
Kemarin Alisha menginap satu malam di rumah Imran. Di sana ia hanya ingin menenangkan diri sekaligus mencari nasehat dari pakdhenya. Hanya pada Imran, Alisha bisa berbicara sedikit lebih terbuka, sebab baginya Imran sudah seperti ayah sendiri.
"Jadilah istri yang mampu menyimpan aib suami. Ibarat pakaian, dia adalah penutup auratmu begitu pun sebaliknya. Kalau ada masalah usahakan untuk dibicarakan berdua, jika itu tidak mampu menyelesaikannya carilah orang yang dapat dipercaya. Jangan umbar aib dalam rumah tangga hingga menjadi tontonan banyak orang. Sebab akan jadi ladang fitnah bagi yang tak menyukaimu." Sebuah pesan dari seorang ayah untuk putrinya. Nasehat yang tak akan Alisha lupakan selamanya.
Ada lagi. Ketika Alisha meminta nasehat soal traumatik yang ia alami. Meski awalnya ragu karena takut akan membebani pria paruh baya itu, tapi akhirnya Alisha memilih untuk bercerita. Sebab ia tak akan mampu menanggung sendiri luka batinnya.
Ia mengatakan tentang ketakutan apabila berada dekat dengan sang suami. Ia juga tak mampu menjalankan kewajibannya sebagai istri akibat trauma peristiwa nahas dulu.
Imran pun menyarankan agar Alisha berbicara jujur pada suaminya tentang ketakutan yang ia alami. Semoga suaminya memahami dan ia tak menanggung dosa akibat tak melaksanakan tugas seorang istri.
"Semoga Nak Arsya bisa mengerti, syukur-syukur membantumu keluar dari rasa takutmu," ujar Imran malam itu.
Hari ini Alisha siap untuk pulang kembali ke apartemen setelah menyakinkan dirinya sendiri. Namun sebelum itu ia mampir dulu ke rumah mertuanya. Tadi siang, Sarah menghubunginya dan meminta Alisha datang ke rumah. Mertuanya itu bahkan mengirimkan supir untuk menjemput Alisha ke tempat kerja.
"Apa sedang ada acara, Pak?" tanya Alisha ketika mobil yang ditumpanginya masuk ke halaman rumah megah mertuanya.
"Tidak ada, Mbak."
"Tapi kok banyak mobil?" Alisha bertanya karena melihat banyaknya mobil berjejer di halaman kediaman Surya Bagaspati tersebut.
"Mungkin tamunya Bapak," jawab supir.
Alisha hanya menggut-manggut. Benar juga kata supir itu. Ayah mertuanya adalah seorang politisi jadi tidak heran jika ia mempunyai banyak tamu.
"Assalamualaikum," sapa Alisha ketika masuk ke rumah mertua yang pintunya terbuka.
"Waalaikumsalam," jawab Surya diikuti beberapa tamu yang ada.
Alisha segera menghampiri Surya dan menyalami mertuanya itu dengan takdzim. Lalu memberi salam pada tamu-tamu Surya dengan menangkupkan tangan di depan dada.
Meskipun sedikit kaget dengan banyaknya tamu, Alisha tak tertarik untuk tahu siapa dan ada kepentingan apa. Ia lebih memilih pamit setelah menanyakan keberadaan mama mertuanya.
"Assalamualaikum." Alisha kembali mengucap salam ketika menyusul Sekar yang sedang ada di ruang makan.
"Waalaikumsalam ... Alisha, kemari, Sayang." Sekar melambaikan tangannya. Wanita itu sedang menata meja makan yang di atasnya sudah tersedia berbagai menu yang sangat sedap dipandang mata.
Sama seperti ia menyalami Surya, Alisha pun melakukan hal yang sama pada Sarah. "Apa kabar, Ma?" tanya Alisha setelahnya.
__ADS_1
"Baik, kamu sendiri gimana?"
"Alhamdulillah sehat."
"Sebentar ya, Sayang." Sarah menunda percakapan antara dirinya dan Alisha. Ia melanjutkan kembali menatap meja makan, lalu meminta asisten rumah tangga untuk melanjutkan.
"Sumi," panggil Sarah.
"Iya, Buk." Wanita bernama Sumi itu bergegas dari dapur memenuhi panggilan Sarah.
"Kamu lanjutkan ya, tinggal tata piringnya saja. Aku mau panggil Bapak kalau semua sudah siap."
"Enjeh, Bu," jawab Sumi dengan logat jawanya.
Sekar menuju ruang tamu dan memanggil suaminya. Memberitahu jika makan malam sudah siap.
Surya pun langsung mengajak tamunya untuk segera makan dan menghentikan diskusi mereka.
"Mari, Pak," ajak Surya.
Serentak semua berdiri dan mengikuti tuan rumah.
