
"Nggak, gue nggak mau ... gue nggak akan pernah menceraikan dia!" Suara Arsya meninggi. Emosi menyeruak ketika Jimmy datang membesuknya dengan membawa berita jika Alisha telah mengajukan gugatan cerai.
"Sya, mendingan lo lepasin Alisha. Biarkan dia bahagia."
"Apa maksud omongan lo, Bangsat!" Arsya berdiri. Ia meraih kerah kemeja Jimmy dan mengacungkan bogem ke arah manajer itu. "Brengsek, lo! Lo pengen gue cerai karena lo mau gantiin posisi gue, kan?"
Melihat sikap agresif Arsya, petugas polisi yang berjaga langsung mendekat. Berusaha mengamankan Arsya yang hendak melakukan keributan. "Jangan bikin onar!"
Arsya langsung melepaskan Jimmy. Mengangkat kedua tangannya ke atas, sebagai tanda ia menurut. "Maaf, Pak."
Begitu petugas polisi menjauh darinya, Arsya langsung mengusap kasar wajahnya. Menarik napas panjang untuk kembali mengontrol emosinya. Ia harus bersikap baik jika masih ingin bicara dengan Jimmy atau polisi akan membawanya kembali ke dalam sel.
Sementara Jimmy tetap bersikap tenang. Ia membetulkan kembali kerah kemeja setelah tangan Arsya terlepas.
Mereka berdua sama-sama kembali duduk. Arsya menatap tajam Jimmy yang berada di depannya. Sorot marah masih terlihat jelas di matanya.
"Sampai kapan pun, gue nggak akan pernah lepasin Alisha!" ujar Arsya tetap pada keinginannya.
"Lo nggak bisa gitu, Sya. Kalau lo terus menahan Alisha itu artinya lo pengen bikin hidup dia menderita. Ini bukan karena gue suka sama dia tapi ini untuk kebaikan kalian berdua. Lo tega nyuruh dia nunggu lo di tahanan?"
__ADS_1
Arsya terdiam.
"Dan lo nggak perlu khawatir soal gue. Gue sadar diri kalau gue ini sama berengseknya kayak lo, jadi gue pun nggak pantes buat Alisha."
Meskipun ingin marah, tapi Arsya berusaha meredam. Toh, apa yang dikatakan Jimmy benar adanya jika dirinya memang pria berengsek.
"Lepasin dia, Sya. Biarkan Alisha bebas dan memulai kembali hidupnya."
Arsya langsung tertunduk. "Gue mau berubah, gue akan bahagiain dia. Gue ingin memulai semua dari awal."
"Sya, lo jangan egois."
Arsya bungkam. Ia langsung berdiri dan kembali masuk ke sel tahanan.
"Arsya!"
******
"Alisha." Suara Imran diiringi ketukan pintu terdengar dari luar kamar Alisha. Setelah pulang dari rumah sakit Alisha kembali ke rumah Imran.
__ADS_1
"Boleh Pakdhe masuk?"
Tak mendapatkan jawaban dari keponakannya, Imran perlahan membuka pintu kamar Alisha. Dilihatnya Alisha duduk termangu di dekat jendela. Menatap hampa ke luar.
"Alisha." Imran menepuk pundak Alisha. Barulah wanita itu tersentak. Seakan tersadar dari lamunan.
Alisha menoleh sekejap pada Imran yang berdiri di sampingnya. Lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah semula.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Sampai Imran mulai membuka suara.
"Bersedih ketika mendapat cobaan itu boleh, menangis dan kecewa juga wajar, karena kita adalah manusia biasa. Tetapi jangan lama-lama, sebentar saja. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Setelah itu kembali pada Allah. Kembali mengingat Allah. Yakin jika semua yang terjadi padamu adalah kehendakNya."
Alisha tetap diam seribu bahasa.
"Pasrahkan semua pada Allah, kembalikan semua pada Allah. Percayalah, Allah akan memberikan yang terbaik."
Alisha mendongak, menatap mata pakdhenya yang begitu teduh. Tersungging senyum di bibir pria yang beranjak tua itu. Dirasakannya kedamaian ketika Imran mengusap kepalanya.
Benar apa kata pakdenya, ia harus bangkit. Tidak boleh terpuruk terlalu lama. Waktu terus berputra dan kehidupan terus bejalan.
__ADS_1
"Kamu yang terpilih, itu artinya kamu mampu melewati semua ini." Imran kembali menepuk pundak Alisha sebelum meninggalkan keponakannya itu kembali sendiri.
Alisha mulai merenungi setiap perkataan Imran. Juga mulai menimbang keputusan akan kelanjutan pernikahannya.