
Ini sudah hampir satu minggu sejak Arsya dan Alisha pulang dari Solo. Sejak itu juga, Anton belum bisa memberikan informasi yang cukup valid. Meskipun begitu Arsya tetap meminta bantuan Anton sampai menemukan kebenaran dari wanita berambut blonde itu.
"Pokoknya kamu harus cari informasi yang benar-benar valid tentang model itu. Bagaimanapun caranya," pesan Arsya yang ia kirim pada Anton. Gara-gara tugas Anton ini, ke mana-mana Alisha harus pergi dengan taksi, atau kalau Arsya sedang senggang pria itu sendiri yang akan mengantar.
Istri Arsya itu punya kesibukan baru sekarang. Ia sedang mencari designer baru untuk ia ajak bekerja sama dengan tokonya. Memberikan kesempatan yang besar untuk designer baru berkarya. Dengan memberikan ruang agar karya mereka bisa sampai pada konsumen.
Toko Alisha akan menampung hasil karya mereka agar mereka bisa terus berkarya tanpa risau ke mana harus menjual hasil karya mereka.
Arsya mendukung penuh ide Alisha itu. Sebab bisa memberdayakan talent-talent baru yang potensial. Membuka lapangan pekerjaan adalah hal baik untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Bahkan Arsya bersedia menjadi ikon toko milik Alisha. Namun wanita itu sedang menimbang-nimbang biayanya.
"Wah ... besar juga ya kalau pakai jasa Mas Arsya," ujar Alisha sembari menghitung-hitung berapa budget toko yang harus dikeluarkan jika benar akan menjadikan Arsya brand ambassadornya.
"Omset toko ku belum sebanyak itu untuk bisa membayar Mas Arsya," gumam Alisha. Ia menggigit pulpen yang sejak tadi ia gunakan untuk menghitung biaya yang akan ia keluarkan dan estimasi keuntungan yang akan dicapai.
Arsya yang duduk di sebelah Alisha bukan tak memperhatikan meski ia sibuk berbalas pesan dengan Anton.
"Kan aku sudah bilang semua bisa di nego. Nanti aku bilang sama Jimmy." Arsya menanggapi gumaman Alisha yang sebenarnya ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Sebelumnya Alisha memang sudah mengatakan jika ia tak enak hati dengan Jimmy selaku manajer jika tidak membayar Arsya sama sekali. Padahal Arsya sendiri tidak keberatan membantu istrinya itu. Lagi pula selagi ia mampu apa pun akan ia lakukan untuk Alisha.
__ADS_1
Istrinya itu saja yang bersikeras ingin semuanya profesional.
Alisha memutar tubuhnya agar bisa menghadap suaminya, dengan pulpen yang masih tergigit di antara bibirnya.
"Tapi kalau kamu mau bayar aku akan memberikan keringanan," ujar Arsya dengan senyum aneh tersungging di bibir.
Membuat dahi Alisha berkerut penuh tanya.
"Caranya ...." Tubuh Arsya condong ke arah Alisha dan secara reflek Alisha mundur.
Masih dengan senyuman anehnya, Arsya mengambil pulpen dari bibir sang istri. Lalu membuangnya begitu saja.
"Misalnya dengan ini ...." Jari telunjuk Arsya menyentuh bibir Alisha. Di mana tadi ada pulpen di sana.
"Iya, kalau kamu keberatan dengan uang yang akan kamu keluarkan untuk aku menjadi brand ambassador toko kamu, kamu bisa bayar dengan cara yang lain." Kembali Arsya tersenyum penuh arti.
Firasat Alisha jadi tidak baik. Rasanya ia paham sekarang ke mana tujuan suaminya. Bibirnya pun mencebik disertai tatapan malas pada Arsya.
"Kenapa, katanya kamu nggak mau kalau nggak bayar, tapi kalau bayar biayanya terlalu besar makanya aku kasih ide itu. Mudah dan pastinya kita sama-sama untung." Arsya menaik turunkan alisnya.
Alisha sontak berdiri sembari mengambil bantal sofa di dekatnya, lalu melemparnya pada Arsya. "Itu sih modusnya Mas aja!"
__ADS_1
Kesal karena merasa dipermainkan, Alisha beranjak dari sofa. Lebih baik tidur dari pada meladeni Arsya yang belakangan seperti maniak.
Iya, maniak. Bahkan saat di Solo, Arsya seperti tak memberinya waktu istirahat. Acara wisata kuliner yang dulu Alisha inginkan tak pernah terjadi karena Arsya lebih memilih kembali ke hotel dan berwisata dengan caranya sendiri.
Baru juga akan melewati Arsya, tangan pria itu lebih cekatan untuk menarik Alisha ke pangkuan.
"Mas ...!" pekik Alisha. Ia meronta karena Arsya langsung melingkarkan tangannya di perut Alisha. Mengurung wanita itu supaya tidak kabur.
"Tawaranku itu benar-benar win-win solution," bisik Arsya di telinga Alisha.
Win-win solution apanya. Alisha sudah tahu kalau yang dimaksud win-win solution oleh Arsya pasti lebih banyak menguntungkan pria itu.
"Aku pakai model yang lain saja yang bisa menekan budget," jawab Alisha asal.
Tetapi kalimat itu justru memicu rasa tidak suka Arsya. "Kayaknya kamu perlu dihukum."
"Mas Arsya!" pekik Alisha saat tubuhnya tiba-tiba direbahkan di sofa dengan posisi Arsya yang langsung mengungkungnya. "Memangnya aku salah apa sampai harus dihukum?" protes Alisha.
Tidak ingin menjawab pertanyaan istrinya, Arsya segera memulai hukuman.
"Mas, aku harus tahu dulu salahku apa?" Tangan Alisha mencoba menahan berat tubuh suaminya.
__ADS_1
Berkali-kali Alisha melempar protes dan meminta penjelasan tapi suaminya itu tak peduli. Kalau sudah begini, melawan pun percuma. Yang ada ia justru akan kehabisan tenaga.
Pasrah adalah jalan terbaik.