Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.66 Jodoh atau Kebetulan


__ADS_3

Malam itu Alisha tak jadi pulang diantar Fatih, karena Wanda melarangnya. Selain karena Fatih yang terluka akibat dirampok, semua demi menjaga kebaikan calon pengantin itu. Alhasil, Salwa lah yang harus jadi supir untuk mengantar Alisha pulang.


Semakin mendekati hari pernikahan, Alisha dan keluarga Fatih semakin mempersiapkan semua dengan matang. Hanya tinggal tiga hari lagi, dan hari ini Imran dan Laras datang dari Jakarta.


"Bagaimana dengan persiapannya Alisha?" tanya Imran yang baru tadi pagi tiba dari Jakarta.


"Alhamdulillah, semua sudah siap, Pakdhe."


"Gedung, katering, beres?" Laras ikut menimpali.


"Sudah Budhe. Tinggal cari baju buat Pakdhe sama Budhe saja."


Laras mengangguk paham. Alisha sudah bercerita semuanya tentang hilangnya cincin pernikahan yang sudah Fatih pesan, juga baju pengantin mereka yang terbakar termasuk baju seragam semua anggota keluarga. Karena waktu sudah sangat mepet akhirnya diputuskan untuk baju keluarga tidak jadi seragam.


Bahkan baju pengantin pun Alisha baru mencarinya kemarin ditemani Salwa dan Fatih. Sementara cincin pernikahan, Fatih memesan kembali dengan model yang berbeda. Yang penting semua sudah siap di hari H.


"Saudara kita yang di Solo sudah kamu kirimi undangan, kan?" tanya Laras lagi. Laras memang asli Solo jadi masih punya beberapa kerabat di kota itu.


"Sudah, Budhe."


Mereka lanjut jalan kembali menuju sebuah toko di sebuah pusat perbelanjaan di Solo.


"Ke sini Pakdhe." Alisha mengarahkan Imran dan Laras untuk masuk ke sebuah butik batik dengan brand ternama di kota Solo.


"Pakdhe sama Budhe silakan pilih baju yang Pakdhe sama Budhe inginkan," ujar Alisha.


"Harusnya kamu nggak perlu repot-repot begini, Alisha. Pakdhe sama Budhemu masih bisa pakai baju lama yang kami bawa dari Jakarta."


"Alisha nggak repot, Pakdhe. Alisha hanya ingin Pakdhe sama Budhe pakai baju baru untuk menyambut kehidupan baru Alisha." Wanita berstatus janda itu mengukir senyum di bibir, seolah memperlihatkan kebahagiaan akan hari bahagian yang sebentar lagi terjadi.


Imran paham niat baik keponakannya. Ia mengusap kepala Alisha penuh sayang.

__ADS_1


"Ya sudah, Buk, ayo kita pilih."


Laras dan Imran mulai mencari baju mana yang akan mereka beli. Sementara Alisha setia mengikuti mereka di belakang. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk menemukan baju yang pas sesuai apa yang mereka inginkan.


"Kok cuma satu?" tanya Alisha karena Imran hanya membawa satu potong baju batik, begitu pun dengan Laras.


"Pakde sudah bawa beberapa baju dari Jakarta, satu ini sudah cukup."


"Tapi, Pakdhe ...."


"Sudah, baju Pakdhe yang lain masih layak pakai dan masih bagus juga. Kalau kamu punya rejeki lebih, sebaiknya kamu tabung. Kamu akan menikah, kebutuhan kamu akan semakin banyak."


"Benar kata Pakdhemu Alisha. Lebih baik kamu tabung untuk masa depanmu." Laras menambahi.


Tidak ingin memaksa, Alisha pun langsung mengambil dua potong baju batik yang merupakan batik sarimbit dan membawanya ke kasir. Sementara Imran dan Laras menunggunya di dekat pintu keluar.


Alisha menyerahkan barang yang ia beli dan membiarkan kasir untuk menghitungnya. "Semua jadi sembilan ratus tiga puluh dua ribu, Mbak," ujar kasir.


"Sebentar, ya, Mbak." Alisha pun kembali mengobrak abrik isi tasnya untuk memastikan dompetnya ada atau tidak.


"Ehm ... Mbak, kalau misalkan saya titip barang yang saya ambil dulu bagaimana. Nanti saya kembali untuk membayarnya. Ternyata dompet saya tertinggal di rumah." Meski malu, inilah satu-satunya cara yang terpikir oleh Alisha. Sebab tidak mungkin ia menyuruh Imran membayar baju yang akan ia belikan.


"Ehm ... bagaimana, ya Mbak?" Kasir itu juga bingung harus bersikap bagaimana.


"Sudah, Mbak, pakai ini saja."


Alisha menoleh pada pria yang mengulurkan sebuah kartu pada si mbak kasir.


"Nggak apa-apa, pakai dulu saja. Kalau kamu tidak mau terima uangku. Anggap aja itu hutang, kamu bisa kembalikan kapan pun kamu mau," ujar Arsya yang seakan tahu kebingungan Alisha menerima kebaikannya.


"Ta ... tapi, Mas ...."

__ADS_1


"Percaya deh, aku nggak akan ambil bunga dari apa yang aku pinjamkan."


"Terima kasih, Mas. Nanti aku kembalikan jika sudah di rumah." Mau tak mau Alisha pun menerima bantuan Arsya agar ia bisa membawa pulang baju batik pilihan Pakdhenya.


Setelah menerima goodie bag berisi baju batik milik Imran dan Laras, Alisha segera menghampiri kedua orang tua itu. Diikuti Arsya di belakangnya.


Hal itu cukup membuat Imran terkejut. "Alisha, Nak Arsya ... kalian?"


"Bu- bukan begitu Pakdhe, Alisha tidak sengaja bertemu Mas Arsya di sini. Semua hanya kebetulan," ujar Alisha menjelaskan meski Imran belum mengatakan apa yang ia maksud. Alisha Tidak ingin ada prasangka buruk tentang dirinya dan Arsya.


"Iya, Pakdhe. Semua hanya kebetulan."


"Oh ...." Imran manggut-manggut. "Tapi, kok Nak Arsya ada di sini, sama siapa?"


"Arsya ada kerjaan di kota Solo Pakdhe, Arsya sedang jalan-jalan sendiri. Sebenarnya tadi sama Jimmy, tapi Jimmy ada janji sama orang lain."


"Begitu, ya."


"Iya, Pakdhe. Semua hanya kebetulan." Arsya mengulang ucapannya.


"Kita pulang, Pakdhe," ajak Alisha. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Arsya.


Imran mengangguk. "Baiklah Nak Arsya, kita pulang duluan."


"Silakan, Pakdhe."


Alisha pun mengajak Imran dan Laras untuk segera keluar dari toko. Ia hanya mengangguk singkat pada Arsya demi rasa kesopanan.


Lain dengan Arsya, pria itu justru tersenyum sendiri. Bagaimana bisa niatnya yang tadi jalan-jalan tanpa tujuan justru mempertemukan dirinya dengan Alisha.


Inikah jodoh, atau hanya sekadar kebetulan?

__ADS_1


__ADS_2