"Mohon maaf saya tidak bisa menemani, soalnya menantu saya datang. Kami mau ngobrol, kangen soalnya," sambung Sarah dengan senyum ramah yang tak lekang dati bibirnya. "Ayo, Sayang," ajak Sarah pada Alisha.
Sebagai bentuk rasa sopan santun, Alisha menyunggingkan senyum dan pamit. Ia mengikuti Sarah di belakang. Rupanya Sarah mengajak Alisha ke ruang tengah di lantai atas.
Baru juga ia mendudukkan dirinya, seorang pelayan sudah datang membawakan minuman serta camilan.
"Minum dulu," ujar Sarah.
"Iya, Ma." Alisha mengambil gelas dan meminum sedikit isinya.
"Itu tadi tamu Papa?" tanya Alisha membuka percakapan.
"Iya. Bagaiman, kamu baik-baik saja, kan?" Sarah kembali menanyakan kabar menantunya.
Alisha mengangguk. "Alhamdulillah, Ma."
__ADS_1
"Syukurlah, kalau kamu tidak termakan gosip itu. Mama sudah sangat takut kalau kamu termakan gosip murahan seperti itu dan kemudian bertindak gegabah."
Alisha mencerna ucapan Sarah. Ternyata maksud dari menanyakan keadaannya adalah berkaitan tentang gosip yang sebelumnya melanda suaminya.
"Mama turut senang kalau kamu bisa memahami pekerjaan Arsya. Mungkin berita-berita semacam itu akan kembali muncul, sebab pekerjaan Arsya membuatnya rawan untuk diterpa gosip. Terlebih, ini adalah tahun politik di mana akan banyak pihak yang akan berusaha menjatuhkan nama baik Papamu." Sarah menjelaskan.
"Iya, Ma. Alisha paham."
Alisha mengerti sekarang. Selain profesi Arsya yang memang riskan untuk diberitakan secara negatif, status sebagai putra dari Surya Bagaspati tak luput dari incaran lawan politik sang ayah untuk menjatuhkan nama Surya di kancah politik.
"Waktu itu, begitu mendengar berita tentang gosip tersebut Mama langsung kepikiran kamu. Ini pertama kalinya Arsya kembali diterpa isu miring sejak ia menikah. Mama cuma takut kamu kaget dan tidak siap dengan semua ini. Bahkan saat itu Mama langsung menghubungi Arsya dan ingin tahu kabar kamu. Tapi Arsya tak menjawab malah mengabaikan Mama." Raut sedih terlihat saat Sarah mengingat kejadian itu.
Alisha meraih tangan Sarah dan mengusap punggung tangan mertuanya itu untuk menenangkan.
"Tapi Mama sangat bersyukur ketika kamu dan Arsya tampil bersama untuk memberikan klarifikasi," sambung Sarah.
"Terima kasih Alisha. Terima kasih sudah mau mengerti Arsya. Arsya beruntung punya istri seperti kamu."
Alisha hanya mengulas senyum. Ia sendiri bingung harus menanggapi seperti apa. Sebab dalam hatinya ia merasa sangat bersyukur memiliki mertua seperti Sarah dan Surya. Meski pernikahannya berawal dari kesalahan, kedua orang tua suaminya itu memperlakukannya dengan sangat baik.
Usai berbincang-bincang, Alisha pun pamit karena sudah terlalu malam. Tamu-tamu dari Surya sebagian juga sudah pada pulang. Tinggal beberapa orang saja.
Sarah sendiri yang mengantar Alisha keluar karena Surya masih menemani tamunya.
"Sampaikan salam Alisha untuk Papa, Ma," ujar Alisha ketika berpamitan.
"Iya, nanti Mama sampaikan. Kamu hati-hati, ya."
Seperti ketika ia datang, sewaktu pulang pun Alisha mencium tangan Sarah. "Alisha pulang, Ma. Terima kasih untuk lauknya. Mas Arsya pasti seneng."
Sarah melambaikan tangannya saat Alisha sudah masuk ke mobil. Sarah sengaja meminta supir untuk kembali mengantar Alisha.
Ada yang berbeda dari langkah Alisha kali ini. Terasa lebih ringan dari sebelumnya ketika ia menuju ke apartemen milik suaminya itu.
Sepanjang perjalanannya menuju flat miliknya, Alisha terus berbicara tentang hal positif pada dirinya sendiri. Meyakinkan diri jika semua akan terlewati jika ia menghadapinya dengan berani. Bukan dengan ketakutan yang selama ini menghantui.
"Ayo, Alisha, kamu bisa," batin Alisha saat ia membuka pintu apartemennya.
__ADS_1
"Mas Arsya ...."
Bukan hanya Alisha yang kaget, tapi dua orang yang sedang bercumbu di sofa ruang tamunya pun ikut terperanjat dengan kehadiran Alisha yang tak terduga.