkan. Berhadap-hadapan dengan Arsya membuat tubuh Alisha semakin gemetar.
"Kalau di kamar, aku lebih suka kamu seperti ini. Tidak usah memakai hijab."
"Mas ...." ujar Alisha ketika suaminya ini tak berhenti bermain-main dengan rambutnya.
"Hmm ...."
"Tolong menjauh."
"Berjanjilah dulu, kalau hanya ada kita berdua kamu tidak usah memakai hijab."
Permintaan macam apa ini? Mata Alisha menatap penuh tanya.
"Iya, aku janji ... sekarang tolong menjauhlah." Alisha mendorong pelan tubuh Arsya. Ia tak ada pilihan selain membuat janji konyol itu dengan suaminya.
Segera Alisha meraih hijab di atas ranjang dan akan mengenakannya.
"Hei, bukannya kamu baru saja berjanji kalau kamu akan ...."
Belum selesai Arsya berbicara, Alisha menyela dengan cepat. "Aku mau turun, Mas. Mas Arsya kan baru pulang, jadi mau ambilkan minum buat Mas Arsya."
Arsya baru mengerti sekarang. "Baiklah."
__ADS_1
Secepat mungkin Alisha keluar dari kamar. Sampai di depan pintu kamar, Alisha mulai mengatur napasnya. Mengusap dadanya untuk bisa lebih tenang. Kenapa pria itu menjadi aneh, memang tidak semenakutkan sebelumnya tapi membuat Alisha merinding juga.
Kalau tidak salah ingat, dulu Arsya pernah bilang jika pria itu tak pernah menginginkan dirinya menjadi istri dan melarang Alisha untuk berharap lebih dari pernikahan ini. Lalu apa yang terjadi tadi, pria itu menggodanya?
Ah ... sudahlah, Alisha juga tidak ingin tergoda. Lagi pula, didekati saja Alisha takut bagaimana ia berpikir akan tergoda.
Alisha pun menepis semua pikiran-pikiran aneh tentang suaminya. Lebih baik ia segera turun dan mengambilkan minum. Sampai di dapur Alisha bingung sendiri. Kalau malam hari Arsya suka minum apa ya?
"Astagfirullah!" pekik Alisha dengan menutup mulutnya sendiri. Mengingat kalau malam pria itu lebih senang minum minuman beralkohol.
Akan tetapi tidak mungkin bukan Alisha membawakan minuman memabukkan itu. Di rumah mertuanya ini juga tidak ada barang seperti itu.
"Sedang apa, Mbak?" tanya Bi Sumi yang mendadak muncul.
Alisha terjenggit kaget. Kenapa hari ini ada saja yang mengagetkan dirinya. "Bi Sumi, ini mau ambil minum buat Mas Arsya."
"Oh, Mas Arsya sudah pulang?"
Alisha pun mengangguk. Segera ia mengambil air putih dan membawanya naik. Sampai di kamar, Alisha tak melihat suaminya tapi terdengar gemericik air di kamar mandi. Pasti pria itu ada di dalam. Alisha meletakkan minum yang ia bawa di atas meja, lalu ia naik ke tempat tidur. Sebaiknya ia istirahat saja.
Sebelum ia benar-benar tertidur, Alisha menyempatkan diri untuk menjawab pesan dari Mbak Ratih yang menanyakan kondisinya apakah sudah sehat atau belum. Saking sibuknya berbalas pesan, lagi- lagi Alisha dikagetkan dengan keberadaan Arsya di sampingnya.
"Chating dengan siapa?"
Alisha menoleh dan mendapati Arsya sudah berbaring di sampingnya.
"Mas Arsya kok di sini?"
"Kenapa?"
"Bukannya Mas Arsya tidur di sofa?" Alisha menunjuk sofa, tempat biasa Arsya tidur.
"Aku capek banget, pengen tidur di ranjang."
"Kalau begitu biar aku saja yang tidur di sofa." Alisha bangun. Ia memilih mengalah dan bergantian dengan Arsya.
"Nggak usah, di sini saja," sergah Arsya.
"Tapi, Mas ...."
"Kita hanya akan tidur, nggak ngapa-ngapain."
Alisha kembali berbaring di samping Arsya. Meski ia ragu dengan apa yang ia lakukan kali ini. Tapi, lagi-lagi aroma segar Arsya membuatnya ingin berada di dekat pria itu.
Apa ini efek dari kehamilannya. Apa ini juga termasuk ngidam. Ia tak bisa menolak bau khas Arsya.
__ADS_1