
Jimmy sengaja memilih penerbangan pagi untuk dirinya, Arsya juga Alisha. Mereka langsung bertemu di bandara.
"Lo, ikut juga?" tanya Arsya. Seingatnya ia hanya meminta Jimmy memesan tiket untuk dua orang. Dirinya dan istrinya.
"Kenapa, nggak boleh?"
"Ngapain lo mau ke sana, kan gue lagi nggak kerja?"
"Lo lupa, gue punya usaha di sana. Yang jejer sama toko milik istri lo," jawab Jimmy nyolot.
Arsya memutar bola mata malas mendengar penjelasan Jimmy. Dipikirannya hanya; Kenapa Jimmy selalu ikut ke mana pun ia pergi. Bahkan di saat ia tidak bekerja sekali pun.
"Kenapa lo diem?" tanya Jimmy karena raut wajah Arsya yang menurutnya menyebalkan.
"Gue males nanggepin lo, padahal gue cuma mau pergi berdua bareng istri gue, ngapain juga lo ikut."
Jimmy menunjuk Arsya. "Bener-bener lo, Sya. Nggak ada terima kasih-terima kasihnya."
"Lah, ngapain terima kasih. Lo ganggu gue, kecuali lo nggak jadi ikut, baru gue terima kasih. Lo em ...."
"Mas, udah, tuh udah dipanggil," potong Alisha saat Arsya ingin melanjutkan debat anak kecil dengan Jimmy.
Akhirnya mereka bertiga segera naik ke pesawat dan melupakan sejenak perdebatan tidak penting mereka. Alisha pun sudah hafal dengan sikap Jimmy dan suaminya. Meski sering terlihat adu mulut bahkan saling mencaci tapi pertemanan mereka tidak diragukan lagi.
Jimmy dan Arsya benar-benar sahabat sejati. Mereka berdua seolah sudah saling tahu luar dalam masing-masing.
Kurang lebih satu jam, tepatnya pukul sepuluh mereka sampai di bandara Adi Soemarmo. Dari bandara mereka tidak lantas ke hotel justru langsung ke toko milik Alisha.
Sama seperti tadi ketika berangkat, di dalam taksi pun Arsya dan Jimmy saling beradu mulut.
"Bukannya lo ada urusan sendiri, ngapain lo ikutan gue sama istri gue? Nggak punya duit lo, sampai taksi aja nebeng," sindir Arsya.
"Nebeng, lo bilang. Heh, gue yang bakal bayar taksinya. Jadi lo yang harus tau diri, lo yang nebeng gue!" Jimmy yang tak terima langsung mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia mengambil dua lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya pada supir taksi.
"Nih, Pak, ambil! Nggak usaha pakai kembalian, semua buat Bapak!" ujar Jimmy tak mau diremehkan. "Noh, lihat, gue yang bayar ... gue!" Jimmy menunjuk dirinya sendiri.
"Halah, baru bayar segitu aja udah sombong!" balas Arsya.
__ADS_1
Alisha hanya bisa geleng-gelang kepala melihat kelakuan dua pria yang seperti anak kecil ini. Tapi lumayan juga buat hiburan dari pada sepi.
Sampai di toko milik Alisha, Arsya dengan sigap membantu istrinya turun. Cedera kaki yang kemarin Alisha alami membuat Alisha hari ini harus memakai tongkat untuk membantunya berjalan.
Begitu masuk ke toko, sambutan dari karyawannya begitu heboh. Lina dan Niken langsung berlari memeluk Alisha.
"Mbak Alisha kok ndak kasih kabar dulu kalau mau ke Solo?" ujar Lina dengan logat Solo yang kental.
"Iya, harusnya ngabarin kita dulu. Jadi kita ada persiapan, iyo to?" timpal Niken.
"Wes ... wes, ndak usah heboh. Sana, minggir, lanjut kerja. Reuniannya nanti saja," usir Salwa yang juga sudah berada di toko.
Lina mencebik. "Ish ... Mbak Salwa, ndak bisa liat orang seneng," ujar Lina menggerutu.
"Iya, nih, Mbak Salwa, ndak suka liat orang seneng." Niken kembali menambahi .
Di antara mereka bertiga ada dua orang gadis yang menjadi pusat perhatian Alisha. Ia belum pernah bertemu sebelumnya.
"Mereka siapa?" tanya Alisha dengan pandangan tertuju pada dua gadis yang berdiri di belakang Salwa.
Salwa pun menoleh. "Oh ... ini, Lilis dan Eni, mereka yang rencananya akan menjaga toko baru nanti. Sebelum mereka kita lepas untuk menjaga toko sendiri, aku training dulu mereka di sini," ujar Salwa menjelaskan.
