Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 110 Setiap Perbuatan Ada Balasannya


__ADS_3

Akhirnya berita penangkapan Gunawan tersiar juga. Baik media online maupun offline menyiarkan berita yang sama. Tentang kejahatan Gunawan yang telah menculik dan menyekap seorang gadis berkewarganegaraan asing.


Mendengar berita penangkapan papanya semakin membuat Anggi terpuruk. Ia tak pernah menduga jika sosok papa yang selama ini kagumi dan ia idolakan tidak lebih dari seorang penjahat.


Tak hanya kasus penculikan dan penyekapan, Gunawan juga dilaporkan karena telah menjual banyak gadis hanya untuk kepentingan bisnisnya. Semua Gunawan lakukan untuk memuluskan segala bisnis yang ia tekuni.


Tidak sampai di situ, terkuak juga jika Gunawan memiliki istri lain selain Nita. Bahkan memiliki seorang anak dari pernikahan diam-diamnya itu.


Semua berita itu sulit untuk Anggi percaya. Tapi fakta di depan mata tak mampu ia abaikan.


Setelah ditolak oleh Arsya mentah-mentah, kini ia harus menghadapi skandal papanya. Perasaan dan kepercayaannya hancur berkeping-keping. Serasa tak ingin lagi menatap dunia.


Di sisi lain, Jenna justru merasa lega dengan berita penangkapan Gunawan. Pada akhirnya pria tua itu mendapatkan hukuman atas perbuatan jahatnya.


Jenna sudah bercerita kepada Arsya dan Alisha tentang bagaimana ia bisa mengenal Gunawan. Pria yang menjadi teman lama ibu angkat Jenna itu mendapatkan wasiat untuk membawa kembali Jenna ke Indonesia agar bertemu keluarga kandungnya.


Semua informasi sudah Rossita tulis secara lengkap di dalam dokumen. Saat itu, Rossita tidak punya banyak waktu. Ia tidak bisa meninggalkan banyak pesan kecuali dokumen yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Bukannya memenuhi wasiat sahabatnya, Gunawan justru memanfaatkan Jenna ketika gadis itu sampai ke Indonesia. Paras Jenna yang cantik menimbulkan niat jahat di hati Gunawan. Ia lupa dengan janji kepada sahabatnya. Yang terpenting baginya ia bisa meraih apa pun yang menguntungkan. Hingga lupa bahwa semua perbuatan pasti ada balasannya.


"Sekarang kamu aman di sini. Di rumahmu sendiri," ujar Alisha memeluk adik iparnya.

__ADS_1


"Apa aku masih pantas tinggal bersama kalian?" Jenna begitu malu dengan keadaannya yang merasa hina. Sosok Alisha yang berhijab membuat Jenna semakin tidak pantas berada dalam keluarga kandungnya.


"Apa yang kamu katakan Jenna, kami keluargamu tentu saja kamu pantas berada bersama kami." Alisha mengusap lembut pipi Jenna.


"Tapi aku ...."


Alisha menggeleng. Tidak ingin Jenna melanjutkan ucapannya. "Biarkan aib itu tersimpan dan terkubur sedalam-dalamnya seperti Allah telah menutupnya. Jangan lagi dibuka apa lagi diumbar. Kami menerimamu seutuhnya."


Air mata Jenna luruh tanpa diminta. Sebaik itu istri kakaknya. Beruntung sekali kakaknya memperoleh istri seperti Alisha.


Sedangkan dirinya? Tidak pernah sekali pun Jenna berani membayangkan punya pasangan setelah semua yang Gunawan lakukan padanya.


"Naima, kamu adalah adikku. Sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi adikku. Kamu akan tinggal bersamaku mulai sekarang," ujar Arsya menenangkan.


Beberapa hari berlalu, Naima sudah mulai tenang tinggal bersama dengan Arsya dan Alisha. Ia juga sudah tahu jika kakak iparnya itu sedang hamil


Sesuai kesepakatan bersama nama panggilan Jenna sekarang adalah Naima, sesuai nama panggilannya ketika bayi. Tak hanya mengganti nama panggilan Jenna, Arsya juga mengganti designer interior untuk rumah barunya nanti.


Ia memutuskan kerjasama dengan Anggi dan tidak lagi memakai jasa wanita itu. Arsya ingin menjauh dari segala parasit yang bisa berkembang dan akan menghancurkan hubungannya dengan Alisha.


"Sayang, kamu tidak keberatan kan jika nanti Naima ikut tinggal bersama kita?" tanya Arsya yang sedang duduk berdua dengan Alisha menikmati drama di ruang tengah.

__ADS_1


"Jelas enggak dong, Mas. Naima kan adikku juga," jawab Alisha yang bersandar di dada Arsya.


"Terima kasih, Sayang." Arsya mengecup kepala Alisha. Berkali-kali hingga Alisha mendongak.


Mereka saling tertawa ketika mata mereka beradu pandang. Bagi Arsya ia tak akan mau melewatkan kesempatan begitu saja ketika sudah saling berhadapan.


Dipagutnya bibir Alisha begitu saja. Awalnya hanya gurauan tapi lama-lama kecanduan. Arsya tidak rela melepas Alisha begitu saja. Ia justru semakin menikmati manisnya bibir sang istri.


Bibir mereka baru terlepas kala mendengar Naima menjerit.


"Maaf ...," ujar Naima reflek ketika melihat adegan dewasa kakaknya.


"Aku tidak lihat apa pun," imbuhnya kemudian berlari kembali ke kamar.


Meninggalkan Alisha dan Arsya yang saling menatap.


Ini bukan kali pertama adegan dewasa mereka dilihat orang lain. Tentunya Alisha sangat malu. Ia pun memukul dada suaminya.


"Semua gara-gara Mas Arsya yang tidak bisa menahan diri!" Alisha bangun dan pergi meninggalkan Arsya karena kesal sekaligus malu.


"Sayang ... tunggu, ini bukan salahku," seru Arsya.

__ADS_1


Alisha tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan tanpa berpaling melihat Arsya.


"Sayang ...."


__ADS_2