Rencananya, Alisha akan membuka toko baru di kawasan kampus lain di Solo. Ini juga salah satu tujuannya datang ke Solo, selain untuk melihat perkembangan toko lama, Alisha akan melihat lokasi di mana rencananya toko akan dibuka.
Jimmy dan Arsya berdiri mematung memperhatikan interaksi para wanita di depannya. Sampai Lina menyadari jika suami dari bosnya belum dipersilakan duduk.
"Mbak, Mas Arsya ndak disuruh duduk?"
Di sinilah Alisha merasa bersalah karena telah mengabaikan suaminya. "Maaf, Mas ... ayo masuk, duduk di dalam saja." Alisha menunjuk ruangan yang dulu menjadi ruangannya.
Arsya setuju untuk masuk tapi Jimmy memilih untuk ke ruko sebelah. Melihat perkembangan cafe sembari menunggu Fatih. Manajer itu sudah membuat janji dengan partner bisnisnya.
"Aku ke sebelah dulu," pamit Jimmy pada Arsya dan Alisha tapi tatapannya tertuju pada Salwa.
Bukannya Salwa tak menyadari, tapi gadis itu sengaja membuang muka. Terlihat malas menanggapi Jimmy.
"Iya, Mas, silakan," jawab Alisha.
__ADS_1
Setelah itu ia mengantar Arsya ke ruangannya. Barulah Alisha kembali bergabung dengan para pegawainya. Saat itu juga, Niken yang sejak tadi membatin kondisi Alisha memberanikan diri bertanya.
"Kaki Mbak Alisha kenapa?"
"Keseleo," jawab Salwa mewakili. Gadis itu memang sudah Alisha beri tahu.
"Mbak Salwa, ih ... aku kan ndak tanya sama Mbak Salwa, kok nyahut aja kayak beo." Niken menarik satu sudut bibirnya ke atas.
"Eh ... berani kamu ya ngatain aku kayak beo, mau kamu gajinya dipotong!" ancam Salwa.
"Nah ... tu, Mbak, gitu itu Mbak Salwa. Dikit-dikit ngancem mau potong gaji." Niken mengadu pada Alisha.
"Lah emang kamu salah, makanya pantes dipotong gajinya." Salwa membela diri.
Mereka semakin riuh dengan saling melontarkan pembelaan diri masing-masing. Membuat Alisha memegangi kepalanya. Tidak suaminya dan Jimmy, tapi Salwa dan pegawainya pun sama sikapnya. Kekanak-kanakan.
Namun, dibalik semua itu Alisha senang karena rasa kekeluargaan yang terjalin di antara mereka. Obrolan mereka berlanjut hingga jam makan siang, dan Salwa membawa Alisha serta Arsya ke cafe milik kakaknya.
Untuk pertama kalinya Alisha bertemu lagi dengan Fatih. Setelah gagal menikah dengan pria itu.
Awalnya Fatih ingin menghindar tapi Jimmy menahan. Tidak ada yang tahu sikap Fatih itu selain Jimmy dan juga salah satu karyawan di cafe. Gadis muda itu terus memperhatikan Fatih terutama saat Fatih mulai menyapa Alisha.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Fatih meski terkesan canggung.
"Alhamdulillah, sehat, Mas," jawab Alisha.
Fatih pun menyapa Arsya yang kini menjadi suami Alisha. Demi mendistract kecanggungan di antara semuanya, Fatih segera memanggil pegawai cafe dan menawarkan minuman untuk semua tamunya.
Hanya beberapa menit rasa canggung itu tercipta karena selanjutnya Arsya justru mulai membuat suasana mencair. Arsya berbicara dengan Fatih sewajar mungkin seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka dulu. Arsya ingin memulai silaturahmi yang baru tanpa melibatkan masa lalu.
"Permisi, ini minumannya," ujar pelayan yang mengantarkan minuman. Mata gadis itu tak lepas dari Alisha. Sampai membuat Alisha bingung kenapa ditatap seperti itu.
Menyadari ketidaknyamanan Alisha, Fatih langsung memberi kode pada pegawainya.
"Terima kasih, Ocha, tolong minta Heri segera siapkan makanannya, ya," ujar Fatih. Ucapannya adalah kode untuk mengusir pegawai bernama Ocha.
"I-iya, Mas ... Eh ... Pak." Ocha pun pergi tapi matanya masih saja terpaku pada sosok Alisha.
__ADS_1
Tadinya mau mengabaikan saja, tapi ketika pegawai bernama Ocha itu kembali menatapnya aneh ketika mengantarkan makanan, mau tidak mau Alisha bertanya pada Salwa. "Dia kenapa?"
"Nanti aku ceritain," bisik Salwa.